
Dua minggu semenjak kejadian Erisa yang diam-diam menangis di dalam kamar karena nyeri di uluh hati melihat kemesraan Rendi serta melihat kedua orang tua mereka yang sangat peduli dengan keadaan Elisa, sekarang Erisa menyibukkan diri di sekolah TK yang telah lama berdiri bahkan kini Erisa menjadi kepala sekolah di sekolah TK itu dan sudah ada beberapa guru lain yang juga mengajar di sekolah TK itu.
Erisa termenung menatap luar jendela di kursi kebesarannya, Erisa selalu berpikir sampai kapan dirinya hidup sendirian seperti ini tanpa pasangan. Sedangkan orang-orang yang seusianya sudah pada memiliki anak, sedangkan dirinya boro-boro punya anak punya calon pasangan hidup pun tak ada sama sekali.
Karir bagus namun kehidupannya miris sekali karena terasa hampa dan kosong, Erisa pun tersadar saat mendengar bel berbunyi yang sangat panjang artinya sudah waktunya anak muridnya pulang sekolah. Erisa tak bergeming masih duduk di kursi kebesarannya, setiap hari memang selalu ia habiskan di sekolah TK sampai menjelang sore baru dirinya pulang ke rumah orang tuanya.
Kini hari sudah sore Erisa pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar dari di! ruangan sembari membawa tas milik dan beberapa buku yang biasa dirinya bawa ke rumah, tiba di parkiran Erisa segera menaiki sepeda motornya, kemudian segera dilajukannya sepeda motor itu meninggalkan sekolah TK dan menuju rumah orang tuanya.
Hanya berapa belas menit Erisa sudah tiba di halaman rumah orang tuanya, Erisa langsung memasukan sepeda motornya ke dalam garasi. Lalu Erisa turun dari sepeda motor sembari membawa tas dan beberapa buku yang tadi sudah dibawanya, Erisa memencet bel berapa kali namun tak kunjung di bukakan oleh kedua orang tuanya.
Mau tak mau Erisa mengeluarkan kunci cadangan yang memang selalu dirinya bawa, setelah membuka pintu Erisa segera masuk ke dalam rumah namun rumah terlihat sangat sepi. Mungkin kedua orang tuanya tidur pikir Erisa sembari terus melangkahkan kaki sampai dirinya mendengar orang berdebat di taman belakang, Erisa yang penasaran semakin mendekat.
"Aku udah berapa kali bilang, berhenti untuk mengurusi dan peduli kepada Elisa. Lihat akibat kamu peduli dengan Elisa, Erisa jadi gak pernah kamu peduliin, bahkan Erisa jadi selalu menghindari kita. Pulang ke rumah setiap sore dan langsung masuk kamar saking gak mau bertemu dengan kita, dan lihat sekarang usia Erisa sudah 30 tahun tapi belum juga mau menikah. Kamu sebagai Umi-nya seharusnya bertanya kenapa Erisa selalu menolak lamaran dari setiap laki-laki jangan diam saja, justru malah peduli dengan Elisa yang tak kunjung hamil. Elisa bukan tanggung jawab kita lagi, dia sudah punya suami. Kita sebagai orang tua angkat sudah lepas tangan, dan....." perkataan Dokter Perdi terhenti saat mendengar suara benda jatuh
Brak
Buku-buku yang di pegang Erisa seketika terjatuh di lantai saat dirinya mendengar perkataan sang ayah barusan.
"Erisa...." kata Dokter Perdi dan Kirana secara bersamaan menoleh ke belakang dan tak tau kalau ternyata ada Erisa
__ADS_1
"Apa benar yang sudah Erisa denger barusan Umi Abi, kalau kak Elisa hanya anak angkat kalian yang artinya bukan saudara kandung Erisa" kata Erisa yang masih begitu syok mengetahui tentang ini
Sang ibu langsung mendekati Erisa dan memegang kedua pundak Erisa sembari menganggukkan kepala, Erisa yang mendapat jawaban dari anggukkan sang ibu hanya bisa menutup mulutnya tak percaya akan tentang ini.
"Kenapa Umi dan Abi menyembunyikan hal tersebut" kata Erisa
Masih banyak pertanyaan di dalam pikiran Erisa namun dirinya harus menenangkan pikirannya dahulu, baru melanjutkan pertanyaan-pertanyaan lain kepada sang ibu dan sang ayah.
"Panjang ceritanya" jawab Kirana sembari menghela napas panjang
"Jika kak Elisa bukan anak kandung Abi, siapa yang menikahkan kak Elisa kemarin?" tanya Erisa lagi yang masih penasaran
"Wali hakim" jawab Kirana lagi
Sang ibu hanya menganggukkan kepala, Erisa benar-benar tak percaya jika kedua orang tuanya maupun Rendi telah menyembunyikan hal sangat penting ini dari Elisa yang seharusnya tau segalanya.
"Apa orang tua kak Elisa tak mencarinya?" tanya Erisa lagi
"Tidak karena hanya ibunya yang menitipkan Elisa disini, dan ada yang bilang ibunya sudah meninggal" kata Kirana mengingatkan kejadian berapa puluh tahun yang lalu
__ADS_1
"Seharusnya Umi dan Abi kasih tau kak Elisa, apalagi ibunya sudah meninggal dan sebagai anak kita harus mendoakan mendiang orang tua" kata Erisa yang kecewa kepada kedua orang tuanya
"Abi sudah lama ingin memberi tahu Elisa, tapi Umi-mu bersikeras tak membolehkan Abi" kata Dokter Perdi yang dari tadi diam akhirnya bersuara
"Kalau Umi atau Abi gak bisa memberitahu kak Elisa, Erisa yang akan memberitahunya nanti" kata Erisa
Sang ayah dan sang ibu terdiam saat mendengar Erisa berkata seperti itu, namun setelah berapa menit kemudian mereka pun menganggukkan kepala setuju dengan perkataan Erisa. Kemudian Erisa meminta bukti dengan sang ibu jika memang Elisa bukan saudara kandungnya, sang ibu pun beranjak ke kamar hendak mengambil sesuatu di dalam kamar utama.
Setelah dapat benda yang dibutuhkannya segera di sodorkan sang ibu selembar surat itu dengan buku nikah milik Elisa kepada Erisa, Erisa segera menerima dua benda itu lalu dirinya memilih membuka buku nikah itu dulu yang tertulis disitu nama Elisa binti ibunya tentu membuat Erisa semakin terkejut kenapa bisa binti ibunya bukan ayahnya.
Kemudian Erisa melanjutkan membuka sebuah surat itu dan di bacanya dari atas sampai akhirnya, yang kini dirinya tau ternyata Elisa adalah anak hasil dari pemerkosaan laki-laki yang tak bertanggung jawab.
"Tapi mengapa selama ini Umi lebih sayang dengan kak Elisa dari pada Erisa yang anak kandung Umi" kata Erisa yang mulai mengeluarkan beban yang selama ini dipendamnya
"Tidak seperti itu Erisa, Umi juga sayang dengan Erisa" kata Kirana kemudian menggenggam jari jemari milik Erisa
"Erisa sebagai anak bisa melihat Umi bahwa Umi lebih ke kak Elisa mungkin hanya Abi yang sayang dan peduli dengan Erisa" kata Erisa kemudian air matanya mulai menetes
"Maafin Umi sayang" kata Kirana yang memang sadar bahwa dirinya terlalu peduli dengan Elisa tapi mengabaikan anak kandungnya sendiri
__ADS_1
"Erisa mau ke kamar mau istirahat" kata Erisa segera beranjak dan melangkahkan kaki ke kamar tidurnya
Tiba di kamar tidurnya Erisa segera menumpahkan rasa kecewanya terhadap sang ibu yang ternyata selama ini lebih sayang dengan anak angkatnya ketimbang dirinya yang anak kandung, Erisa menangis tak tau lagi harus bagaimana bersikap dengan sang ibu yang telah membuatnya kecewa.