
Lagi-lagi sarapan pagi ini Erisa menyaksikan Elisa yang sangat telaten mengambilkan makanan untuk Rendi dan menyiapkan secangkir kopi untuk Rendi, hati yang sudah disiapkannya untuk bisa tegar dan menerima kenyataan ini nyatanya masih sulit. Erisa pun buru-buru menghabiskan sarapannya dan langsung pamit ke kamar dengan kedua orang tuanya dan Elisa serta Rendi, sang ayah yang sebenarnya selalu memperhatikan kelakuan Erisa bertanya-tanya dalam hati.
Di dalam kamar tidur Erisa hanya bisa mencurahkan isi hatinya di diary miliknya, mengungkapkan apa saja yang terasa sesak di dadanya ada sedikit terasa plong. Setelah itu Erisa menutup dan menyimpan kembali diary miliknya, Erisa memainkan HP-nya sembari memikirkan jalan kehidupannya selanjutnya harus bagaimana.
Dirinya yang sudah lulus kuliah jadi sekarang tentu harus memikirkan karir selanjutnya, dari dulu impiannya ingin membuka sekolah TK karena Erisa begitu menyukai anak-anak. Namun dirinya belum memiliki modal untuk membangun sekolah TK, jadi dirinya harus kerja terlebih dahulu sesuai dengan ijazahnya sekarang namun dirinya yang memakai cadar jadi insicure karena sulit ada yang mau menerima perempuan bercadar untuk menjadi seorang guru kecuali di sekolah pesantren.
Sedangkan guru di sekolah pesantren gaji hanya 500 ribu terus bertahun-tahun dirinya baru bisa mengumpulkan uang dari gaji segitu, jika mengajar di sekolah negeri sulit ada yang mau menerima dirinya yang memakai cadar di tambah dirinya belum PNS. Terlalu melamun akhirnya lamunannya seketika buyar saat mendengar ada suara ketukan pintu dari luar kamar tidurnya, Erisa segera beranjak mendekati daun pintu dan membukanya.
"Boleh Abi masuk?" tanya Dokter Perdi yang berdiri di ambang pintu
"Masuk bi" jawab Erisa yang sedikit bingung tumben-tumben sang ayah menghampiri dirinya ke kamar.
Sang ayah segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar anak kesayangannya itu sembari memperhatikan seluruh isi kamar tidur sang anak, lalu sang ayah duduk di sofa yang ada di dekat jendela yang terbuka membuat angin pagi yang segar masuk.
"Abi perhatikan kamu selalu menghindar setiap bertemu dengan Elisa dan Rendi, ada masalah" kata Dokter Perdi to the poin sembari menatap mata sang anak
"Erisa takut di tanya kapan nyusul kak Elisa bi, makanya setiap kita kumpul Erisa memilih ke kamar" jawab Erisa memberi alasan palsu yang sebenarnya tak seperti itu
"Jodoh itu udah Allah tentukan, Abi tak akan memaksa Erisa untuk segera menikah meski kelihatannya Erisa sudah pantas" kata Dokter Perdi melihat sang anak sedikit gelisah
Erisa menganggukkan kepalanya paham, namun dirinya tak ingin sang ayah tau akan perasaannya yang sebenarnya selalu sakit ketika melihat kemesraan Elisa dan Rendi. Apalagi Elisa dan Rendi terlihat sangat bahagia, Erisa tersenyum entah sampai kapan dirinya terus-terus menghindar dari Elisa dan Rendi jika mereka menginap di rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Lalu kenapa sekarang kelihatannya kamu murung?" tanya Dokter Perdi menatap sekilas kedua mata sang anak
"Abi masih ingat impian Erisa gak?" tanya Erisa bukan menjawab dirinya justru bertanya balik dengan sang ayah
"Ingin membuka sekolah TK" jawab Dokter Perdi kemudian menatap luar jendela
"Ternyata Abi masih ingat" jawab Erisa senang sang ayah masih ingat impiannya dulu padahal dirinya membicarakan soal mimpinya waktu dirinya masih duduk di bangku SMP
Sang ayah tersenyum dan segera mendekati sang anak yang duduk di tepi ranjang, lalu sang ayah memeluk sang anak dengan penuh kasih sayang.
"Abi akan modalin kamu buat bangun sekolah TK, Abi sudah mempersiapkan semuanya jauh sebelum kamu kembali ke Indonesia" jawab Dokter Perdi mengelus pundak sang anak
Percakapan Erisa dan sang ayah sebenarnya dari tadi di dengar oleh Elisa yang hendak ke kamar tidurnya, kebetulan hari ini tanggal merah jadi Elisa dan Rendi tak masuk kerja karena sekolah libur. Elisa segera menghapus air matanya mendengar sang ayah yang begitu mengistimewakan Erisa, padahal Elisa masih ingat bahwa membuka sekolah TK impian dirinya dan Erisa namun sang ayah tak ada bertanya dengan dirinya justru ketika Erisa pulang di beri kejutan yang istimewa.
Elisa melanjutkan langkah kakinya menuju kamar tidurnya setelah memastikan tak ada bekas air mata di kedua pipinya, tiba di kamar Elisa melihat Rendi tengah memainkan HP sembari bersandar di sandaran ranjang.
"Sayang, kami kenapa murung habis bantu Umi di dapur?" tanya Rendi pada Elisa yang sangat jelas sedang murung
"Mas, aku mau tanya sesuatu boleh?" kata Elisa bukan menjawab dirinya justru bertanya dengan Rendi sembari duduk di sebelah Rendi
"Mau nanya apa?" tanya Rendi sembari meletakkan HP-nya di atas meja yang ada di samping tempat tidur
__ADS_1
"Apa ada orang tua yang tak sayang dengan anak?" tanya Elisa sembari menatap mata Rendi
"Gak adalah sayang, mana ada orang tua gak sayang dengan anak. Kok pertanyaan kamu aneh sih" jawab Rendi menatap Elisa sembari tersenyum
Elisa hanya mengangguk mendengar jawaban dari mulut Rendi, benar tak ada di dunia ini orang tua tidak sayang dengan anak terus mengapa dirinya merasa sang ayah selalu pilih kasih dan tak menyayangi dirinya bahkan untuk mencium punggung tangan sang ayah saja dirinya tak boleh tapi berbeda dengan Erisa tadi bahkan memeluk sang ayah.
"Apa mungkin aku bukan anak kandung Abi dan Umi?" tanya Elisa yang terdiam begitu lama
Deg
Jantung Rendi seperti berhenti seketika mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Elisa, padahal selama mereka menikah Elisa tak pernah bertanya yang aneh-aneh namun mengapa hari ini justru pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Elisa.
"Kamu ini ngomong apa sih" kata Rendi tak langsung menjawab pertanyaan tadi
"Iya mas, secara logika kenapa Abi tak pernah mau aku mencium punggung tangannya terus selama ini aku juga tak pernah melihat mas Rendi mencium punggung tangan Umi" kata Elisa yang memang selama ini memperhatikan interaksi Rendi dengan sang ibu
"I...itu karena aku masih canggung dengan Umi, apalagi Umi begitu sempurna menutup auratnya" jawab Rendi terbata-bata dan menyembunyikan rasa gugupnya
"Hemm, terus kenapa Abi gak mau aku mencium punggung tangannya sedangkan tadi aku lihat Erisa memeluk Abi dan Abi tak menolak" kata Elisa mengingat Erisa yang memeluk sang ayah tadi
"Udah akh, ngomong kamu udah ngelantur kemana-mana. Kamu pasti lagi capek makanya mikir aneh-aneh, sini aku pijitin" kata Rendi sembari meraih pundak Elisa dan mulai memijit Elisa agar Elisa melupakan semua yang di bahas mereka barusan
__ADS_1