Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 47


__ADS_3

Dan disinilah pernikahan dadakan itu terjadi yaitu di rumah sakit di dalam ruang perawatan, tak ada yang istimewa sama sekali Erisa hanya memakai gamis seadanya tanpa berdandan begitu juga dengan Rendi bahkan tampak kusut karena dua bulan tak terurus.


Karena ini pernikahan dadakan jadi hanya menikah siri antara Rendi dan Erisa, namun tetap sah di dalam agama hanya saja pernikahan mereka belum tercantum di negara. Dokter Perdi yang duduk berhadapan dengan Rendi, masih tak percaya anaknya harus menikah siri padahal dirinya sangat mengharapkan sebuah pernikahan mewah apalagi Erisa anak semata wayangnya


"Rendi Dewantoro saya nikahkan engkau dengan anak saya bernama Erisa binti Perdiansyah dengan mas kawin uang 500 ribu di bayar tunai" ucap Dokter Perdi dengan mantap sembari menatap kedua bola mata Rendi dengan sangat lekat


"Saya terima nikahnya Erisa binti Perdiansyah dengan emas kawin tersebut" ucap Rendi dengan lantang bahkan menggema di dalam ruang rawat itu


"Bagaimana saksi?" tanya Penghulu kepada Agam dan orang-orang yang ada di dalam ruang rawat itu


Sah


Sah


Sah


Elisa yang mendengar itu langsung tersenyum, di lihatnya Erisa yang ragu ingin mencium punggung tangan Rendi sehingga Elisa langsung menarik tangan Rendi dan Erisa lalu di satukannya kedua tangan itu dan di gengamnya dengan erat.


"Mas cintailah Erisa seperti Mas mencintaiku" kata Elisa sembari tersenyum menatap Rendi


"Erisa jaga Mas Rendi baik- baik, aku percaya kamu bisa menjadi istri yang sangat baik dan memberi Mas Rendi keturunan" kata Elisa pada Erisa membuat Erisa menitikkan air mata

__ADS_1


Erisa mungkin bahagia akhirnya bisa bersatu dengan cinta pertamanya namun berbeda dengan Rendi, dirinya bahkan tak ada sedikit pun berniat mencintai wanita lain selain Elisa apalagi di ingatannya masih jelas bahwa penyebab Elisa masih di rumah sakit sampai detik ini adalah Erisa.


"Semoga rumah tangga kalian sakinah mawadah warahmah, aku bahagia jadi aku bisa pergi dengan tenang" kata Elisa kemudian memejamkan kedua kelopak matanya dan genggaman di tangannya mulai mengendur


"Elisa....." panggil Rendi dan Erisa berbarengan


Semua orang di dalam ruangan juga mendekati Elisa, Agam begitu terpukul mendapat kenyataan sang anak meninggalkannya selama-lamanya padahal baru saja dirinya merasa bahagia telah menemukan anak biologisnya namun kebahagiaannya ternyata hanya sementara.


"Innalilahiwainnalirojiun" ucap Semua orang disitu setelah memastikan denyutan di nadi Elisa sudah hilang


"Elisa, sayang bangun kenapa kamu harus ninggalin aku" kata Rendi menitikkan air mata sembari memeluk tubuh Elisa yang kini terbujur kaku tapi di bibir Elisa terlihat senyuman yang indah


Agam pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut ingin segera mengurus pemakaman Elisa putri kandung yang baru berapa bulan ini di temukannya, setelah menyelesaikan kepada pihak rumah sakit Agam kembali ke ruangan yang masih terdengar pilu karena kehilangan Elisa.


Apalagi Rendi dirinya bahkan tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Elisa, sedangkan Erisa melihat pemandangan itu sedih karena Elisa telah meninggalkan mereka semua untuk selamanya namun satu sisi dirinya sakit hati karena kenyataan Rendi sangat mencintai Elisa.


Meski kini Erisa menjadi istri satu-satunya untuk Rendi namun sepertinya posisi Elisa di hati Rendi takkan bisa di gantikannya, Erisa tau akan sulit untuk membuat Rendi melihat dirinya sekarang sebagai seorang istri dan tak bisa Erisa bayangan bagaimana pernikahan mereka ke depannya nanti.


Para perawat mulai berdatangan masuk ke dalam ruangan tersebut, kemudian para perawat menutup jenazah Elisa dengan kain sedangkan yang lain berusaha memegang Rendi agar jenazah Elisa bisa secepatnya di urus. Brangkar pun mulai di dorong oleh para perawat melewati koridor rumah sakit yang tampak lenggang menuju pintu keluar masuk rumah sakit, dimana sebuah ambulan sudah di siapkan.


Kirana merangkul pundak Erisa melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut, mereka berusaha saling menguatkan satu sama lain saat ini. Sedangkan Rendi juga berusaha di kuatkan oleh kakak perempuannya, berbeda dengan Agam dan Dokter Perdi yang berusaha tegar apalagi semua orang disitu sangat terpukul.

__ADS_1


Dokter Perdi sudah berada di dalam mobilnya bersama sang istri dan sang anak, sedangkan mobil Rendi di bawa oleh Agam karena Rendi memilih menemani jenazah Elisa di dalam ambulan dan kakak perempuan Rendi memilih ikut Agam. Mobil ambulan pun mulai melaju meninggalkan rumah sakit itu menuju ke kediaman Rendi dan Elisa, di belakang mobil ambulan mobil yang di lajukan oleh Dokter Perdi dan Agam beriringan berusaha menyeimbangi mobil ambulan itu.


"Ya allah, nyonya Elisa" kata ART yang bekerja di rumah Rendi dan Elisa masih tak percaya bahwa jenazah yang tertutup kain itu dan yang ada di tengah rumah itu adalah Elisa


Para tetangga yang ada di sekitar perumahan elit milik Rendi dan Elisa mulai berdatangan saat mendengar pengumuman di masjid yang ada di komplek perumahan itu mengabari bahwa Elisa meninggal dunia, dan kini di dalam rumah mulai terdengar suara beberapa orang membaca surat yasin serta terdengar tangisan pilu.


"Ikhlas nak, harus ikhlas. Kalau seperti ini akan membuat Elisa makin berat untuk pergi ke alamnya" kata Agam memberi kekuatan dengan Rendi agar bisa menerima kenyataan ini


Rendi yang mendengar ucapan Agam pun akhirnya sadar bahwa dirinya dari tadi menangisi Elisa, bahkan mungkin saat ini kondisinya seperti orang gila dan Rendi pun segera menyeka air matanya.


"Pak Ustad biar saya sendiri saja yang memandikan jenazah istri saya" kata Rendi setelah merasa lebih tenang


"Baiklah nak Rendi, nanti istri saya yang membimbing dan mengajari nak Rendi bagaimana cara memandikan jenazah tersebut" kata Ustad itu kemudian meminta beberapa orang membantu Rendi memindahkan jenazah Elisa ke belakang ingin segera di mandikan


Di ruang belakang yang tertutup kini tinggal hanya Rendi dan istri ustad tadi, istri ustad itu mulai mengarahkan pada Rendi bagaimana cara memandikan jenazah. Dengan cekatan Rendi menuruti semua arahan dari istri ustad itu sampai akhirnya selesai acara memandikan jenazah, selama memandikan tadi Rendi ingin menangis namun dirinya tahan karena tak ingin berlama-lama.


Apalagi jenazah harus segera di makamkan, setelah selesai memandikan jenazah Elisa Rendi masih berdiri disitu memperhatikan para ibu-ibu yang mengafani jenazah Elisa.


"Masyaallah jenazah almarhumah Elisa harum kasturi dan lihat senyum terukir di bibirnya" kata Ibu-ibu itu begitu terharu melihat jenazah Elisa itu


Rendi yang berdiri tak jauh dari situ juga bisa mencium harum kasturi, sampai harum kasturi itu sampai ke ruang depan dimana para pelayat datang.

__ADS_1


__ADS_2