Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 8


__ADS_3

Bunyi bel panjang tanda waktu pulang bagi seluruh murid serta para dewan guru SMP Negeri 1 Pancasila, Elisa yang tengah berada dalam ruang kelas tak lupa memberi tugas pada murid jika mengakhiri mata pelajaran yang diajarkannya. Selesai membaca doa dan seluruh murid tak ada lagi di dalam ruang kelas Elisa segera bergegas keluar dari ruang kelas itu dan menuju ruang kantor, tiba di ruang kantor ternyata hanya tinggal beberapa dewan guru sedangkan yang lain sudah banyak yang pulang.


Setelah merapikan buku beserta meja kerjanya Elisa kini ingin segera pulang ke rumah, Elisa berjalan sendirian di koridor sekolah menuju tempat parkiran dimana sepeda motor milik sang ibu yang kini selalu dipakaianya terparkir. Elisa sangat bahagia hari-hari yang selalu dijalaninya sekarang lebih berwarna meski masih sedikit ada rasa sakit yang dirasakannya jika kembali ke rumah, apalagi jika bertatap muka dengan sang ayah yang masih bersikap dingin.


"El, Elisa..." panggil Seseorang dari belakang membuyarkan lamunan Elisa


"Ahh Pak Rendi, ada apa?" kata Elisa sedikit gugup bertemu dengan calon suaminya itu


"Kamu kok di panggil dari tadi gak denger, kamu melamun?" kata Rendi yang masih berdiri tak jauh dari Elisa


Elisa hanya menjawab dengan menyunggingkan senyumannya, merasa malu karena calon suaminya telah menangkap basah dirinya yang tengah melamun.


"Ohh iya boleh gak kalau sekarang aja aku ke rumah kamu, buat menemui kedua orang tuamu" kata Rendi menjelaskan tujuannya yang menghampiri Elisa saat ini


"Apa gak kecepatan?" tanya Elisa ragu karena takut kedua orang tuanya tak menerima Rendi, apalagi jika datang tiba-tiba.

__ADS_1


"Bukannya lebih cepat lebih baik, tapi kalau kamu keberatan gak apa-apa. Besok saja" kata Rendi yang mengerti alasan Elisa karena dirinya juga terlalu mendadak


Elisa pun hanya menjawab dengan anggukkan, setelah lama berbincang mereka naik ke sepeda motor masing-masing dan berpisah di arah jalan yang berlawanan. Tak butuh waktu lama Elisa pun tiba di rumah tempat tinggal dirinya bersama kedua orang tuanya, setelah memasukan sepeda motor milik sang ibu ke dalam garasi Elisa langsung masuk ke dalam rumah setelah sang ibu menyambutnya dengan begitu hangat.


Siang hari seperti ini Elisa yang pulang di sekitaran pukul 13.00 wib rumah mereka terlihat sepih selain sang ayah sedang tidur siang, kedua orang tuanya sudah makan siang jadi dirinya terpaksa makan sendirian bahkan ini terjadi semenjak dirinya mengajar. Namun sesekali sang ibu menemaninya meski tak ikut makan setidaknya bercerita tentang pengalaman masa remaja sang ibu dulu, seperti saat ini panjang lebar sang ibu mengatakan bahwa dirinya termasuk remaja yang beruntung.


Karena bekerja hanya dari pagi sampai siang meski gajinya memang lebih besar dari gaji sewaktu sang ibu bekerja namun tetap enak Elisa sekarang, selain waktu kerja singkat bisa selalu berkumpul dengan keluarga tak seperti sang ibu dulu yang jauh dari keluarga. Belum lagi dulu sang ibu selalu memikirkan bayar kontrakkan dan kebutuhan makan sehari-hari, Elisa yang mendengar begitu bangga karena ternyata semasa remaja sang ibu begitu kuat menghadapi kehidupan di luaran sana.


Dulu ketika dirinya kuliah di kota Batam meski di sediakan asrama serta makan tetap saja dirinya suka mengeluh, apalagi kadang ada aja yang tak suka dengan dirinya meski dirinya sudah berusaha baik. Selesai makan Elisa mengatakan dengan sang ibu jika ingin berbicara serius dan mengajak sang ibu bicara di taman belakang, sang ibu yang penasaran menyetujui ajakkan sang anak.


"Umi..." kata Elisa sedikit ragu untuk memulai pembicaraannya karena bingung harus mulai dari mana


Elisa menarik napasnya sejenak dan menghembuskan kembali dengan perlahan kemudian mengucap basmalah sebelum memulai pembicaraan, setelah tenang Elisa mulai bercerita bahwa hari ini dirinya telah di lamar oleh seorang laki-laki yang sudah lama menaruh hati dengan dirinya. Mereka pernah tak sengaja bertemu ketika sama-sama berada di bandara, Elisa juga menjelaskan bahwa laki-laki itu salah satu dewan guru di SMP Negeri 1 Pancasila bahkan menjabat sebagai kepala sekolah.


Elisa juga memberi tahu bahwa laki-laki itu ingin secepatnya menemui sang ayah dan sang ibu bahkan tadi meminta hari ini, namun dirinya menolak karena takut sang ayah dan sang ibu terkejut serta tak menerima tamu saat ini. Elisa dan sang ibu tak sadar bahwa pembicaraan mereka dari tadi di dengar oleh sang ayah yang kebetulan berniat mengambil minum di dapur, sang ayah yang mendengar sang anak di lamar ikut bahagia namun ada sedikit yang menganjal dihatinya.

__ADS_1


"Alhamdulilah nak, akhirnya jodohmu datang juga. Malam ini Umi akan bicarakan ini dengan Abi-mu, dan semoga secepatnya lamaran itu terjadi agar kamu bisa segera menikah" kata Kirana begitu bahagia mendengar kabar baik tersebut sembari memeluk sang anak


Elisa membalas pelukan sang ibu dengan erat yang tentunya begitu terharu sehingga air mata Elisa pun ikut berjatuhan, setelah mereka ngobrol terlalu panjang dan lama Elisa pamit dengan sang ibu untuk beristirahat sebentar di kamar tidurnya. Setelah kepergian Elisa, sang ayah pun muncul dan menghampiri sang ibu yang membuat sang ibu terkejut karena kemunculan sang ayah tiba-tiba.


"Abi, udah bangun?" tanya Kirana kepada sang suami yang kini duduk disampingnya


"Iya, bahas apa tadi kayaknya serius banget" kata Dokter Perdi langsung to the poin


"Abi, denger?" tanya Kirana lagi sembari menatap sang suami


Dokter Perdi hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Kirana pun mulai mengulang cerita Elisa tadi sembari meminta saran kepada sang suami bagaimana cara mereka menikahkan Elisa nanti. Dokter Perdi pun menjawab bahwa dirinya telah memiliki solusi namun dirinya harus menemui calon suami Elisa terlebih dahulu, dan Dokter Perdi juga meminta calon suami Elisa besok siang datang ke rumah menemui mereka.


"Baiklah bi, nanti Umi bilang dengan Elisa" jawab Kirana setelah mendapat jawaban dari sang suami


"Bagaimana dengan Erisa, dia pasti belum bisa pulang kalau Elisa mau menikah dalam bulan depan" kata Dokter Perdi teringat dengan sang anak yang sangat dirindukannya itu

__ADS_1


"Iya bi, pasti Erisa bahagia mendengar kakaknya mau menikah tapi sayang dia gak bisa pulang karena masih satu tahun lagi buat nyelesain kuliahnya" jawab Kirana yang juga merindukan sang anak yang satunya


Setelah itu Kirana dan Dokter Perdi memutuskan untuk masuk ke dalam ingin bersantai di ruang keluarga menonton film favorit mereka yang selalu tayang di waktu siang seperti ini, tentunya sebelum menonton mereka tak lupa menyiapkan cemilan beserta secangkir kopi minuman favorit mereka masing-masing.


__ADS_2