Menantu Kecil Seperti Dewa

Menantu Kecil Seperti Dewa
Kedatangan Kakek


__ADS_3

"Tidak ada yang percaya, apa yang kamu rencanakan setelah menjadi nyonya Bimo, apa kamu ingin menjadi Emily kedua ..?" tanya Bimo dengan penegasan.


"Baiklah, aku segera pergi. Maaf aku terlalu banyak permintaan, jadi kapan kamu ingin membatalkan pernikahan?" tanya Alexa.


"Ehm ... apa kamu ingin bebas setelah ini. Segera dikabulkan, maka dari itu pintu keluar di sebelah sana, lakukan tugasmu seperti biasa, jika bosan keluar saja dari mansion ini." tegas Bimo, yang memakai piyama tidur, meski Alexa terdiam kaku.


Benar benar penolakan Bimo, membuat hati jiwa dirinya ingin menangis saja. Alexa keluar dari kamar Bimo, melupakan ada sosok pria dari sebrang nya sedang memperhatikan.


Bimo pun sebenarnya tidak tega berlaku seperti itu, akan tetapi ia tahu jika Alexa belum sepenuhnya jatuh cinta padanya, ada baiknya Alexa sebagai keluarga saja, apalagi setelah tahu ia dibesarkan sejak kecil oleh sang kakek rasanya terkesan aneh, lebih pantas jadi keluarga.


Tok ..


Tok ..


Bimo pun melihat monitor, dimana sang kakek mencoba ke kamarnya. Ia pun segera memakai kaos agar terlihat sopan, lalu membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Kakek .. semalam ini mengapa kakek belum tidur?" tanya Bimo.


"Kau tidak izinkan kakek masuk dulu?"


"Aha! ya kakek."


Hingga An, yang kini duduk di sofa besar. Duduk melihat Bimo yang seolah bagai murid takut pada gurunya.


"Sampai kapan kamu tidak memikirkan keluarga, bukankan uangmu sudah banyak. Harusnya kamu pikirkan kebahagiaanmu Bimo, sudah seharusnya kamu mempunyai anak."


"Bimo, untuk apa mencari yang lain. Alexa dari keluarga yang baik, dia tidak jauh beda darimu. Lagi pula dia bukan sedarah, kakek angkat dia sama seperti mu, tidak satupun yang kakek berikan tidak baik untukmu. Kau tidak percaya pada Kakek?"


"Bukan begitu kek! kakek jangan khawatirkan Bimo, soal penerus dan anak. Usia Bimo belum tua sekali, jadi produksi Bimo pasti normal seperti pria lainnya."


"Dasar anak keras kepala, kau benar mirip seperti Hero. Hah, andai dia masih hidup. Kakek akan bertambah migren karena kalian tidak mau mendengarkan kakek."

__ADS_1


"Kek, pewaris dan pebisnis harus punya jiwa yang kuat, pendirian yang tidak boleh di atur. Hanya Bimo yang berhak mengatur, untuk kakek tidak memikirkan hal berat. Karena Bimo ingin kakek sehat selalu."


Kakek An, benar benar tidak habis pikir. Lagi pula ia sudah memberi keluasan pada Alexa untuk merebut hati Bimo yang sudah kaku, andai gadis itu tetap baik pada Bimo, mungkin Bimo tidak akan bersikap seperti ini.


Perbincangan pun semakin lama, Bimo dan kakek An, mereka berdua ngeteh bareng di balkon sambil membicarakan bisnis. Bimo memperlihatkan sebuah tablet kamera dengan alat kecil yang tersambung, yang mana tersambung sistem, demi melihat perkembangan usaha mereka dari jarak jauh. Bagai cctv berjalan yang bisa ia bawa kemana saja, dan bisa kapanpun ia lihat.


Ansara merasa Bimo sang cucu pemuda yang genius dan berbakat, bukan hanya pewaris saja, melainkan bisnis yang ia gunakan semakin berkembang, contohnya Klinik Keluarga Ansara kini berkembang pesat, seperti rumah sakit swasta. Ajang pertemuan dan para dokter bedah ikut bergabung melayani masyarakat menengah yang membutuhkan pertolongan, terlebih obat obat an yang Bimo berhasil ciptakan melalui herbal tidak sepenuhnya obat Pil dan syrup pada umumnya.


Bimo pun mengantar sang kakek ke kamarnya, dimana setelah nya Ia melihat Alexa yang membawakan obat untuk kakek dan satu gelas minum ke kamarnya, lalu kembali pamit saat Bimo dan kakek akan masuk.


"Dia cantik, sayang kamu tidak tertarik Bim. Apa perlu kakek cari kandidat lain?"


"Sebaiknya kakek tidur, soal itu nanti Bimo akan beritahu kakek." bisik Bimo yang menarik selimut untuk sang kakek.


Hal itu pula membuat Alexa yang diluar pintu kamar kakek An, mungkin bersedih mendengar perkataan Bimo.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2