Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 52


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Entah mengapa nafsu makan Erisa jadi bertambah bahkan dirinya sering kali satu jam sekali merasa lapar padahal dirinya makan sangat banyak, namun selagi di dalam kulkas dapur ada banyak stok bahan-bahan untuk masak jadi Erisa tak masalah dirinya akan tetap memasak apa saja yang cepat dan simple.


Kini suasana hati Erisa terasa bahagia meski hubungannya dengan Rendi masih belum ada kemajuan sama sekali, bahkan bukan tak ada kemajuan Rendi justru semakin jarang pulang ke rumah terkadang ART bilang tiga hari baru Rendi akan menampakkan batang hidung. Dan selama itu juga Erisa jadi pernah tau lagi urusan Rendi, karena dirinya sudah lama tak melihat Rendi di rumah ini.


Ting....Tong


Bel di rumah tersebut berbunyi Erisa yang kebetulan hanya duduk di ruang keluarga menikmati potongan buah segera beranjak saat mendengar bunyi bel, kemudian dirinya melangkahkan kaki menuju ruang depan sampai tiba di pintu utama. Tanpa melihat dari balik jendela Erisa langsung saja membuka pintu tersebut, saat pintu terbuka Erisa kaget tiba-tiba tubuh Rendi terjatuh di tubuhnya.


"Mas, bangun Mas" kata Erisa menepuk pelan pipi Rendi yang terasa sangat panas


Namun tak ada sahutan dari Rendi sepertinya Rendi pingsan, Erisa pun segera membantu membawa tubuh Rendi meski sangat kesusahan karena tubuh Rendi lebih besar dari tubuh mungilnya. Erisa membawa Rendi sampai ke dalam kamar utama yang di tempati Rendi, lalu perlahan ia membantu meletakkan tubuh Rendi itu meski dengan susah payah.


Setelah itu Erisa mengambil baskom untuk di isi air serta handuk kecil, Erisa pun mulai merawat Rendi yang terkena demam tinggi itu sampai berapa jam membuat Erisa terserang kantuk dan Erisa pun tertidur di samping ranjang tempat tidur Rendi dengan posisi duduk. Saat Erisa menikmati tidurnya meski tak nyaman, Rendi akhirnya bangun dirinya melihat di sampingnya ada Erisa yang tertidur dengan posisi duduk.


"Erisa bangun, ngapain kamu tidur di kamar aku" kata Rendi mendorong kasar pundak Erisa membuat Erisa langsung terbangun

__ADS_1


"Mas, kamu udah bangun. Bagaimana masih pusing gak?" tanya Erisa kemudian mengambil handuk kecil yang terjatuh di dekat Rendi lalu mengangkat tangannya hendak menempelkan punggung tangannya ke kening Rendi


Namun belum sampai ke kening, Rendi sudah terlebih dahulu menepis tangan Erisa dengan kasar membuat Erisa sedikit meringis kesakitan.


"Keluar dari kamar aku, tak perlu kamu repot-repot mengurus aku. Aku bisa mengurus diri sendiri" kata Rendi dengan nada suara yang sangat dingin dan agak tinggi


Erisa tak berani menyahut lagi, dirinya pun langsung berdiri dari duduknya sembari membawa baskom yang berisi air dan handuk kecil itu kemudian Erisa keluar dari kamar Rendi tanpa menoleh sedikit pun. Erisa sebenarnya masih khawatir dengan keadaan Rendi karena tadi Rendi demam tinggi sembari menggingau menyebut nama Elisa, namun Erisa sadar meski seribu kebaikan dirinya lakukan kepada Rendi takkan membuka hati Rendi sedikit pun.


"Gimana nya, keadaan tuan Rendi?" tanya ART yang bekerja di rumah Rendi saat melihat Erisa datang ke dapur membawa baskom berisi air tadi


"Agak mendingan, Mas Rendi juga udah sadar" jawab Erisa seadanya namun terlihat di raut wajahnya masih khawatir


.


.


"Baiklah, bik. Bibik antar saja makanan yang sudah aku masak buat Mas Rendi tadi, aku akan makan sendirian saja disini" kata Erisa lagi-lagi merasa kecewa mendapat penolakan dari Rendi tapi setidaknya dirinya bisa memasakkan lauk buat Rendi untuk pertama kali meski tak tau akan di makan Rendi tidak

__ADS_1


ART itu pun menyiapkan makan untuk Rendi, setelah siap di atas nampan segera di bawanya ke kamar utama dimana Rendi berada. Seperti biasa sebelum masuk ART itu mengetuk pintu kamar majikannya itu terlebih dahulu, setelah dapat perintah dari majikannya baru ART itu membuka pintu itu sedikit lebar agar memudahkannya masuk karena membawa nampan berisi makanan itu.


"Taruh disitu saja, bik" ujar Rendi yang saat ini duduk bersandaran di sandaran tempat tidur sembari memijit keningnya yang masih sedikit pusing


"Segera di makan tuan, biar tuan cepat sembuh. Saya permisi" kata ART itu setelah meletakkan nampan berisi makanan di atas meja lalu pamit undur diri


Rendi yang melihat sup ayam yang asapnya masih mengepul itu jadi tergoda, segera dirinya mengambil mangkuk yang berisi sup ayam itu dan perlahan mulai menyantap makanan yang terasa sangat lezat di lidahnya. Rendi merasa ini masakan yang paling lezat selama ART itu bekerja di rumahnya, bahkan masakan Elisa pun tak pernah selezat ini.


Deg


Ketika sup ayam itu telah habis Rendi baru terpikir jangan-jangan makanan yang di makannya barusan adalah masakan Erisa, karena Rendi pernah menyicip makanan Erisa yang di masak oleh Erisa sewaktu dirinya sering menginap di rumah mertuanya bersama Elisa dulu. Karena sudah terlanjur Rendi pun tak bisa berbuat apa-apa, namun ke depannya dirinya akan memastikan terlebih dahulu dengan ART nya agar tak makan masakan Erisa lagi.


Selesai makan Rendi pun memilih beranjak dari tempat tidur hendak membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket, tiba di kamar mandi Rendi segera masuk ke dalam bathtub ingin berendam sejenak agar tubuh dan kepalanya lebih rileks apalagi akhir-akhir ini Rendi selalu sering sakit kepala entah apa penyebabnya.


Hampir satu jam akhirnya Rendi telah selesai membersihkan tubuhnya, kemudian Rendi segera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya lalu dirinya melangkahkan kaki ke arah lemari pakaian. Di ambilnya salah satu baju kaos oblong dengan celana pendek berbahan jeans, selesai memakai pakaian lengkap Rendi masih mematung di dekat lemari pakaian itu.


"Elisa, aku sangat merindukanmu. Mengapa kamu tega meninggalkan aku sendirian disini" kata Rendi berdiri di depan lemari pakaian milik Elisa yang masih tertata rapi disitu sembari memeluk salah satu pakaian itu.

__ADS_1


Bahkan saking Rendi mencintai Elisa dirinya tak pernah berniat memindahkan atau memberikan kepada siapapun semua pakaian milik Elisa itu, karena setiap kali dirinya merasa rindu dengan Elisa dirinya akan mencium salah satu pakaian milik Elisa yang ciri khas bau tubuh Elisa masih melekat di semua pakaian itu dan bayang-bayang Elisa bahkan masih selalu muncul di pelupuk matanya.


__ADS_2