
Rendi yang tak mau sampai terlambat bertemu dengan calon mertuanya memilih datang ke restoran lebih awal dari perjanjiannya dengan calon mertuanya, Rendi begitu senang ketika calon mertuanya kemarin mengajaknya makan di restoran dan ingin berbicara hal penting. Tentu selain penasaran Rendi merasa tersanjung karena bisa ngobrol sepuasnya dengan calon mertuanya itu, kini Rendi sudah duduk di salah satu kursi yang kosong sembari menunggu calon mertuanya dirinya sibuk berkirim pesan dengan kakak perempuannya.
"Mau pesan apa kak?" tanya Pelayan restoran tersebut sembari memberikan buku menu
"Nanti saja mbak, biar saya lihat-lihat dulu buku menunya sekalian menunggu teman makan siang saya datang" kata Rendi menerima buku menu tersebut dengan ramah
Pelayan itu menjawab dengan anggukkan kepala kemudian berlalu dari hadapan Rendi, Rendi tak melanjutkan lagi berkirim pesan dengan kakak perempuannya dan memilih melihat-lihat semua menu yang ada di buku menu tersebut. Cukup lama melihat-lihat orang yang di tunggu-tunggunya pun datang, Rendi beranjak dari tempat duduknya menyambut calon mertuanya sembari mencium punggung tangan calon mertuanya itu dengan takzim.
"Udah pesan makan?" tanya Dokter Perdi setelah mendudukan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Rendi
"Belum Om, sekalian bareng sama Om saja" jawab Rendi sembari memberikan buku menu kepada calon mertuanya itu
Dokter Perdi yang sudah sering makan di restoran itu tanpa melihat buku menu sudah dapat makanan favoritnya, Dokter Perdi melambaikan tangannya memanggil pelayan restoran tersebut. Setelah pelayan mendekat, Dokter Perdi mulai memesan makanan serta minuman lalu diikuti dengan Rendi juga yang memesan makanan serta minuman namun berbeda jenis makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Di tunggu sebentar ya" kata Pelayan restoran dengan ramah kemudian pergi dari sana dan berjalan menuju ke arah dapur dimana chef akan menyiapkan makanan serta minuman yang di pesan oleh pengunjung
__ADS_1
Dokter Perdi mengajak Rendi ngobrol sedikit tentang kehidupan Rendi di kota Padang dulu, Rendi yang di tanya tentu menjawab dengan senang hati menceritakan semua pengalaman yang telah dilaluinya selama ini. Dokter Perdi yang mendengar cerita Rendi cukup kagum dengan laki-laki seperti Rendi yang berjuang sendiri untuk kesuksesannya, apalagi Rendi yang anak yatim piatu tentu membuat penilaian dari Dokter Perdi bertambah plus.
Lama mengobrol akhirnya makanan yang merrka pesan pun datang beserta minuman juga, Rendi dan Dokter Perdi menghentikan sejenak obrolan mereka karena ingin menyantap makanan terlebih dahulu setelah itu nanti baru lanjut lagi. Mereka sama-sama sangat menikmati sajian makanan yang ada di atas meja yang di hadapan mereka, Rendi yang jarang makan lezat tentu bersyukur kali ini bisa menyantap makan lezat tersebut.
"Apakah kamu benar-benar serius dan sangat mencintai Elisa?" tanya Dokter Perdi setelah mereka selesai makan
"Iya Om, saya benaran serius dan sangat mencintai Elisa" jawab Rendi dengan mantap dan tegas agar calon mertuanya yakin dengan keseriusan dirinya
Dokter Perdi menganggukkan kepalanya, kemudian menghela napas panjang kenyataan ini harus dijelaskannya dengan Rendi dan dirinya berharap Rendi tetap menerima tentang kehidupan Elisa meski tau yang sebenarnya.
"Om mau bilang sebenarnya Elisa bukan anak kandung kami" kata Dokter Perdi berhenti sejenak membiarkan Rendi mencerna setiap perkataannya
Dokter Perdi lagi-lagi menganggukkan kepalanya sembari jari-jemarinya mengetuk meja yang ada dihadapannya, berpikir sejenak dan memberi waktu Rendi berpikir juga.
"Elisa di buang oleh ibu kandung di teras rumah kami, dan yang saya ketahui bahwa Elisa anak hasil dari laki-laki tak bertanggung jawab yang telah memperkosa ibu kandung Elisa" jelas Dokter Perdi lagi dengan raut wajah lebih serius lagi
__ADS_1
Tentu lagi-lagi membuat Rendi semakin terkejut mengetahui semua tentang Elisa, dirinya benar-benar tak menyangka perempuan yang sangat baik seperti Elisa harus memiliki nasib hidup begitu tragis. Hasil dari pemerkosaan dan di buang oleh ibu kandung, Rendi pikir hidupnya lah yang selama ini tak begitu beruntung karena seorang anak yatim piatu dan hidup dari belas kasihan orang-orang namun ternyata masih ada orang lain yang hidupnya begitu tragis.
Dan orang itu akan menjadi calon istrinya serta teman hidupnya nanti, namun Elisa beruntung kedua orang tua angkatnya begitu menyayanginya bahkan membiayai hidup Elisa dari bayi hingga remaja sekarang. Rendi justru semakin ingin menjadikan Elisa sebagai pendamping hidupnya, agar dirinya bisa membuat Elisa tetap selalu merasakan kebahagian dan tentunya dirinya ingin selalu melindungi Elisa.
"Apakah Elisa tau tentang kenyataan ini Om?" tanya Rendi yang dari tadi terdiam akhirnya membuka suara
"Tidak, kami sengaja merahasiakannya karena kami sudah menganggapnya seperti anak kandung kami. Dan Om harap kamu juga merahasiakannya dari Elisa" kata Dokter Perdi yang tak mau orang mana pun tau tentang kenyataan ini apalagi kedua anaknya yang sebenarnya sangat disayanginya semua.
"Baiklah Om, tapi bagaimana ketika ijab kabul nanti. Tentu bukan Om yang akan menjadi wali nikah Elisa serta binti Elisa harus tetap ibu kandungnya" kata Rendi yang memnag paham tentang wali anak di luar nikah
"Iya, nanti Om yang urus. Kalian akan menikah di gedung hotel, agar ketika akad Elisa tetap berada di dalam kamar. Selesai ijab kabul kalian baru bisa bertemu" kata Dokter Perdi menjelaskan solusi yang telah dipikirkannya berapa hari yang lalu
"Baiklah Om, saya percayakan semua dengan Om" jawab Rendi senang karena ternyata calon mertuanya sudah memikirkan semuanya dengan pikiran yang matang
Selesai obrolan mereka, Dokter Perdi pamit pulang dengan Rendi dan tak lupa membayar bill makanan yang telah di makan dirinya beserta Rendi. Dokter Perdi sengaja membayar tanpa sepengetahuan Rendi selain tak mau Rendi tersinggung, dirinya tau Rendi yang hanya kepala sekolah memiliki gaji tak terlalu besar.
__ADS_1
Dokter Perdi segera melaju mobil avanzanya meninggalkan halaman restoran tersebut dan menuju rumah tempat tinggalnya, Dokter Perdi legah karena Rendi tetap mau menerima Elisa meski tau tentang kenyataan hidup Elisa. Andaikan saja Rendi lebih cepat bertemu dengan anaknya Erisa pasti Dokter Perdi semakin bahagia memiliki calon menantu seperti Rendi, namun mau bagaimana lagi semua sudah suratan takdir.
Mobil avanza yang dikemudikan Dokter Perdi pun tiba di halaman rumah tempat tinggalnya, Dokter Perdi langsung memasukan mobil avanzanya ke dalam garasi. Setelah itu Dokter Perdi keluar dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah setelah pintu di bukakan oleh sang istri, Dokter Perdi langsung mengajak sang istri masuk kamar ingin menceritakan pertemuannya dengan Rendi hari ini tadi.