
'Jalan berlian sari nomor 123 blok 331, mansion Axio Bimantara.'
"Benar, ini adalah alamat sesuai. Tapi ... kenapa jalan menuju ke tempat ini amat becek, apalagi genangan air dan sampah berserakan. Apakah, aplikasi ponsel jadul itu membuat diriku ke sasar?" lirih Bimo, entah bicara pada siapa.
Bimo saat ini benar benar mengikuti alamat yang dikatakan sesuai map ponsel siemens c35, bahkan dalam hidup di dunia modern ia masih bisa mendapat petunjuk misteri dari ponsel misterius seri sepuluh tahun silam, yang mungkin jarang orang miliki.
Namun tekad bulatnya membuat ia yakin. Jika aksi menurut sesuai pesan ponsel itu, membuat Bimo tidak menyerah untuk mengubah kehidupannya, sebab menjadi pria miskin, selalu di hina dan kerap sekali di suruh suruh sudah Bimo tinggalkan di mansion keluarga An. Bahkan jika di ingat lagi Bimo kerap kesal akan dirinya dilahirkan hanya di pandang sebelah mata, wanita yang pernah ia puja karena cantiknya malah kejam seperti keluarganya juga, bahkan ia berharap dia istri yang berbeda di antara yang lain tapi nyatanya sama saja.
'Lupakan masa itu Bimo, mari kita masuk ada apa di dalam sana?'
"Lihatlah siapa pria gembel itu?" bisik beberapa orang, saat Bimo lewat.
"Benar, kita baru tahu dia datang, apakah dia cari keberuntungan ke tempat ini. Aneh sekali gang kampung kita ini di penuhi dengan pria gembel nan miskin." tambahnya, membuat kuping Bimo panas karena di jadikan bahan gosip.
Bimo sendiri hanya dapat menghela nafas panjang, mendengar bagaimana orang menilainya hanya dari apa yang mereka lihat, tanpa peduli apa kebenaran yang terjadi. Ah, jika ia jelaskan pun percuma otak mereka tidak akan sampai bukan? Jadi Bimo terus saja melanjutkan jalan menuju ruko pertarungan gamers.
Padahal bila dilihat dari bagaimana kondisi yang Bimo alami, di tambah kondisi ia datang dengan angkot berjalan kaki, akan lebih masuk akal bagi mereka bila menganggap Bimo sedang terjatuh dan perlu di rangkul bukan di hina lagi dan lagi.
Hingga tidak mengerti Bimo, bagaimana ada anggapan yang begitu melenceng muncul dari mereka orang-orang yang tidak sengaja melihatnya, di mana anggapan itu muncul begitu saja.
Mereka hanya utarakan pendapat mereka tentang Bimo, tanpa peduli apa atau bagaimana kebenaran semestinya. Itulah yang Bimo rasa dari mereka yang melihatnya, sehingga entah mengapa mulai mempertanyakan cara pikir masyarakat saat ini yang menurut Bimo telah begitu kacau.
“Dari pada menebak seperti itu, mengapa tidak datang dan menanyakannya langsung padaku?" gumam Bimo, tidak berharap mereka dengar. Tetapi setidaknya dengan seperti itu, Bimo tidak terlalu memendam pendapatnya, dan bertekad mereka yang bergunjing akan berlutut hormat di kakinya.
'Senyumkan saja Bimo, anggap saja mereka remahan sampah asli yang tidak perlu di dengar.' batin Bimo.
Mencoba menghiraukan, Bimo memilih terus berjalan. Hingga sebuah restoran cepat saji tidak terlalu besar tampak di daerah tengah kota, dan sebelahnya adalah ruko sempit terpampang tulisan Ruko Axio gamers.
Sebelum sebuah telepon berdering dari handphone milik Bimo, membuat dirinya menghentikan langkah untuk mengangkatnya terlebih dahulu.
“Halo Bimo, kemana saja kau? Mengapa belum sampai, tuan di dalam sudah mencarimu, permainan segera di mulai!"
Suara seorang pria, yang Bimo ketahui sangat tidak asing, suara system memerintah kini memandu ia untuk masuk ke dalam ruko tersebut. Apakah kini dia, sebagai rekan kerjaku, aku harus bertarung di sana.
“Aku? Aku sudah tidak terlalu jauh dari ruko becek, memerhatikan apakah benar ini tempatnya, tunggu saja sebentar lagi aku sampai di dalam! aku sudah di depan ruko yang di tuju."
Bimo menjelaskan pada system, bila tidak butuh waktu lama untuk dirinya tiba di sana, melihat dari ruko becek tersebut, ada penjual bakso cepat saji yang memang telah begitu dekat di sebelah ruko yang di tuju, apalagi beberapa orang pria gempal bertato sedang makan, dan menatap Bimo seolah melirik tajam karena terlihat asing.
“Baguslah, lebih cepat lebih baik. Tuan di dalam nampaknya tengah begitu murka, jadi kuharap kau tidak terlalu terkejut saat datang nanti. Beberapa dari orang akan melihat anda tercengang."
Tlith!!
Sambungan ponsel terputus setelahnya, membuat Bimo bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, hingga yang Bimo lakukan adalah berjalan saja dengan lurus.
Di mana Bimo, dengan segera mempercepat langkahnya saat itu.
"Hey pemuda, kau cari siapa kemari?" ujar seseorang.
"Saya ingin bertarung."
"Apa kau bawa uang, jujur saja pertarungan ini harus dengan modal uang atau emas batangan, di awal!"
Bimo terdiam, sedikit bingung. Namun ia mencoba percaya diri, dengan berkata tidak masalah dalam tas hitam dokter ia membawa semuanya.
"Bagaimana saya bisa cepat masuk, jika terlambat satu menit akan aku bilang kau orang yang membuatku lambat."
"Heish! masuklah!" pria itu membuka akses Bimo untuk segera masuk.
__ADS_1
Ding Ding ...
Langkah Awal Di Mulai ...
Menerima ... Tuan Pewaris Dewa Terdetek.
Loading ...
Memindai ...
Selesai ...
Pengenalan Tuan Status ...
Memindai ...
Loading ...
Selesai ...
Nama: Bimo Setiawan
Umur: 31 Tahun
Status Misi Ke 1 : Bertarung Game
Jenis Kelamin: Pria
Lawan Pertarungan.
Nama : Zack Bimantara.
Umur : 42 tahun.
Jenis Kelamin : Pria.
Status Asli : Penjaga Ruko Culas.
Memindai ...
Loading ...
Selesai ...
Ting!!
Bimo senyum miring, bahkan kini menatap pria yang berdiri dari kursi gamers, terkejut membuka kacamata melihat kedatangan Bimo. Dimana Bimo sendiri sudah tahu identitas lawan mainnya, dimana system mengungkap seluruh kebiasaan Zack Bimantara.
'Pria culas ini sudah merebut ruko yang bukan miliknya, baiklah akan aku lawan dia saat ini. Jika perlu aku miskin kan, agar ruko ini kembali pada pemiliknya.'
"Kemenangan untuk tuan Zack!" serentak suara dari arah kanan dan kiri mendukung.
"Kemenangan untuk tuan Zack, kalahkan orang asing itu!" kembali teriakan beberapa banyak pendukung, yang hampir membuat tekad Bimo melempem, wajar karena tidak ada yang ia kenal, sehingga tidak ada yang mendukungnya.
Hal itu membuat Bimo dan Zack berada di tengah saling menatap, bahkan sudah ada banyak orang mengelilingi ingin menyaksikan pertarungan game keberuntungan.
"Jadi kau Bimo. Kau tahu peraturan disini?"
__ADS_1
"Ya! aku tahu, ada emas 50 gram di tas hitamku, jika aku kalah di pertarungan pertama. Akan aku berikan itu jadi milik anda Zack!" lirih Bimo, seolah menantang.
"Hahaha, dasar orang baru. Lihat di meja ku. Jika pertama kau menang, aku berikan uang lima gepok berwarna merah. Dan emas seribu gram di permainan selanjutnya. Itu akan jadi milikmu, dan jika kau kalah. Kau tidak berhak injak ke tempat ini lagi. Sekaligus, nyawa kau sebelum keluar dari pintu ini akan tamat!" lirih Zack dengan penuh ancaman dan tertawa.
Bimo yang benar tahu kelicikan Zack, ia pun duduk seolah ingin sekali cepat bermain. Hal itu membuat Zack duduk, dan meminta asistennya mengeluarkan kartu poker raja andalan.
"Kocok kartu itu, kita lihat pemanasan kali ini. Apa dia akan baik baik saja setelah kalah di awal pemanasan game!" ketus Zack, membuat Bimo nampak tenang.
Tling!
Mata Bimo memakai kacamata, dimana system memberitahu transparan kartu yang sedang di kocok oleh asisten pria paruh baya, dimana Bimo nampak teliti melihat setiap angka yang diberikan berjejer dua garis. Dan saat itu Bimo langsung menatap Zack dengan kewaspadaan.
"Baiklah, silahkan anda dulu Tuan!"
"Kau ambil dua, setelah itu aku. Lalu kita buka bersama, bagaimana?" senyum Zack, membuat Bimo menekan lensa kacamata.
"Ok! siap! aku ambil kartu kelima dan ke delapan sebelah kanan. Dan dua sebelah kiri paling akhir."
Deng.
Setelah Zack ambil, ia seolah memberi kode untuk menukar pada asisten. Namun Bimo menahan seolah tahu, siasat Zack bermain game dengan aksi culas nan curang.
"Peraturan kita buka bersama tuan, tidak ada asisten kembali datang bukan?"
Deg.
"Benar, ayo buka Tuan Zack. Kemenangan pasti ada di Tuan!!" sorak seluruh orang yang menyaksikan bagai penonton yang mengelilingi meja mereka.
Zack tanpa basa basi, meminta dalam hitungan tiga membuka kartu bersamaan.
Tiga ...
Dua ...
Satu ...
Tling!!
Qyu ...
Qyu ...
Hasil kartu dari Bimo.
Enam ..
Delapan ..
Hasil kartu Zack, seolah membuat tamparan kotoran ke wajahnya, membuat pendukung Zack melotot tak percaya.
"Terimakasih, sesuai aturan kemenangan pemanasan. Aku ambil uang segepok anda tuan, dan emas 50 gram milikku di tas, akan tetap jadi milikku bukan?!"
Bimo merasa menang, ia seolah membuat Zack kesal meninju meja karena menerima kekalahan.
"Jangan senang dulu orang asing, masih banyak tahap permainan selanjutnya!" lirih Zack, menatap Bimo.
TBC.
__ADS_1