
"Brian, apa kamu juga bersekongkol dengan kakek? kenapa aku baru tahu?"
Emily melihat Brian yang akan pergi di tahan, sebab ia merasa aneh, pernyataan cucu ayahnya benar benar masih hidup.
"Untuk hal itu, biarkan Tuan Ansara yang menjelaskan, saya hanya melakukan tugas semestinya. Permisi .."
"Tunggu tunjukan semua kepemilikan milik Bimo Itu .. aku yakin ini palsu dan akal akalan saja kan, kalian bersekongkol kan?" teriak Emily, menggema.
Brian pun duduk di sofa, dimana Emily dan putrinya Kyle ikut duduk. Lalu Brian menarik nafas, setelah tatap senyum pada dua wanita di depannya ini.
"Perihal hal itu, Hero Setiawan anak kandung tuan Ansara meninggal dalam keadaan di fitnah, kami juga sedang membuka kasus itu lagi, dimana pelakunya belum tertangkap. Sementara Hero setiawan tewas pasti ada provokator, dimana disini jelas ia memiliki saldo 2000 triliun, dan mengendap di bank ternama, maka Tuan Ansara membeli properti dan saham minyak yang kini berkembang, saldo nya setelah sepuluh tahun Silam sudah mencapai 5000 triliun, dan ini jatuh pada Bimo Setiawan. Nyonya bisa melihat jelas, aset nama sudah berpindah dari nama Ansara menjadi Bimo Setiawan." jelas Brian, membuat gelegap Emily.
'Tidaak benar .. tapi aku anaknya.'
"Mohon maaf nyonya, tapi tuan Ansara tidak membuatkan harta mati untuk nama anda, dimana anda juga tidak kuat statusnya bukan anak kandung Ansara. Permisi!"
Brian pergi, membuat penjelasan yang syok semua penghuni mansion, terlebih Kyle dan Robi baru tahu, jika mama mertua dan ibunya bukan anak kandung si pria tua itu.
"Jadi kita lah yang menumpang hidup mama, mama kenapa bohongin Kyle. Kalau tahu gitu, Kyle harus baik baik dengan Bimo, harusnya kita lebih dulu tahu, aku akan temui kakek, biarkan Alexa yang bercerai, dan aku yang gantikan dia saja."
"Kyle tidak bisa begitu, aku suami Mu." ujar Robi mengejar.
"Kenyataannya kamu hanya anak pegawai bank Robi, bahkan hutang keluargamu juga banyak. Aku bosan untuk bersabar lagi, kita bisa bercerai kalau kamu tidak bisa membahagiakan aku!"
__ADS_1
Dari atas, Bimo nampak melihat tiga manusia itu sangat serakah, bagaimana bisa ia melihat kekejaman, keserakahan di depan matanya. Kakek Ansara benar benar telah menyiapkan hal penting, jadi seperti inilah beliau merahasiakan dirinya dari orang orang licik, agar haknya tidak di rampas, meski sepuluh tahun silam ia harus bersusah payah dahulu.
Bimo pun terus melangkah ke kamar sang kakek, dimana saat itu terlihat Alexa sedang membersihkan sang kakek dengan telaten, me'lap kaki dan tangannya, bahkan mengganti pakaian, bahkan kerap mengganti selimut. Benar beberapa tahun belakangan memang Alexa terlihat tulus menjaga kakeknya, benar benar ucapan tetua selalu benar nyata. Jika salah satu cucu angkatnya ada yang tulus, untuk menjadi istri Bimo.
'Rupanya kakek sudah merencanakan ini semua?'
Saat Alexa membawa ranjang berisi pakaian, dan selimut kotor. Terlihat Bimo mendekatinya, dan Alexa sedikit gugup bercampur malu yang ingin sekali ia pergi jauh, tapi apa daya ia tidak punya tujuan apalagi sepeser uang pun, sejak paman Brian tidak memperbolehkan dirinya bekerja lagi di kantor sang kakek suatu alasan.
"Kamu mau kemana? bukankah aku bilang, tugasmu saat ini mengatur keperluanku?"
"Bimo .. ini kamar kakek, dan jangan seperti ini! sebab, aku merasa tidak pantas dan malu, jika masih di sisimu."
"Tidak pantas .. baiklah! kalau begitu setelah kamu mengatur pekerjaanku di klinik baru, carikan jodoh yang tepat untukku." senyum Bimo, melepas tangannya yang menempel di pinggang Alexa.
Benar benar panas rasanya saat ini Alexa, tapi sikapnya dahulu terlalu percaya pada mamanya, yang jelas bukan ibu kandungnya, membuat dirinya serba salah, dan canggung.
"Aku harus mencuci ini dulu!"
"Sudah ada suster di depan, tugas mengurus kakek sudah aku percayakan pada orang ku, juga aku tidak ingin bibi Emily, Kyle dan Robi atau siapapun yang masuk ke ruangan kakek. Selain aku dan kamu, aku percayakan kamu dan memberi kesempatan untukmu Alexa!"
"Kenapa kami tidak boleh masuk ke ruangan ayahku, kau ini siapa haah .." teriak Emily, membuat mata Alexa membola, terlebih Bimo membalik badan.
"Rupanya ada bibi Emily, karena aku tahu anda bukan mama mertua, karena anda bukan ibu kandung Alexa. Jadi jangan atur keputusanku! jika tidak suka bisa angkat kaki dari sini, kesempatan yang saya tawarkan kemarin tidak akan saya tawari kedua kalinya. Jelas saya punya bukti rekaman bibi, yang mengirim seorang suster gadungan menyuntik obat mematikan agar kakek tidak sembuh, untung saja aku lebih cepat datang! maka kalian semua tinggal disini, berada dalam pengawasanku!" jelas Bimo, membuat Emily dan yang lain syok.
__ADS_1
"Ja-jadi kau tahu .. ooh!" sesak Emily.
"Bimo, maafkan mamaku, meski dia .. bukan .. aku mohon maafkan kesalahan mereka!" ujar Alexa.
"Kenapa kamu yang minta maaf Alexa, kamu harus perbaiki hidupmu tanpa bujukan sesat mereka semua, jika kamu sayang pada dirimu jangan mudah terhasut, lakukanlah tugasmu jika tidak ingin kehilangan pekerjaan yang aku tawarkan menjadi asisten keperluan pribadiku di klinik Baruku, dan mansion ini!"
Bimo pun meminta yang lain keluar, dimana saat ini suster pribadi bernama Shasa datang, ia bertugas menjaga kakek Ansara, yang kemungkinan akan sadar dalam waktu dekat.
Alexa melihat Bimo meninggalkannya, sementara menatap mama dan kakaknya masih diam mematung penuh amarah.
"Mah, kak, dan ipar yang terhormat. Ada baiknya kalian berubah sikap, dan terima kenyataan. Kitalah yang menumpang hidup di mansion kakek An yang jelas kita bersalah menumpang hidup pada Bimo kali ini, karena mama juga aku menanggung malu, hutang kalian ditebus oleh Bimo, itu sebabnya aku memilih bertahan untuk menebus kesalahan, apa kata maaf itu sulit untuk mama ..? jelas jelas sikap kitalah yang tidak baik selama ini pada Bimo." jelas Alexa, membuat mereka masih mematung seolah sulit menerima kenyataan.
***
Esok harinya, keadaan pun semakin berubah. Dimana kali ini terlihat Bimo lah yang memegang kendali mansion An. Emily yang kini sedang bersih bersih, memakai jubah Asisten Rumah Tangga di dapur, terlihat diam saat Bimo kenyataannya ia adalah pewaris ayahnya.
Emily tak sangka, kehidupan keren dan glamor nya harus bertahan layaknya pembantu kini, hanya untuk bertahan hidup, hingga kini Emily sedikit menurunkan ego untuk menerima kenyataan, Bimo Setiawan adalah anak dari Hero si pria gila game yang mati sepuluh tahun silam. Hingga saat ini Emily masih memikirkan cara, agar Ayah An siuman, ia harus memiliki warisan meski 20% saja.
"Baiklah semuanya, lakukan tugas seperti sedia kala. Nyonya Alexa akan memerintah kalian, jangan lalai perintahnya jika tidak ingin di pecat! Alexa .. akan menggantikan perintah Ku, ketika aku bekerja. Dan kau Roby .. jadilah tukang kebun yang rajin!" ujar Bimo, saat ini senyum, ketika supir dan bodyguard mengawal Bimo.
Hal itu membuat kesal Roby, Kyle dan Emily yang tak bisa berkutik, sebab ia turun derajat menjadi pembantu di mansion.
TBC.
__ADS_1