Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 55


__ADS_3

Waktu berjalan terasa sangat cepat, meski kandungan Erisa sudah memasuki 39 minggu dirinya masih tetap mengajar di sekolah TK tersebut karena dari situlah penghasilan mereka untuk kebutuhan kehidupan mereka sehari-hari. Walaupun kedua orang tuanya sering kali menawari bantuan berupa uang tapi Erisa selalu menolak, karena baginya selagi kedua tangan dan kedua kakinya masih bisa digunakan untuk mencari uang halal maka dirinya tak mau merepotkan kedua orang tuanya.


Dan Rendi yang memang tak segagah dulu bahkan tak bisa terlalu capek hanya bisa berdiam diri di ruangan yang menjadi tempat tinggal mereka sekarang, syukurnya kedua orang tua Erisa memaklumi keadaan Rendi sehingga Rendi tidak merasa tak enak hati karena Erisa harus jadi tulang punggung sekarang. Namun meski Rendi di rumah saja, Rendi yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata memanfaatkan kecerdasannya dengan menulis novel di aplikasi untuk menghasilkan uang.


Walaupun baru pemula dan bahkan uang yang di hasilkan Rendi tak begitu banyak, tapi dirinya tetap bersyukur karena setidaknya dirinya telah membantu meringankan beban Erisa. Erisa yang tengah mengajari anak-anak muridnya tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di bagian bawah perutnya sampai menjalar ke pinggangnya, anak-anak muridnya yang melihat ibu guru mereka menahan sakit segera berlari mendekati ibu guru mereka itu.


"Panggil Om Rendi, di ruangan paling ujung" ujar Erisa yang kini terduduk di samping kursi guru saking tak tahan menahan sakit yang luar biasa itu


Salah satu anak muridnya pun menganggukkan kepala sembari berlari keluar menuju ruangan paling ujung, dimana tempat tinggal Erisa dan Rendi. Tiba disana anak murid Erisa itu menggedor pintu ruangan tersebut dengan sangat keras, Rendi yang tengah duduk di atas tempat tidur bersandaran di dinding langsung beranjak mendengar gedoran pintu yang sangat keras.


"Ada apa?" tanya Rendi saat pintu telah di bukakannya


"Bu Erisa, sepertinya mau lahiran" kata Anak murid Erisa itu langsung memberi tahu Rendi


Rendi yang mendengar itu segera masuk ke dalam menyambar kunci motor beserta tas yang telah di siapkan oleh mereka yang berisi perlengkapan bayi dan Erisa, lalu Rendi buru-buru berlari ke ruangan dimana Erisa mengajar dan tiba disana ternyata tubuh Erisa sudah di penuhi keringat karena menahan sakit. Lalu Rendi pun segera membantu Erisa untuk berdiri sampai ke sepeda motor yang ada di depan, sedangkan Aisyah yang memang masih ikut mengajar di sekolah TK tersebut berusaha menenangkan anak-anak murid agar tak membuat kegaduhan.


"Kamu kuat kan kalau kita ke rumah sakit dengan sepeda motor?" tanya Rendi setelah mereka telah berada di atas sepeda motor

__ADS_1


"Bismillah, Mas" jawab Erisa berusaha menahan sakit


Rendi pun segera melajukan sepeda motornya menuju rumah sakit, saat jalanan terlihat padat Rendi tak segan-segan membunyikan klakson agar kendaraan lain memberi dirinya jalan untuk segera sampai ke rumah sakit. Hanya dua puluh menit akhirnya sepeda motor yang di lajukan Rendi telah sampai di halaman rumah sakit, lalu Rendi berlari memasuki rumah sakit berteriak dengan para perawat bahwa sang istri hendak melahirkan.


Para perawat segera membawa brangkar ke arah parkiran lalu membantu Erisa untuk berbaring disitu, dengan sedikit buru-buru mereka mendorong brangkar yang membawa Erisa dengan di ikuti oleh Rendi dari belakang yang membawa tas yang berisi perlengkapan bayi dam Erisa. Tiba di ruang persalinan Dokter obgyn segera memeriksa jalan lahir yang ternyata telah pembukaan lima, karena masih lama Rendi izin keluar sebentar dengan Erisa hendak mengabari kedua mertuanya.


"Assalamualaikum bi, Erisa mau melahirkan sekarang kami sudah berada di rumah sakit pusat kota" kata Rendi langsung pada intinya saat sambungan telepon terhubung


"......"


Rendi kembali masuk ke dalam ruangan lalu menarik kursi agar mendekat ke arah brangkar yang di tempati Erisa, Rendi menggenggam jari jemari Erisa sembari memberi semangat agar Erisa tetap bisa rileks meski Rendi tau melahirkan itu sangat menyakitkan karena nyawa yang menjadi taruhannya. Tiba-tiba brangkar yang di tempati Erisa pun basah yang ternyata air ketuban Erisa telah pecah, Dokter obgyn kembali mengecek jalan lahir yang sudah pembukaan tujuh.


"Pasang selang infus dan tensi darah pasien" ujar Dokter obgyn itu kepada salah satu perawat yang membantunya menangani Erisa


"Tensi darah pasien normal, Dok" jawab Perawat itu setelah selesai memasang selang infus dan men-tensi darah Erisa


Dokter obgyn pun segera menyuntikkan obat induksi dari cairan infus itu, tanpa menunggu lama sakit di bagian perut Erisa semakin menjalar kemana-mana membuat Erisa menggenggam jari jemari milik Rendi dengan sangat keras. Di luar ruangan ternyata kedua orang tua Erisa telah sampai, mereka bahkan bolak balik di depan ruang persalinan itu sangat gelisah menunggu persalinan anak mereka dari luar dan tak lupa mereka memanjatkan doa kepada sang anak yang tengah berjuang melahirkan cucu untuk mereka.

__ADS_1


"Oek.....Oek.....Oek"


Tangisan bayi menggema di dalam ruangan persalinan, Dokter obgyn itu segera meletakkan bayi yang berjenis kelamin perempuan itu di dada Erisa. Lalu Dokter obgyn menunggu plasenta keluar, sedangkan Rendi langsung mengumandangkan adzan di telinga sebelah kanan sang putri setelah itu mengumandangkan iqamah juga di telinga sebelah kiri.


Setelah Dokter obgyn selesai memotong tali plasenta yang terhubung dengan tali pusat lalu perawat mengambil alih bayi tersebut hendak di cek kesehatannya di ruangan bayi nanti sekalian membersihkan tubuh bayi. Kemudian Dokter obgyn bersama perawat yang membawa bayi tersebut keluar dari ruangan persalinan, dan meminta perawat lain untuk memindahkan Erisa ke ruang perawatan dan setelah kepergian Dokter obgyn tadi bersama perawat Rendi terus mendaratkan ciuman di kening Erisa sembari mengucapkan terima kasih.


Dan kini Erisa telah berada di ruangan perawatan yang di minta oleh sang ayah di ruangan VIP, karena Rendi memang tak memiliki uang yang banyak akhirnya menuruti permintaan sang mertua yang mau Erisa di rawat di ruangan VIP dan Rendi juga telah membayar biaya persalinan Erisa tadi dengan uangnya sendiri namun masalah pembayaran ruangan VIP itu mertuanya yang akan menanggung.


Tak berapa lama perawat datang ke ruangan VIP itu sembari mengendong bayi Erisa dan Rendi, lalu perawat itu menyerahkan bayi Erisa dan Rendi itu kepada Erisa setelah itu dirinya pamit undur diri. Kedua orang tua Erisa begitu bahagia melihat sang anak kini telah menjadi ibu dan mereka telah menjadi kakek nenek, putri Erisa dan Rendi sangat cantik perpaduan wajah Erisa dan Rendi sangat ketara.


"Apa kalian sudah memiliki nama untuk putri kalian?" tanya Kirana kepada sang anak dan sang menantu


"Namanya Inayah Salsabila, artinya karunia ALLAH yang mengalir bagaikan mata air surga" kata Erisa yang memang telah menyiapkan nama itu jauh-jauh hari


Kini kehidupan Erisa dan Rendi semakin bahagia setelah putri mereka lahir ke dunia ini dengan sehat, bahkan kedua orang tua Erisa juga ikut bahagia dengan kebahagian sang anak meski mereka tau bagaimana perjuangan sang anak yang selama ini begitu setia menemani Rendi untuk berobat soal penyakit liver bahkan rela tinggal di ruangan kecil yang ada di bangunan sekolah TK semenjak seluruh aset milik Rendi terjual habis karena biaya pengobatannya.


___________________TAMAT___________________

__ADS_1


__ADS_2