
"Kamu kenapa gak ngomong kalau hari ini pulang ke Indonesia, kan bisa Abi dengan Umi jemput di bandara" kata Dokter Perdi setelah mereka puas melepaskan rasa rindu mereka yang sudah lama tak bertemu
"Erisa sengaja Abi, ingin memberi kejutan dengan Abi dan Umi" kata Erisa masih berada di antara sang ibu dan sang ayah
"Ahh, kamu itu memang selalu begitu. Gak berubah" kata Dokter Perdi menoel hidung sang anak yang terhalang cadar
"Udah Abi, Erisa bukan anak kecil lagi" kata Erisa pura-pura merajuk dengan sang ayah
"Sampai kapanpun kamu itu tetap jadi anak kecil bagi Abi dan Umi" kata Dokter Perdi yang gemas dengan tingkah sang anak
Cukup lama Erisa berbincang bersama kedua orang tuanya, dirinya pun pamit hendak ke kamar tidurnya yang sudah empat tahun tak ditempatinya namun dirinya sangat yakin pasti kamar tidurnya di rawat oleh sang ibu. Tiba di kamar tidurnya dan benar saja apa yang dipikirannya sedikit pun tak ada yang berubah barang-barang di dalam kamar tidurnya, bahkan semua tertata seperti dulu dirinya meninggalkan kamar tidurnya ini.
Erisa meletakkan koper miliknya di dekat lemari pakaiannya lalu dirinya melepas gamis, jilbab, cadar, kaos kaki serta hand sock yang melekat ditubuhnya dan hanya meninggalkan celana training serta kaos oblong yang selalu dipakainya di dalam gamis, Erisa memang sudah biasa memakai training dan kaos oblong sebelum memakai gamis. Bahkan kebiasaan itu terjadi sejak dirinya mulai menutup aurat dengan sempurna yaitu ketika baligh, kemudian Erisa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan dirinya pun mulai terlelap.
Sang ibu masuk kamar tidur sang anak ingin memastikan sang anak sudah beristirahat, setelah melihat sang anak sudah terlelap di atas tempat tidur sang ibu pun ingin keluar dari kamar tidur sang anak namun matanya melihat koper milik sang anak yang masih tergeletak di samping lemari. Sang ibu pun berinisiatif membantu membereskan pakaian sang anak yang ada di dalam koper, apalagi sang ibu kasihan melihat sang anak baru pulang pasti sangat kelelahan karena penerbangan dari Kairo Mesir ke Indonesia lumayan lama.
Selesai membereskan barang-barang sang anak sang ibu keluar dari kamar tidur sang anak, ingin memasak untuk makan malam nanti apalagi tadi sang ibu sudah mengabari sang anak satu lagi bahwa adik atau saudara kembarnya sudah pulang ke rumah. Tiba di dapur sang ibu mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas, ingin memasak makanan favorit kedua anaknya dan sang ibu sangat tak sabar menanti malam ini yaitu berkumpul satu keluarga.
__ADS_1
Hanya satu jam sang ibu berkutik di dapur akhirnya semua masakan sang ibu semua sudah matang, setelah itu sang ibu membereskan alat-alat masak yang kotor habis digunakannya barusan sekalian menata semua masakannya di atas meja makan.
.
.
"Assalamualaikum" ucap Elisa dan Rendi secara bersamaan setelah pintu di bukakan oleh sang ibu
"Walaikumsalam, ayo masuk" kata Kirana mempersilahkan sang anak dan sang menantu masuk
Setelah menghilangkan rasa rindu masing-masing Erisa pun mengajak semuanya untuk makan malam bersama, dan mereka semua duduk di kursi masing-masing. Erisa sesekali melirik ke arah Elisa yang tengah mengambilkan makan untuk Rendi, terlihat sekali mereka begitu bahagia meski sudah hampir satu tahun belum memiliki momongan.
Kini mereka semua makan bersama dalam diam hanya terdengar dentingan sendok yang mengenai permukaan piring, sekian lama mereka makan bersama akhirnya selesai juga. Erisa dan Elisa begitu kompak membereskan sisa makan mereka barusan sedangkan sang ibu di minta untuk istirahat saja, Erisa dan Elisa juga berbincang-bincang mengisi kekosongan di antara mereka yang tengah mencuci piring.
"Kak Elisa pertemuan pertama dengan Kak Rendi dimana?" tanya Erisa iseng-iseng membahas awal pertemuan saudara kembarnya
"Kata Rendi waktu dia tak sengaja menabrakku di bandara, pas kami sama-sama tiba di bandara" jawab Elisa tersenyum mengingat awal pertemuannya dengan Rendi
__ADS_1
" Wahh, pulang-pulang ketemu jodoh" kata Erisa meledek saudara kembarnya menutup rasa sakit hatinya
"Kamu gimana, udah move-on beluk dengan cinta pertamamu atau masih mau menunggu kedatangannya?" tanya Elisa yang kembali membahas masa lalu Erisa
Erisa hanya tersenyum kecut di balik cadarnya menanggapi pertanyaan Elisa, andai saja Elisa tau bahwa ternyata cinta pertama atau laki-laki yang dinantinya selama ini adalah Rendi yang sekarang menjadi suami Elisa. Elisa jadi terdiam saat melihat Erisa diam dan tak mau menjawab pertanyaannya, Elisa menjadi merasa bersalah dan meminta maaf kepada Erisa jika memang pertanyaannya barusan menyinggung perasaan Erisa.
Selesai mencuci piring Erisa dan Elisa kini bergabung dengan kedua orang tua mereka serta Rendi yang tengah berbincang hangat di ruang keluarga, malam ini Elisa dan Rendi di minta untuk menginap saja apalagi sekarang sudah malam untuk pulang ke rumah mereka. Elisa dan Rendi tentu tak menolak permintaan kedua orang tua Elisa, Erisa tak banyak bicara memilih diam dan sibuk dengan HP-nya karena ingin menenangkan hatinya yang selalu bergetar ketika berada di dekat Rendi.
"Umi Abi, Erisa ke kamar sebentar ada perlu" kata Erisa memilih beranjak dari sana dari pada harus menyaksikan kemesraan Elisa dan Rendi
"Ya sudah, gak apa-apa. Mungkin Erisa juga masih lelah, istirahat saja dulu" kata Dokter Perdi mempersilahkan sang anak untuk ke kamar tidur
Erisa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum di balik cadarnya dan melangkahkan kaki ke arah kamar tidurnya yang bersebelahan dengan kamar tidur milik Elisa, Rendi yang mendengar suara Erisa barusan merasa seperti tak asing dan merasa seperti pernah bertemu namun dirinya lupa dimana.
"Ya Allah, apa sesakit ini takdir yang harus aku terima" kata Erisa setelah tiba di dalam kamar menumpahkan rasa sesak di dadanya yang ditahannya dari tadi
Erisa rasanya tak sanggup untuk menjalani hari-hari jika harus bertemu dengan Rendi setiap kali Elisa dan Rendi menginap disini, Erisa merasa lebih baik dirinya lebih lama berada di Kairo Mesir dari pada harus menyaksikan terus menerus kemesraan Elisa dan Rendi.
__ADS_1