
Matahari kini telah terbenam di ufuk barat berganti dengan rembulan yang menyinari kegelapan malam, selesai makan malam Kirana berusaha menelepon pihak asrama di kairo mesir untuk berbicara dengan sang anak yang berada disana. Apalagi sekarang di kairo mesir masih siang serta sang anak sudah pulang kuliah dan tentu sedang beristirahat di asrama, tanpa menunggu lama akhirnya telepon pun terhubung Kirana pun langsung berbicara bahwa ingin berbicara dengan sang anak.
"Assalamualaikum, Umi. Apa kabar kalian semua?" tanya Erisa di seberang sana begitu bahagia mendapat telepon dari sang ibu
"Walaikumsalam, nak. Alhamdulilah kami sehat semua nak, kamu sendiri apa kabar?" kata Kirana ikut terharu mendengar suara sang anak yang sangat dirindukannya itu
"Syukurlah Umi, Erisa seneng dengernya. Alhamdulilah Erisa juga sehat Umi" kata Erisa dengan suara yang begitu bahagia
"Ohh ya nak, Umi mau ngasih kabar kalau Kakak-mu insyaallah bulan depan mau menikah" kata Kirana memberi tahu kabar baik kepada sang anak
"Masyaallah, alhamdulilah Erisa seneng banget denger kabar bahagia ini. Orang mana mi calon kakak ipar Erisa" kata Erisa benar-benar bahagia mendapat kabar tentang saudara kembarnya mau menikah
"Lahirnya di Jakarta tapi pernah tinggal di Padang, namanya kalau gak salah Rendi Dewantoro" jelas Kirana kepada sang anak
"RENDI DEWANTORO" kata Erisa mengulang nama calon kakak iparnya
__ADS_1
Sekian lama mereka berbincang akhirnya waktu yang di kasih oleh pihak asrama habis, Erisa untung sempat pamit dengan sang ibu dan menitip salam untuk orang-orang di rumah. Erisa memilih duduk di atas tempat tidurnya sembari memikirkan nama calon kakak iparnya yang begitu mirip dengan nama cinta pertamanya, Erisa membuka buku diary miliknya dan memandangi lukisan wajah Rendi sewaktu mereka duduk di bangku SMP.
Hati yang tadi merasa sangat bahagia kini berganti menjadi khawatir dan takut, bagaimana jika memang benar kalau Rendi yang akan menjadi calon kakak iparnya adalah Rendi cinta pertamanya. Air mata Erisa pun tiba-tiba menetes seperti tau apa yang di rasakan oleh hati Erisa saat ini, namun Erisa tetap berusaha berpikir positif kemungkinan hanya nama yang sama jikalau pun memang orang yang sama artinya begini akhir takdir percintaannya.
Mau ikhlas tentu tetap harus meski akan sulit Erisa menerima kenyataan ini serta untuk membuka hatinya buat laki-laki lain, semuanya memang MAHA KUASA yang menentukan seperti rezeki, jodoh serta maut sebagai manusia hanya bisa berserah diri jika memang sudah di tetapkan kalau Erisa tak berjodoh dengan Rendi mau bagaimana lagi. Bahkan mau menjelaskan dengan kedua orang tuanya maupun saudara kembarnya tetap tak bisa, karena belum tentu Rendi juga menaruh hati kepada dirinya.
Apalagi selama ini hanya Erisa yang diam-diam mencintai Rendi sampai rasa itu tetap terpatri dihatinya yang paling dalam, Erisa menghela napasnya sejenak kemudian menghapus air matanya yang sudah membasahi kedua kelopak matanya. Erisa yakin MAHA KUASA punya cara tersendiri atas takdir kehidupannya nanti, sekarang dirinya harus kembali fokus mengerjakan tugas-tugas kuliahnya apalagi sebentar lagi dirinya akan lulus kuliah.
.
.
"Elisa, sini nak. Udah tadi Umi nelepon adik-mu" jawab Kirana sembari meminta sang anak duduk di samping dirinya
Elisa pun tanpa di minta tentu akan tetap duduk di samping sang ibu, apalagi malam seperti ini yang memang menjadi kebiasaannya menghabiskan waktu bersama sang ibu. Sedangkan sang ayah setelah sholat isya' selalu mengurung diri di dalam kamar entah apa yang sedang beliau kerjakan, Elisa senang sang ibu telah mengabari saudara kembarnya tentang kabar dirinya akan menikah bulan depan.
__ADS_1
Elisa guling di pangkuan sang ibu menikmati masa-masa dirinya yang masih bisa bermanja dengan sang ibu, jika sudah menikah nanti tentu dirinya akan jarang bisa menghabiskan waktu bersama sang ibu serta sudah tak bisa dirinya bermanja-manja. Apalagi Rendi sudah bilang tadi siang jika mereka jadi menikah, mereka akan tinggal di rumah yang di sediakan pihak sekolah yang di tempati Rendi saat ini.
Tentu setelah menjadi seorang istri Elisa harus patuh apapun yang di perintahkan sang suami nanti selagi itu tak di larang dalam agama mereka, Elisa memejamkan kedua kelopak matanya menikmati sentuhan tangan dari sang ibu yang mengelus pucuk kepalanya semnari bercerita tentang awal mula sang ibu bertemu dengan sang ayah dulu. Elisa begitu senang ketika selalu dapat cerita dari sang ibu tentang pengalaman sang ibu di masa lalu, sesekali ada iringan tawa jika ada yang lucu di dalam cerita sang ibu.
"Elisa gak nyangkah ternyata Abi begitu mencintai Umi" kata Elisa berkomentar tentang cerita dari sang ibu
"Iya, bahkan besar banget pengorbanan Abi kalian itu" jawab Kirana tersenyum mengingat sang suami yang dulu berusaha menaklukkan hatinya
Elisa kembali menganggukkan kepalanya, meski kisah cinta sang ibu dan sang ayah sangat berbeda dengan kisah cinta dirinya dengan Rendi tapi dirinya berharap Rendi juga mencintainya dari awal hingga sampai pernikahan mereka berumur puluhan tahun seperti kisah cinta kedua orang tuanya atau sampai maut yang memisahkan mereka.
"Udah malam tidur yuk, calon pengantin gak boleh bergadang dan gak boleh banyak pikiran" ujar Kirana kepada sang anak sembari mengelus pipi sang anak
"Iya Umi, Umi dan Abi juga gak boleh banyak pikiran. Elisa masuk kamar ya, mi" kata Elisa kemudian beranjak dari tempat duduknya setelah sang ibu mencium keningnya
Tiba di dalam kamar tidurnya entah mengapa perasaan Elisa tiba-tiba tak enak sekilas dirinya terpikir dengan saudara kembarnya, Elisa teringat akan masa-masa mereka masih sering bertukar cerita. Bahkan Elisa pernah berjanji dengan saudara kembarnya bahwa suatu saat nanti mereka akan menikah secara bersamaan dengan pasangan masing-masing, namun kini justru dirinya mengikari janjinya dulu dan justru akan lebih duluan menikah.
__ADS_1
Namun mau bagaimana jodohnya ternyata lebih dulu datang, menunggu saudara kembarnya itu sepertinya tak mungkin selain belum terlihat ada laki-laki yang telah menaklukkan hati saudara kembaranya. Saudara kembarnya juga masih fokus kuliah saat ini yang tinggal satu tahun kurang, Elisa berdoa semoga saudara kembarnya mengerti dan setelah kembali ke rumah ini nanti semoga jodoh saudara kembarnya secepatnya datang.
Elisa terus memandangi langit-langit di kamar tidurnya kebahagiannya yang sebentar lagi datang tapi hatinya masih diiringi dengan rasa gelisah, seperti ada sesuatu yang menganjal namun dirinya tak tau apa. Dan bukannya sang ibu tadi bilang bahwa mendekati hari pernikahan akan banyak cobaan dan ujian, karena itu semua hasutan syaitan yang tak mau manusia mengerjakan ibadah seumur hidup yaitu menikah.