Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 31


__ADS_3

Seorang perempuan yang memakai cadar turun dari pesawat setelah mendapatkan koper miliknya, perempuan bercadar itu tersenyum akhirnya dirinya bisa kembali ke tanah kelahirannya setelah sekian lama berada di Kairo Mesir. Perempuan bercadar itu pun tak memberi tahu keluarganya sama sekali bahwa kepulangannya di percepat karena dirinya ingin memberi kejutan kepada keluarganya, perempuan bercadar itu melangkahkan kaki keluar dari bandara sembari menyeret koper miliknya.


Beruntung satu hari sebelum kembali ke tanah kelahirannya perempuan bercadar itu sudah mengakses aplikasi yang biasa di gunakan di tanah kelahirannya, jadi saat ingin memesan taksi online dirinya tak harus mendownload dahulu karena semuanya sudah siap di HP-nya. Tak berapa lama taksi online pesanannya telah tiba, dirinya pun langsung masuk setelah memasukkan koper miliknya terlebih dahulu.


Sepanjang perjalanan dirinya terus tersenyum menatap jalanan yang sekarang kian ramai bahkan semakin macet, bangunan gedung-gedung juga semakin tinggi menjulang ke atas langit. Banyak sekali yang telah berubah di tanah kelahirannya, namun sebelum pulang dirinya mampir dulu di sebuah restoran tempat sang ibu bekerja dahulu semasa masih remaja.


"Pak saya turun disini saja" kata Perempuan bercadar itu kemudian memberikan ongkos kepada supir taksi itu


"Baik mbak" jawab Supir taksi menghentikan taksinya di depan parkiran restoran


Perempuan bercadar itu turun dari taksi tersebut sembari membawa koper miliknya, kemudian dirinya melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran sembari terus menyeret koper miliknya. Tiba di dalam restoran perempuan bercadar itu menitipkan koper miliknya kepada salah satu pelayan restoran itu, lalu dirinya kembali melanjutkan langkah kakinya hendak mencari tempat kosong.


Brukk


"Maaf, saya tak sengaja" kata Seorang laki-laki itu yang habis dari kamar mandi tak sengaja menabrak perempuan bercadar itu


"Ahh, iya gak apa-apa" kata Perempuan bercadar itu sekilas melihat laki-laki yang menabraknya lalu menundukkan kembali pandangannya


"Saya permisi" ucap Seorang laki-laki itu berlalu dari hadapan perempuan bercadar itu

__ADS_1


"Silahkan" jawab Perempuan bercadar itu dengan ramah


Perempuan bercadar itu kembali melangkahkan kaki untuk mencari tempat duduk, lalu setelah mendapatkan tempat duduk yang kosong di arah agak pojok dirinya pun langsung mendudukkan bokongnya di kursi tersebut sembari memanggil pelayan restoran. Perempuan bercadar itu meminta buku menu dan melihat-lihat menu makanan yang ada di buku menu, setelah itu memesan makanan favoritnya yang sudah lama tak dimakannya karena selama ini dirinya hanya makan makanan yang di sediakan oleh asrama.


Selagi menunggu pesanannya datang perempuan bercadar itu mengeluarkan HP-nya dari dalam tasnya, membuka aplikasi berwarna biru berlogo F dirinya ingin membuka kembali akun sosial medianya yang sudah lama di non aktifkannya. Setelah terbuka dirinya mulai melihat-lihat kabar di dunia maya yang terkini, namun saat begitu fokus dirinya mendengar suara seseorang perempuan yang sangat dikenalnya segera dirinya menoleh mencari sumber suara.


"Bukannya itu kak Elisa, siapa laki-laki itu. Apa itu Rendi?" kata Perempuan bercadar itu memandangi Elisa dari jauh


Perempuan bercadar itu adalah Erisa yang baru kembali ke tanah kelahirannya, seharusnya dirinya kembali satu minggu lagi namun karena wisudanya di percepat jadi dirinya bisa kembali ke Indonesia lebih cepat juga. Makanya dirinya belum mengabari kedua orang tuanya maupun saudara kembarnya jika dirinya sudah ada di Indonesia, ini bentuk sebuah kejutan apalagi kedua orang tuanya sangat merindukannya begitu juga dirinya.


Elisa memanggil pelayan ingin membayar makan yang sudah dimakannya bersama Rendi barusan makanya terdengar suaranya, tatapan Erisa tetap fokus kepada Elisa dan Rendi yang hendak meninggalkan meja mereka terlihat Rendi mengandeng tangan Elisa dengan mesra bahkan tatapannya penuh cinta. Erisa tersenyum kecut melihat pemandangan itu, terasa sakit hatinya harus menerima takdir ini sekilas Erisa bisa melihat wajah dan senyuman Rendi.


"Hahaha, takdir benar-benar memainkan ku. Awal pertama aku bertemu denganmu karena tabrakan, sekarang sekian lama kita tak bertemu dan kembali di pertemukan lagi-lagi kita bertabrakan" kata Erisa lagi dalam hati sembari geleng-geleng kepala


Erisa mengeluarkan diary miliknya melihat lukisan wajah Rendi yang masih tersimpan rapi di dalam diary miliknya.


"Bahkan wajahmu tak berubah sama sekali, malahan semakin tampan dan semakin terlihat berwibawa" kata Erisa lagi dalam hati mengelus lukisan wajah Rendi


"Tampan kak, pacarnya ya" kata Pelayan restoran itu sembari menata pesanan Erisa di atas meja

__ADS_1


Erisa buru-buru menutup kembali diary miliknya dan memasukkan ke dalam tasnya lagi, Erisa tersenyum di balik cadarnya menanggapi perkataan pelayan tersebut. Setelah pelayan itu pergi Erisa mulai menyantap makanan dengan perlahan, makanan yang terlihat mengunggah selera itu terasa hambar di dalam mulut Erisa setelah dirinya melihat kemesraan Elisa dan Rendi tadi.


Erisa terkadang masih tak percaya bahwa Rendi cinta pertamanya harus menjadi kakak iparnya, entah mengapa takdir begitu mempermainkannya. Jika saja Rendi menikah dengan orang lain mungkin Erisa bisa menerima itu semua, namun sekarang Rendi harus menikah dengan saudara kembarnya yang pasti suatu saat mereka akan sering bertemu.


Bagaimana Erisa ingin menghilangkan perasaannya jika dirinya akan terus bertemu, hanya waktu yang bisa menentukan semua Erisa benar-benar sudah pasrah akan semua ini. Apalagi tadi dirinya melihat Rendi dan Elisa terlihat sepasang suami istri yang bahagia, bahkan sangat jelas tatapan Rendi ke Elisa penuh cinta dan sangat dalam seperti rasa cinta Erisa kepada Rendi.


Selesai makan Erisa membayar makanan yang di makannya kemudian dirinya keluar dari restoran ingin langsung pulang ke rumah, mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan hatinya yang terasa sangat sakit. Erisa mengeluarkan kembali HP-nya dan memesan taksi online, setelah taksi online pesanannya tiba Erisa segera masuk sembari membawa koper miliknya.


"Ya Allah, bagaimana caranya aku menghapus nama Rendi yang sudah terpatri sangat indah di hatiku. Beri aku petunjuk akan takdir yang Engkau tetapkan" kata Erisa dalam hati sembari menatap jalanan dengan air matanya mulai mengenang di kantung matanya


Taksi yang di tumpangi Erisa pun berhenti di kediaman orang tuanya, segera dirinya turun dan tak lupa membayar ongkos taksi kepada supir. Erisa melangkahkan kakinya menuju pintu utama sembari menyeret koper miliknya, Erisa memencet bel berapa kali lalu membelakangi pintu menunggu pintu utama itu di bukakan.


"Maaf, cari siapa?" tanya Kiran sopan dan lembut


"Umii..." panggil Erisa sembari membalikkan tubuhnya menghadap sang ibu


"Erisa, apa benar ini kamu nak" kata Kirana menghampiri perempuan bercadar itu sembari meraba wajah yang terhalang cadar itu dengan air mata mulai mengenang di kantung mata


"Ini Erisa" jawab Erisa langsung menghamburkan pelukannya dengan sang ibu

__ADS_1


__ADS_2