
Melepas penat, lelah dan luka luka Bimo saat ini. Bimo yang kini sudah sampai di hotel berbintang, tempat ia tinggal. Terpaksa mengobati lukanya sendiri, hal ini membuat Bimo teringat Alexa yang sedikit cuek, jika dirinya selalu terkena tusukan sapu lidi, bahkan saat membersihkan halaman belakang, kakinya tertancap batu tajam kecil. Istrinya selalu peka, dan mengobati lukanya meski dengan plaster.
'Ah, karena lebam dan luka luka, aku jadi rindu Alexa. Andai dia tau aku terluka seperti ini, sudah pasti akan di obati.' gerutu Bimo, yang membersihkan lebamnya sendirian.
Bimo bahkan saat ini dengan tubuh kekarnya, hanya menggunakan pakaian singlet putih, menampakan sisi bugar pria. Ia yang sedang mengompres wajahnya yang memar dan merah akibat melawan SUMO, terpaksa ia harus merawat dirinya sendiri. Bahkan sistem juga mentransfer imun agar tubuh Bimo bisa kembali beraktifitas dengan cepat.
"Beristirahatlah sejenak Bimo! Luka itu akan hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa jam, setelah bangun tidur. Hanya sedikit pegal pegal saja yang terasa. Esok kau harus mengecek kondisi Ansara, apakah ada perubahan untuk Misi Mu sebagai dokter, tidak boleh gagal menyembuhkannya." jelas Sistem.
"Ya, baiklah bos Sistem. Aku merasa gila, jika orang lihat, mungkin terkesan aku bicara sendiri. Hahaha, aku juga rindu wajah Alexa, besok aku akan mampir membawakan sesuatu untuk mertuaku itu, semoga dia tidak kaget. Karena aku bisa membeli Wine penfolds yang sering ia minum setiap acara arisan brutalnya itu." lirih Bimo, merasa sedikit terganggu jika ingat sikap mertuanya di mansion, yang memperlakukan dirinya bak hewan.
Bimo pun memeras handuk kecil yang sudah basah, berisi batu es kecil yang ia buntal kan ke dalam handuk, untuk di tempelkan ke yang luka, konon dengan batu es, rasa sakit dan perih sedikit berkurang. Apalagi setelah Bimo memarkir Motor besar ( moge ) hasil bertarungnya dengan Zack dan orang suruhannya beberapa saat lalu, ia bergegas mandi dan melempar pakaian lusuhnya ke sembarang untuk di loundry.
Bimo juga tidak bodoh, saat terluka ia sempat menutupi badannya yang penuh darah kering, dengan sweater jaket tebal, tidak lupa penutup kepala dan masker untuk tidak membuat orang yang melihat syok, apalagi ia tinggal di hotel saat ini.
Bruugh!!
Seketika tubuh Bimo ambruk begitu saja, hal itu membuat dirinya sudah terlelap di kasur empuk dengan posisi celentang, sebab tidak ada lagi kegiatan Bimo esok selain mengurus pasien untuk sembuh.
***
Sementara di tempat lain, mansion keluarga An, membuat Alexa kesal akan sikap sang mama yang datang membuat keributan, dimana ia kini sedang di kamar sang kakek.
"Alexa, kamu gimana sih? Udah dua bulan kamu ga berhasil bikin Kyle masuk ke dalam kantor, apalagi posisi Robi ipar kamu masa cuma dijadikan supir sih .. manager dong?" teriak Emily, menatap putrinya.
"Mama kita bicara di luar! Kasian kakek!"
Alexa yang sehabis mengelap kaki tangan sang kakek, ia membawa mamanya yang protes, jauh dari kamar sang kakek. Hal itu di luar membuat keributan antara ibu dan anak.
"Mama harusnya jangan salahin Alexa dong, mama lupa. Kalau perusahaan kakek ada paman Brian, dia itu Ceo nya di kantor. Sementara Alexa di kantor hanya tugas sebagai admin, karena kemampuan Alexa untuk memimpin kurang kompeten. Mama tahu kan, semenjak menikah kakek meminta Bimo yang handel masuk ke dalam kantor, tapi mama selalu halangi. Coba kalau kita tahu Bimo masuk, dan mama baik sama mas Bimo, mungkin Robi bisa jadi manager di kantor kakek."
__ADS_1
"Alah, kamu itu bisanya belain suami miskin kamu itu ya, nyesel kamu cerai sama dia?"
"Mah, udah dong! Bahkan Alexa dan Bimo memang belum bercerai secara agama, mana bisa bercerai, sementara mas Bimo juga hilang hingga kini, kenapa sih mama selalu belain kakak ga pernah mikirin perasaan Alexa?"
"Kamu itu ga pernah nurut sama mama, cari suami yang kaya. Ini malah nerima pria pilihan kakek, anak supir lagi. Atau jangan jangan kamu udah hamil anaknya ya ..?"
"Mah cukup! Pernikahan Alexa dan mas Bimo masih tahap mengenal, dia juga baik kok ga neko neko, udah Alexa mau kerja dulu!" pamitnya Alexa, membuat Emily geram.
Alexa bekerja seharian di kamarnya, bahkan ia juga bingung akan status dirinya pada Bimo, ia sebagai anak dari nyonya Emily yang dikenal glamor, merasa di anak tiri kan. Hingga sampailah menjelang sore, Alexa kembali ke kamar sang kakek, dimana beberapa hari Alexa tidak ke kantor, karena banyak masalah yang membuatnya bimbang akan kemungkinan.
"Alexa, kamu punya uang kan dua puluh juta, bagi kakak!"
"Kak, uang sebanyak itu buat apa. Alexa benar benar ga ada?"
"Jangan pelit kamu Alexa, kakak kamu lagi butuh itu." ujar Emily.
Deg.
"Apa, kenapa kamu baru bilang kalau klien tau si miskin itu menantunya? jelasin Alexa sama mama?" kaget Emily.
"Mama aja kaget, apalagi Alexa yang bingung. Bukannya mama anak kakek, kenapa bisa sampai enggak tahu. Alexa bingung dengan semua ini! kenapa kakek selalu meng'emaskan mas Bimo?" tanya Alexa, membuat semua diam.
Beranjak Alexa meraih dompetnya, yang di sambar sang kakak. Ia pun naik ke Lantai atas, menuju kamar sang kakek tentunya, membuat tatapan Alexa seolah membola.
Namun sesaat Alexa akan masuk, ia terkejut sudah ada dokter di sana, akan tetapi terkejut Alexa saat pria itu melepas rambut palsunya, dan berkata.
"Bagaimana dengan kondisi kakek An, baguslah sudah membaik bukan? semoga dalam beberapa hari, kakek An bisa sadar!" ujar Bimo.
Cekrek!!
__ADS_1
"Mas Bimo, jadi ka- mu ...?" syok Alexa, setelah membuka kamar sang kakek dan mendekat.
Bimo yang kepalang ketahuan, ia senyum menatap istrinya itu. Namun tak di sangka, mertua dan iparnya juga ikut nimbrung. Dimana mereka nampak kaget juga, akan keberadaan Bimo yang selama ini hilang.
"Alexa ... sini dompe ..." terdiam Kyle.
"Eh, si miskin ini disini? tu- tunggu... ada apa ini Alexa, kok dia disini?" teriak Kyle, kala ingin mengambil dompet Alexa tertahan.
Tak lama, Emily baru tiba pun kaget saat melihat menantu miskinnya berpakaian dokter?!
"Maaf, karena kalian semua berkumpul. Kenalkan saya dokter Bimo Setiawan, sekaligus suami dari Alexa. Mama mertua, maaf mengejutkan! tapi inilah kenyataannya, saya ada disini, selama ini saya merubah tampilan, agar bisa menyembuhkan kakek An."
Deg.
"Mas Bimo, sejak kapan kamu jadi dokter?" lirih Alexa, ia merasa malu seolah tertampar.
"Lupakan soal itu, oh ya. Saya membawakan ini untuk mama mertua. Dan kakak ipar maaf .. belum ada, sebab saya tidak tahu seleranya."
Emily, terkaget saat diberikan satu paperbag besar berwarna coklat, nampak ingin tahu Kyle pun penasaran apa isinya.
"Berat ... box nya, biar Kyle buka mah!"
"What .. satu botol Penfolds Grange Hermitage 1951, Shipwrecked Heidsieck 1907, dan Screaming Eagle Cabernet 1992. Mama ini kalau dia yang beli, bisa mencapai rumah tipe mewah ..." syok Kyle menatap sang mama.
"Enggak mungkin, dia beliin ini buat aku Alexa ..?" syok mertua Bimo, hampir setengah mati.
Hal itu, membuat Alexa dan Bimo saling menatap, apalagi sang mama mertua terlihat ingin pingsan, setelah tahu dihadiahkan 3 botol Wine termahal.
TBC.
__ADS_1