Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 23


__ADS_3

Di kantin sekolah yang khusus bagian para dewan guru Elisa dan Rendi tengah menikmati makanan mereka yang duduk berdua di kursi agak pojok, para dewan guru yang melihat sepasang pengantin baru itu hanya bisa tersenyum karena lagi baru-baru menikah masih terasa hati sedang berbunga-bunga dan sepanjang hari merasa selalu saling mencintai. Putri yang melihat sahabatnya pun menjadi iri menikah di usia yang pas dan mendapatkan jodoh yang tepat, bukan seperti dirinya yang masih jomblo hingga detik ini.


Bunyi bel panjang pertanda jam istirahat telah selesai seluruh murid yang berkeliaran dimana-mana segera bergegas masuk ke ruang kelas mereka masing-masing sebelum guru masuk ke dalam kelas mendahului mereka, para dewan guru yang bertugas mengajar di jam berikutnya juga segera kembali ke ruang kantor ingin masuk ke ruang kelas. Termasuk Elisa juga setelah selesai makan dirinya langsung beranjak dari tempat duduknya, karena sudah waktu dirinya akan mengajar di ruang kelas.


"Kenapa buru-buru?" tanya Rendi pada Elisa sembari berjalan beriringan di sebelah Elisa


"Aku harus masuk ke kelas IX.3, mau mengajar sebagai guru bukannya kamu bilang kita harus mencontohkan murid agar disiplin. Jadi aku gak mau telat sedikitpun masuk kelas" jelas Elisa semakin mempercepat langkah kakinya hingga Rendi pun tertinggal jauh


Rendi lupa kalau tugas dirinya dengan Elisa sangat lah berbeda, dirinya hanya berada di ruangan terus menerus memeriksa kurikulum sekolah serta kinerja para dewan guru lain. Sedangkan Elisa adalah guru yang harus mengajar di kelas tentu setiap ada jadwalnya mengajar Elisa harus segera masuk kelas, jika terlambat masuk kelas atau tidak masuk kelas sama sekali Elisa pasti merasa seperti makan gaji buta datang seenaknya tapi masuk kelas gak mau.


Itu bukanlah tipe Elisa apalagi niatnya menjadi guru untuk pertama kali yaitu ingin berbagi ilmu dengan semua orang baik anak-anak muridnya maupun para orang dewasa dan yang lain, setelah Elisa menghilang di balik pintu ruang kantor Rendi pun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kantor hendak masuk ke dalam ruangannya. Tepat di ambang pintu Elisa dan Rendi berpapasan dan mereka hanya bisa saling lempar senyum, karena Elisa begitu terburu-buru hendak masuk ke ruang kelas.


"Pak Rendi, saya butuh tangan bapak. Tadi saya mengetuk pintu ruangan bapak tapi gak ada sahutan jadi saya memutuskan kembali ke ruang saya dan ternyata kita bertemu disini" ucap Guru bagian TU


"Ohh iya, saya baru kembali dari kantin. Sini saya tanda tangani sekarang" kata Rendi dengan wibawa membaca sekilas laporan tersebut kemudian membumbuinya dengan tanda tangannya

__ADS_1


"Terima kasih Pak Rendi, saya permisi" ucap Guru bagian TU itu kemudian pamit undur diri


Rendi hanya menjawab dengan anggukkan kepala kemudian kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti tadi menuju ke ruangannya, tiba di dalam ruangan yang hanya berukuran 2x2 itu Rendi langsung mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya yang menyandang status sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 1 Pancasila sembari menyandarkan punggung belakangnya di sandaran kursi dan memijit keningnya yang terasa sedikit pusing.


Rendi memikirkan sejenak perlakuannya terhadap Elisa tadi, kenapa bisa dirinya lupa bahwa mereka masih berada di lingkungan sekolah. Padahal dirinya selama menjadi kepala sekolah selalu menjaga wibawanya, beruntung tadi Elisa memberinya pengertian sehingga dirinya ingat bahwa mereka masih berada di lingkungan sekolah.


.


.


"Bu, saya mau bertanya" kata Lilis murid yang paling pintar di kelas IX.3 itu sembari mengangkat tangan kanannya


"Silahkan mau bertanya apa?" tanya Elisa mempersilahkan Lilis untuk bertanya


"Misalnya kita rajin sholat tahajud tapi sholat subuh selalu kesiangan karena ketiduran habis sholat tahajud, jadi bagaimana Bu?" kata Lilis akhirnya mengungkapkan pertanyaannya yang selama ini mengganjal dihatinya karena sang kakak sangat rajin mengerjakan sholat tahajud tapi sholat subuh selalu kesiangan

__ADS_1


"Masyaallah, itu pertanyaan yang sangat bagus. Kalian pernah dengan cerita gak. Ibu jawab sambil cerita ya" kata Elisa kepada anak-anak muridnya


Kemudian Elisa berjalan kesana kemari mulai bercerita kepada anak-anak muridnya sembari menjawab pertanyaan dari Lilis tadi, pertanyaan Lilis tadi kejadiannya pernah dialami oleh Sulaiman bin Abi Hatsmah, salah satu sahabat Nabi yang istiqamah melaksanakan shalat tahajud dan shalat subuh berjamaah dengan sahabat Umar bin Khattab. Pernah pada suatu ketika, Umar bin Khattab tidak melihat Sulaiman bin Abi Hatsmah melaksanakan shalat subuh berjamaah seperti biasanya, hingga akhirnya beliau menanyakan perihal ini kepada ibu Sulaiman yang bernama Syifa’.


Ibu Sulaiman menerangkan bahwa Sulaiman tertidur karena semalam suntuk melaksanakan shalat tahajud, mendengar hal tersebut Umar bin Khattab menegurnya dan mengatakan bahwa melaksanakan shalat subuh berjamaah lebih utama dari pada melaksanakan shalat malam tapi akan berakibat pada tidak melaksanakan shalat subuh.


"Nah, jadi kita sebagai hamba ALLAH yang taat harus lebih mengutamakan sholat subuh karena sholat subuh adalah sholat wajib sedangkan sholat tahajud sholat sunnah. Apalagi bagi para laki-laki sholat subuh harus berjama'ah di masjid, karena pahalanya 27 kali lipat lebih banyak dari pada sholat sendirian yang hanya dapat 1. Dan untuk para perempuan harus sholat di rumah karena pahalanya sama dengan para laki-laki yang sholat berjama'ah" kata Elisa mengakhiri ceritanya barusan.


Anak-anak murid Elisa pun menganggukkan kepala paham atas cerita dan penjelasan Elisa barusan, tentu membuat anak-anak murid Elisa semakin menyukai cara Elisa mengajari mereka yang selalu menjawab pertanyaan dengan cerita sehingga mereka tak merasa bosan dan menambah wawasan mereka. Setelah itu Elisa meminta anak-anak muridnya mengerjakan tugas latihan yang ada di buku paket, dengan semangat anak-anak muridnya mau mengerjakan tugas latihan itu.


"Kalau ada yang kurang paham dengan pertanyaan di buku, bisa tanyakan dengan ibu ya" kata Elisa yang masih sibuk berjalan kesana kemari memperhatikan anak-anak muridnya satu persatu


Kelas begitu hening dan damai yang terdengar hanya buku paket yang di buka halamannya karena anak-anak murid Elisa tengah sibuk mencari jawaban pertanyaan yang di buku itu melalui buku itu juga, Elisa yang tak ingin anak-ank muridnya terganggu dan tidak konsentrasi karena dirinya terus berjalan kesana kemari memilih untuk kembali ke kursi guru dan duduk manis disitu.


Detik berganti menit berganti perjam sudah satu jam lebih Elisa berada di dalam kelas, dirinya begitu setia menunggu anak-anak muridnya mengerjakan tugas latihan darinya sampai menunggu bel berbunyi tanda pergantian mata pelajaran berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2