Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 37


__ADS_3

Tok...tok...tok


"Erisa, ini kak Elisa. Boleh gak kakak masuk" kata Elisa setelah mengetuk pintu kamar tidur Erisa


Erisa yang kebetulan sudah terbangun dari tidurnya segera beranjak dan menghampiri pintu kamar tidurnya, kemudian Erisa membuka pintu kamar tidurnya dan mempersilahkan Elisa masuk ke dalam. Erisa kembali melangkahkan kakinya mendekati Elisa yang sudah duduk di tepi ranjang, lalu kemudian Erisa ikut duduk.


"Erisa, kok kamu gak cerita dengan kakak. Kalau cinta pertamamu sudah menikah" kata Elisa to the poin


"Ahh, buat apa bahas itu kak. Erisa malam bahas itu" jawab Erisa yang sangat malas membahas masalah yang tak akan kelar


"Maaf, kamu yang sabar ya" kata Elisa kemudian memeluk Erisa sembari mengelus punggung belakang Erisa untuk memberi kekuatan


Erisa hanya diam tak bergeming bahkan tak membalas pelukan dari Elisa, entah mengapa rasa sayangnya kepada Elisa sekarang hilang atau mungkin ini semua karena Erisa belum ikhlas menerima takdirnya.


"Astagfirullah" ucap Erisa dalam hati membuang jauh-jauh pemikiran itu


Cukup lama Elisa memeluk Erisa akhirnya di lepaskan Elisa juga, Elisa pun panjang lebar menasehati Erisa agar Erisa tetap tabah menerima takdir ini namun Erisa hanya menanggapi Elisa dengan senyuman yang sebenarnya dirinya malas. Bagi Erisa seperti tak berguna lagi nasehat itu, dan soal takdir tentu Erisa tak bisa berbuat apa-apa semua sudah terjadi.

__ADS_1


Setelah itu Elisa pamit keluar dari kamar tidur Erisa setelah mendengar Rendi memanggilnya, Erisa hanya menjawab dengan anggukkan kepala sembari tersenyum meski terpaksa. Selepas kepergian Elisa dari kamar tidurnya Erisa memilih mengeluarkan buku diary miliknya yang tersimpan di bawah meja kerjanya tempat rahasia yang hanya dirinya yang tau, Erisa hanya bisa memandangi wajah Rendi lewat lukisan yang dilukisnya berapa belas tahun lalu.


Di kamar sebelah Elisa dan Rendi tengah mengobrol serius soal mereka yang akan ke kota Padang berkunjung ke rumah kakak perempuan Rendi, Rendi juga memberi tahu Elisa bahwa dirinya sudah memesan tiket ke berangkat mereka yang tinggal berapa hari lagi. Setelah cukup puas membahas soal keberangkatan mereka ke kota Padang nanti, Rendi pun mengajak Elisa untuk beristirahat apalagi penghuni di rumah ini pada mendam dalam kamar tidur mereka masing-masing.


"Mas, kita udah 2 tahun menikah. Apakah mas gak ke pengen punya anak?" tanya Elisa kepada Rendi yang tengah guling di pangkuan Elisa


"Pengen, tapi aku maunya anak dari kamu. Kalau soal adopsi bukankah kita sudah pernah ke panti asuhan dan prosesnya sangat ribet" kata Rendi memejamkan kedua kelopak matanya menikmati sentuhan tangan Elisa memainkan rambutnya


"Bagaimana kalau Mas nikah lagi?" kata Elisa sembari mengigit bibir bawahnya takut salah bicara


"Kamu ngomong apa sih, sudah berapa kali aku bilang gak akan mau menikah lagi. Istri aku cukup satu yaitu kamu sampai ajal yang memisahkan kita" kata Rendi langsung beranjak duduk memegang kedua pundak Elisa


Rendi yang sedikit marah dengan Elisa memilih keluar dari kamar membiarkan Elisa merenungi perkataannya barusan, agar suatu saat Elisa tak lagi memintanya untuk menikah lagi. Saat melangkahkan kaki keluar kamar Rendi tak sengaja bertabrakan dengan Erisa yang kebetulan keluar kamar juga, reflek Rendi memegang pinggang Erisa karena Erisa hampir jatuh


Deg


Posisi Erisa dan Rendi seperti itu membuat jantung Erisa berdetak sangat cepat, bahkan jantung Erisa seperti ingin keluar dari tempatnya. Rendi pun sama merasakan hal seperti itu apalagi ketika menatap bola mata Erisa yang hitam serta bulu matanya yang begitu lentik, membuat Rendi terpaku seperti menikmati adegan yang terjadi.

__ADS_1


"Erisa... Rendi...." kata Elisa terkejut melihat Erisa dan Rendi di posisi yang begitu dekat


"Ahh, maaf" kata Rendi tersadar sembari membantu Erisa berdiri


"Maaf kak, ini tak seperti yang kakak lihat. Jangan salah paham, tadi kita tak sengaja bertabrakan dan aku hampir jatuh makanya kak Rendi membantuku barusan" kata Erisa menjelaskan apa adanya tanpa mengurangi atau menambahi


"Iya gak apa-apa, kakak percaya kok dengan kamu" kata Elisa berusaha tenang dan tentu harus percaya karena Erisa tak seperti wanita di luaran sana


Elisa yang tadi ingin tidur ketika di tinggal Rendi begitu saja tak jadi ketika mendengar bunyi seperti ada yang menabrak sesuatu dirinya pun beranjak dan langsung keluar kamar hendak mengecek, saat keluar kamar ternyata Rendi dan Erisa yang bertabrakan sampai dengan posisi yang begitu dekat layaknya seperti adegan romansa yang ada di film-film.


Rendi tak jadi ke dapur dan memilih masuk kamar sembari merangkul pinggang Elisa, Erisa yang melihat perlakuan Rendi terhadap Elisa itu hanya tersenyum kecut. Padahal baru berapa menit Rendi memegang pinggangnya bahkan seperti tak mau di lepaskan Rendi, tapi sekarang dirinya sudah melihat adegan yang tak seharusnya dirinya lihat meski memang itu selalu terjadi karena Elisa dan Rendi sudah halal.


"Erisa, ada apa?" tanya Kirana keluar kamar karena terdengar seperti orang ngobrol namun yang ada di ruang keluarga hanya Erisa sendiri


"Gak ada apa-apa kok mi" jawab Erisa yang kembali melanjutkan langkah kakinya hendak ke dapur mengambil minum


Karena tak ada apa-apa sang ibu memilih masuk kamar lagi.

__ADS_1


Tiba di dapur Erisa segera menuangkan air minum ke dalam gelas lalu dirinya meminum air minum itu sampai tandas, Erisa mengatur napasnya serta jantungnya yang masih berdetak sangat kencang dan Erisa juga berharap Rendi tak mendengar detak jantungnya tadi. Apalagi posisi mereka tadi sangat dekat, karena jika sampai Rendi mendengar dirinya bisa malu kalau ketahuan selama ini mencintai Rendi dalam diam.


Setelah detak jantungnya kembali normal, Erisa memilih untuk duduk santai di taman belakang sembari menikmati secangkir teh hangat yang barusan dibikinnya bersama dengan cemilan yang di buat oleh sang ibu. Erisa menatap tanaman yang di tanami oleh sang ayah sembari terus berpikir sampai kapan dirinya terpusat pada cinta pertamanya dan tak mau membuka hatinya untuk laki-laki lain, padahal Erisa tau banyak laki-laki di luar sana jauh lebih baik dari Rendi namun entah mengapa hatinya seperti tak mau mencoba padahal logikanya selalu berpikir pasti bisa untuk mencoba bahkan ini sudah dua tahun lebih Rendi menjadi kakak iparnya.


__ADS_2