Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 53


__ADS_3

Terlalu lama berdiri membuat Rendi merasakan sakit kepala lagi, Rendi pun segera meletakan kembali pakaian milik Elisa ke dalam lemari lalu dirinya melangkahkan kaki ke arah ranjang tidur. Entah mengapa kepala Rendi lagi-lagi terasa sakit, bahkan sepertinya ini terasa lebih sakit luar biasa.


"Aw....." rintih Rendi sembari memegang kepalanya


Bertepatan sekali dengan pintu kamar Rendi di ketuk dari luar, Rendi turun dari ranjang tidurnya sembari memegang kepalanya yang terasa sakit itu lalu di bukakannya pintu yang sempat di kuncinya tadi sewaktu dirinya mandi tadi. ART yang bekerja di rumah Rendi pun muncul dan masuk ke dalam kamar hendak mengambil nampan dan mangkuk kotor bekas makan Rendi tadi, namun saat masuk melihat majikannya hampir terjatuh ART itu pun membantu Rendi sampai ke ranjang tidur.


"Bik, panggilkan Dadang. Saya minta tolong antar ke rumah sakit, kepala saya sakit sekali" kata Rendi yang masih merintih kesakitan meminta ART nya itu memanggil satpam yang bekerja di rumahnya


"Baik, tuan" jawab ART itu sembari membawa nampan berisi mangkuk kotor itu dan bergegas keluar dari kamar majikannya


Tiba di dapur ART itu buru-buru meletakkan nampan berisi mangkuk kotor itu ke wastafel, lalu ART itu melangkahkan kaki menuju halaman depan hendak memanggil Dadang satpam di rumah ini namun karena terlihat raut wajah ART itu sangat cemas. Erisa yang tengah menonton TV di ruang keluarga beranjak dan menghampiri ART itu, ART itu pun menjawab seadanya dan membuat Erisa jadi ikut khawatir.


Dadang buru-buru masuk ke dalam rumah setelah di beri tahu ART yang bekerja di rumah Rendi bahwa majikan mereka kesakitan kepala, kemudian Dadang masuk ke dalam kamar utama yang memang sedikit terbuka itu dan membantu majikannya untuk berjalan menuju mobil yang telah di siapkan oleh Dadang. Erisa yang berdiri di depan kamar Rendi tentu sangat khawatir melihat Rendi pucat pasi, bahkan keringat dingin menetes dari kening Rendi dan buru-buru Erisa mengikuti Dadang yang membawa Rendi.


"Ngapain kamu, ikut segala. Sana keluar dari mobil ini, aku bisa urus diri sendiri. Aww...." kata Rendi yang sempat-sempatnya melarang Erisa untuk ikut ke rumah sakit

__ADS_1


"Aku mohon Mas, untuk kali ini saja biarkan aku menemani mu. Cepat jalankan mobilnya, Dadang" kata Erisa yang tak mau berdebat dahulu dengan Rendi


Rendi yang masih merintih kesakitan sudah tak sanggup membantah atau pun mengusir Erisa, karena saat ini dirinya merasa benar-benar sakit bahkan ingin sekali kepalanya itu di benturkannya agar rasa sakit itu hilang. Beruntung jalanan saat ini tak macet sehingga berapa belas menit mobil yang membawa Rendi dan Erisa sudah memasuki halaman rumah sakit, setelah mobil berhenti buru-buru Erisa turun dan memanggil perawat agar membawa brangkar untuk Rendi.


Brangkar yang membawa tubuh Rendi pun segera di dorong oleh perawat dan Erisa menuju ruang penanganan, setelah sampai Erisa terpaksa menunggu di luar dan melihat Dokter menangani Rendi melalu sela pintu kaca yang ada di ruangan itu. Erisa terus mondar mandir di depan ruang rawat Rendi menunggu Dokter memeriksa keadaan Rendi yang sepertinya masih merintih kesakitan, Erisa juga berdoa semoga Rendi baik-baik saja karena dirinya tak sanggup melihat keadaan Rendi tadi.


Krekk


Terdengar pintu ruangan itu terbuka dan memunculkan Dokter dengan perawat, kemudian Erisa menghampiri Dokter itu dan Dokter pun meminta Erisa ke ruangannya untuk menjelaskan keadaan Rendi saat ini. Erisa pun mengikuti langkah kaki Dokter itu sampai ke ruangan Dokter, tiba di dalam ruangan Dokter itu lalu Erisa pun segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Dokter yang terhalang oleh meja.


"Gimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Erisa dengan raut wajah yang khawatir


"Iya Dok, hampir setengah tahun lebih dia mulai jadi suka minum-minuman beralkohol" jawab Erisa yang sangat takut terjadi apa-apa dengan Rendi


"Pak Rendi terkena penyakit liver bahkan tekanan darahnya sangat tinggi saat ini" jelas Dokter itu membuat Erisa begitu syok

__ADS_1


Bruk


Erisa pun pingsan setelah mendengar penyakit yang di derita oleh Rendi saat ini, penyakit liver sangatlah berbahaya dapat menyebabkan komplikasi penyakit ketika hati mulai gagal berfungsi dengan baik tentu organ lain akan terpengaruh apalagi jika penyakit hati tidak segera di tangani akan berbahaya bagi tubuh. Gagal ginjal salah satu penyakit komplikasi yang mungkin muncul dari penyakit liver atau hati, belum lagi ke organ tubuh yang lain.


Dokter pun terkejut melihat Erisa tiba-tiba pingsan, segera Dokter itu keluar dari ruangannya memanggil salah satu perawat yang berlalu lalang meminta sebuah brangkar untuk membawa tubuh Erisa. Lalu Dokter itu pun membawa Erisa ke salah satu ruang perawatan dan mulai memeriksa keadaan Erisa, Dokter merasa lega Erisa hanya syok saja mendengar kenyataan tentang penyakit Rendi.


"Saya kenapa, Dok?" tanya Erisa setelah berapa menit akhirnya bangun sembari beranjak duduk


"Ibu Erisa tadi pingsan di ruangan saya, mungkin bu Erisa sedikit syok atas penjelasan yang saya sampaikan tadi. Jangan terlalu banyak pikiran karena saat ini bu Erisa tengah mengandung kasian bayinya jika bu Erisa stres, saya permisi masih ada pasien yang harus di periksa" kata Dokter itu kemudian pamit undur diri


Erisa menganggukkan kepala, dirinya sangat bahagia mendengar kabar yang di sampaikan Dokter barusan yang mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung. Erisa pun langsung mengelus perutnya yang masih tampak rata itu, dirinya benar-benar tak menyangka akhirnya benih Rendi tumbuh di dalam rahimnya.


Saat mengingat Rendi, Erisa baru ingat bahwa dirinya ke rumah sakit tengah menemani Rendi yang sedang periksa. Erisa pun segera turun dari brangkar itu dan melangkahkan kaki keluar lalu menuju ruangan yang di tempati Rendi, tiba di ruangan itu Erisa langsung masuk karena dirinya telah melihat dari kaca yang ada di pintu bahwa Rendi tengah terlelap.


Hari ini Erisa mendapat dua kabar, yang pertama kabar buruk tentang keadaan Rendi yang terkena penyakit liver dan darah tinggi. Kabar kedua dirinya mendapat kabat bahagia yang saat ini dirinya tengah mengandung benih Rendi dan dirinya akan berjanji menjaga janin dalam kandungannya dengan baik, agar nanti bisa lahir dengan selamat.

__ADS_1


"Cepat sembuh, Mas. Aku janji akan selalu menemani mu dan merawat mu sampai kamu sembuh" kata Erisa sembari menggenggam jari jemari milik Rendi dan menitikkan air mata


Rendi yang mulai sadar mendengar perkataan Erisa barusan, dirinya benar-benar tak menyangka bahwa Erisa masih mau menemaninya serta merawatnya dan kini dirinya baru tau bahwa Erisa memang sangat mencintainya dengan tulus.


__ADS_2