
Suara alarm di HP Rendi begitu nyari apalagi memekakkan telinga Randi yang kebetulan HP itu berada di atas meja samping tempat tidur, Rendi pun perlahan mengerjapkan kedua kelopak matanya dan mulai beranjak duduk ingin mengumpulkan nyawanya namun kepalanya terasa sangat berat. Saat kedua kelopak mata Rendi terbuka sempurna dan dirinya sudah duduk sembari bersandaran, Rendi baru teringat semalam ia habis minum lagi.
Saat Rendi hendak turun dan menyingkap selimut yang membalut tubuhnya, Rendi begitu terkejut melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang. Kemudian kedua bola mata Rendi menangkap pakaian yang berceceran di lantai kamar, namun bukan pakaiannya saja yang terlihat disitu ada sebuah jilbab dan gamis membuat Rendi langsung membolakan kedua bola matanya.
"ERISA....." teriak Rendi menggema di dalam kamar utama itu beruntung kamar tersebut kedap suara sehingga takkan ada yang mendengar
Erisa yang masih tertidur langsung bangun saat mendengar teriakan Rendi, bahkan dirinya pun segera duduk dan Erisa juga terkejut mengapa bisa dirinya satu tempat tidur dengan Rendi saat ini. Rendi langsung mencengkeram bahu Erisa dengan begitu keras, membuat Erisa meringis kesakitan dan bingung apa salah dirinya sehingga di perlakukan Rendi seperti itu.
"Kamu memanfaatkan aku yang sedang mabuk, HAH" kata Rendi dengan nada suara yang begitu tinggi
Erisa sampai terlonjak kaget belum pernah dirinya melihat Rendi semarah itu padanya, bahkan selama menikah setengah tahun Rendi juga tak pernah menyakiti tubuhnya namun entah mengapa hari ini Rendi berani melakukan kekerasan padanya.
"Ak...Aku tidak mengerti kamu ngomong apa" kata Erisa terbata-bata begitu takut melihat raut wajah dan mata Rendi yang sudah memerah seperti sangat marah
"Kamu mencari kesempatan mentang-mentang semalam aku mabuk, kamu sengaja kan menggoda aku biar aku mau menyentuhmu. Cih, kamu itu sama seperti pel*cur diluaran sana memanfaatkan orang sedang mabuk" kata Rendi dengan tatapan menghina Erisa
__ADS_1
"Aku tidak pernah memanfaatkan kamu, semalam aku hanya membantu kamu tapi kamu yang tiba-tiba memeluk aku bahkan mencium aku duluan" kata Erisa sembari menitikkan air matanya sakit hati disamakan Rendi dengan pel*cur
"Bullshit, keluar dari kamar aku sekarang" bentak Rendi langsung mendorong tubuh Erisa begitu saja
Erisa yang tak siap akhirnya terjatuh beruntung selimut yang membalut tubuhnya ikut terjatuh sehingga Erisa tak begitu merasakan sakit saat tubuhnya mendarat di permukaan lantai, Erisa yang masih menangis segera mengambil gamis dan jilbabnya lalu bergegas di pakainya karena dirinya memakai terburu-buru dirinya tak tau kalau gamis yang di pakainya terbalik.
"Aw...." ucap Erisa saat hendak berdiri dirinya merasakan sakit luar biasa di bagian inti-nya
Namun karena dirinya tak mau membuat Rendi semakin murka, Erisa menahan rasa sakit itu dan bergegas keluar dari kamar utama sembari menyeka air mata karena takut di lihat oleh ART di rumah ini jika melihat dirinya menangis. Karena selama menikah dengan Rendi meski Rendi tak menganggap dirinya, Erisa tak pernah menampakkan raut wajah sedih apalagi menangis.
Tiba di dalam kamar tamu yang biasa Erisa tempati, dirinya langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya yang semalam habis melakukan hubungan suami istri dengan Rendi. Erisa kembali menangis di bawah air shower yang mengalir membasahi seluruh tubuhnya, Erisa tak menyesal memberikan sesuatu yang berharga dalam hidupnya untuk Rendi.
Setelah kepergian Erisa, Rendi terpaku menatap bercak darah di sprei tempat tidurnya. Ternyata semalam mereka sudah melakukan hubungan suami istri, sebenarnya Rendi tak pernah menginginkan hal itu terjadi apalagi rasa bencinya terhadap Erisa masih ada dan kini justru semakin bertambah.
Karena tak mau mengenang hal itu Rendi segera menarik sprei itu kemudian di bawanya ke kamar mandi lalu di letakkannya sprei itu di bawa shower yang air mulai mengalir dan di biarkannya begitu saja. Kemudian Rendi masuk ke dalam bathtub berendam di dalam situ, ingin merilekskan pikirannya yang sangat kacau akan peristiwa pagi ini.
__ADS_1
.
.
Semenjak kejadian itu Rendi setiap hari justru semakin menghindar dari Erisa, bahkan Rendi tak pernah mau lagi makan di rumah dan dirinya memilih makan di luar. ART pun di beri pesan oleh Rendi untuk tak perlu repot-repot memasak makanan untuknya karena sampai kapan pun dirinya takkan mau lagi makan satu meja dengan Erisa, dan untuk Erisa biarkan memasak sendiri tak perlu mengunakan tenaga ART.
ART itu sebenarnya bingung namun karena yang mengajinya selama ini adalah Rendi jadi menuruti perintah majikannya itu, Erisa justru tak masalah dirinya harus menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri dan dirinya juga sadar disini seperti hanya numpang hidup. Tapi sebenarnya Erisa selalu menangis di dalam kamar melihat Rendi semakin menghindarinya, dirinya pikir dengan dirinya sudah menyerahkan apa yang berharga dalam hidupnya Rendi akan berubah.
Ternyata pemikirannya telah salah bahkan kini hubungan mereka semakin tampak seperti orang lain, pagi siang malam tak pernah bertatap muka jangankan bertatap muka berpapasan pun tak pernah. Karena Rendi pergi selalu pagi-pagi disaat Erisa sedang mandi, dan pulang ke rumah malam hari itu pun selalu tengah malam disaat Erisa sudah terlelap.
"Nyonya kok melamun?" tanya ART yang bekerja di rumah Rendi memperhatikan Erisa yang belum menyentuh sarapannya sama sekali
"Gak tau bik, pagi ini aku kurang nafsu mau makan" kata Erisa yang tak semangat untuk sarapannya meski di atas piring itu terlihat nasi goreng seafood yang sangat menggoda
"Harus makan nya, nanti nyonya sakit gimana" kata ART itu lagi
__ADS_1
Erisa pun diam tak menyahut lalu dirinya segera menyantap sarapannya meski kurang nafsu tapi dirinya paksa, karena benar apa kata ART itu harus di makan nanti jika dirinya sakit siapa yang akan mengurus dirinya takkan ada kecuali dirinya sendiri. Hanya berapa menit akhirnya nasi goreng seafood yang ada di piring tadi sudah habis dan telah berpindah ke dalam lambung Erisa, lalu Erisa meminum segelas air putih sampai tandas.
ART itu langsung mengembangkan senyuman melihat istri majikannya menghabiskan sarapannya, lalu ART itu mengambil piring bekas istri majikannya serta gelas yang sudah kosong itu hendak di cucinya. Sedangkan Erisa memilih melangkahkan kaki ke ruang keluarga, ingin menonton TV karena dirinya tak ada kerjaan lain selain itu.