
"Baik bii, aku akan urus pernikahan kami agar segera tercatat di negara. Namun untuk mengadakan pesta, maaf aku gak bisa apalagi aku sekarang belum dapat pekerjaan jadi belum ada pemasukan sama sekali" jawab Rendi begitu tegas
"Gak apa-apa tak ada acara pesta, yang terpenting pernikahan kalian segera tercatat di negara agar memudahkan urusan kalian" kata Dokter Perdi mengerti tentang keadaan Rendi yang kini memang sedang kesusahan mencari pekerjaan
Erisa dan sang ibu yang mendengar hanya diam tak berkomentar apapun, meski dalam hati Erisa sangat jengkel dengan sikap Rendi mengatakan bahwa belum dapat pekerjaan. Bagaimana mau dapat pekerjaan jika setiap hari hanya menghabiskan waktu di dalam kamar, sedangkan malam hari menghabiskan waktu untuk hal yang tak benar.
Waktu berjalan terasa begitu cepat saat ini sudah menjelang siang, Erisa dan sang ibu membantu ART menyiapkan makan siang untuk mereka berempat. Setelah siap Erisa pun segera ke ruang keluarga memanggil Rendi dan sang ayah, ingin mengajak makan bersama-sama.
Kini mereka berempat sudah duduk di kursi makan, Erisa dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Rendi. Sebenarnya Rendi tak mau namun karena dirinya sadar saat ini sedang di kediaman mertuanya akhirnya mau tak mau menerima perlakuan Erisa, begitu juga dengan sang ibu yang selalu melayani sang ayah dengan baik.
Mereka berempat pun mulai menyantap makanan yang ada di piring mereka masing-masing, setengah jam berlalu akhirnya mereka berempat telah selesai makan. Rendi dan Erisa pun segera pamit dengan kedua orang tua Erisa karena ingin segera mengurus surat pernikahan mereka siang ini juga, agar segera tercatat di negara.
"Hati-hati di jalan" ujar Kirana dan Dokter Perdi secara bersamaan
"Iya umii abii, kami pamit. Assalamualaikum" kata Erisa tersenyum setelah mencium punggung kedua orang tuanya dengan takzim secara bergantian
"Walaikumsalam" jawab Kirana dan Dokter Perdi merasa bahagia akhirnya sang anak semata wayang sudah menemukan jodohnya
__ADS_1
Rendi juga melakukan hal sama mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian, kemudian Erisa dan Rendi segera masuk ke dalam mobil jazz milik Rendi. Mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman mertuanya menuju ke kediamannya, untung jalanan tak macet lagi sehingga mereka tiba di kediaman mereka lebih cepat.
Karena Rendi sudah berjanji dengan ayah mertuanya untuk segera mendaftarkan pernikahannya dengan Erisa, Rendi pun segera mengambil beberapa berkas tentang surat nikah mereka sewaktu menikah siri di rumah sakit kemarin. Lalu Rendi kembali mengajak Erisa untuk segera ke kantor pengadilan agama, agar bisa segera mendaftarkan pernikahan mereka.
.
.
Selesai sudah Rendi dan Erisa mendaftarkan pernikahan siri mereka yang kini telah berganti pernikahan resmi yang di akui oleh negara dan agama, Rendi melakukan ini karena terlanjur berjanji dengan ayah mertuanya yang sudah sangat baik terhadapnya bahkan Rendi merasa memiliki orang tua saat mertuanya sangat menyayanginya.
Apalagi hidupnya dari kecil tak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang telah lama meninggal dunia jadi begitu bersyukur memiliki mertua yang baik, Rendi dan Erisa sudah kembali ke kediaman mereka dan saat masuk ke dalam rumah Rendi langsung mempercepat langkah kakinya masuk ke dalam kamar lalu mengurung diri.
Erisa masuk ke dalam kamar tamu yang di tempatinya dari awal menginjakkan kaki di kediaman Rendi sampai detik ini, kemudian Erisa segera melangkahkan kaki ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba-NYA. Setelah itu Erisa mengambil sajadah dan mukena miliknya yang tergantung di dalam lemari, di pakainya mukena itu laku di bentangkannya sajadah.
Dengan khusyuk Erisa mulai mengerjakan sholat dzuhur empat raka'at, selesai sholat Erisa menumpahkan lagi rasa sesak di dadanya kepada MAHA KUASA karena hanya MAHA KUASA yang bisa mendengar keluh kesahnya setiap hari. Dan setiap sholat dirinya selalu meminta kepada MAHA KUASA agar segera membukakan hati Rendi untuk menganggapnya sebagai istri, karena Erisa juga ingin mendapatkan pahala dengan melayani suaminya.
"YA ALLAH, hamba percaya semua ketetapan yang Engkau berikan pada hamba....." ucap Erisa setiap kali dirinya berdoa dengan deraian air mata yang membasahi kedua pipinya
__ADS_1
.
.
Malam hari
Selesai sholat magrib Erisa membantu ART menata semua masakan ART itu di atas meja makan, selama tinggal di kediaman Rendi Erisa tak pernah berani menyentuh alat dapur karena Rendi tidak membolehkannya. Jadi selama ini ART yang selalu memasak untuk mereka berdua, bukan Rendi mengistimewakan Erisa melainkan Rendi tak mau menyincip masakan Erisa.
"Makanannya sudah siap, saya permisi tuan Rendi dulu ya nyonya" kata ART itu pamit dengan Erisa hendak memanggil majikannya
"Iya bik" jawab Erisa tersenyum di balik cadarnya
ART itu sudah berada di depan pintu kamar utama, kemudian mengetuk pintu sembari memberitahu kepada majikannya itu bahwa makan malam telah siap. Rendi yang telah selesai sholat menyahut dari dalam akan segera keluar dari kamar, selesai memberitahu majikannya ART itu kembali ke dapur.
Rendi keluar dari kamar lalu melangkahkan kaki menuju ruang makan, di kursi makan sudah ada Erisa yang duduk menunggunya tapi dirinya tak menyapa sama sekali dan langsung duduk di kursi miliknya. Kemudian Rendi dan Erisa segera mengisi piring mereka masing-masing, setelah itu mereka berdua mulai menyantap makan yang ada di piring.
"Kasihan nyonya Erisa, sudah setengah tahun menikah tapi masih tak di anggap tuan Rendi hanya karena kesalahpahaman" kata ART yang bekerja di kediaman Rendi selalu memperhatikan interaksi antara Rendi dan Erisa yang terlihat seperti orang lain
__ADS_1
"Semoga tuan Rendi secepatnya sadar agar tau kewajibannya sebagai suami, dan semoga nyonya Erisa tetap sabar menjalani ini semua. Karena aku yakin ke depannya hubungan mereka berdua akan lebih baik" kata ART itu lagi yang masih berdiri tak jauh dari pembatas ruang makan dengan dapur memperhatikan Rendi dan Erisa yang makan tanpa mengobrol sedikit pun untuk memecahkan keheningan diantara mereka berdua.