
Empat hari menjelang hari pernikahannya Rendi saat ini tengah sibuk mengurus buku nikah dan surat nikah miliknya dan Elisa yang di temani oleh calon mertuanya, calon mertuanya sengaja ikut serta karena sekalian ingin menjelaskan di KUA nanti agar pihak KUA mengerti dan juga memberi solusi siapa yang boleh menjadi wali nikah Elisa nanti. Selesai sudah data dan semuanya di serahkan di KUA, kini Rendi dan calon mertuanya makan siang terlebih dahulu di restoran.
"Rendi duluan ya bi" kata Rendi kepada calon mertuanya setelah mereka berada di parkiran dan mencium punggung tangan calon mertuanya dengan takzim
"Iya hati-hati di jalan. Apalagi sebentar lagi mau jadi pengantin" kata Dokter Perdi sembari menepuk pundak Rendi
Selesai makan Rendi dan tiba di parkiran mereka berpisah karena mereka membawa kendaraan masing-masing, Rendi yang memang sudah mengambil cuti dan tak ada kerjaan memilih untuk langsung pulang ke tempat tinggalnya. Namun di tengah perjalanan pulang ternyata adzan dzuhur berkumandang, Rendi pun melajukan sepeda motor yang dikendarainya menuju masjid yang tengah mengumandangkan adzan.
Satu persatu jama'ah yang hendak sholat dzuhur berdatangan memasuki masjid yang lumayan luas itu dan memang sepertinya masjid itu tempat persingahan orang-orang melakukan perjalanan, Rendi segera turun dari sepeda motor setelah memastikan setang sepeda motor terkunci sempurna. Rendi melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat wudhu, kemudian dirinya langsung mengambil air wudhu.
Kini Rendi sudah masuk ke dalam masjid dan berada di sop paling depan, dirinya tengah mengerjakan sholat sunnah tahiyatul masjid terlebih dahulu dan bertepatan dirinya selesai salah satu jama'ah mulai mengumandangkan iqamah. Kini semua para jama'ah di masjid tersebut memulai sholat mengikuti setiap gerakan imam yang paling depan, raka'at demi raka'at di kerjakan dengan begitu khusyuk.
"Mau kemana dek?" tanya Seorang ustad kepada Rendi setelah selesai sholat dan semua para jama'ah tinggal beberapa yang masih mengerjakan sholat sunnah ba'diyah dzuhur
"Mau pulang Pak, habis dari KUA mengurus surat nikah" jawab Rendi sembari tersenyum ramah
__ADS_1
"Masyaallah, mau menikah ya?" tanya Seorang ustad itu lagi
"Iya, Insyaallah 4 hari lagi. Pak" jawab Rendi dengan sopan
Seorang ustad itu hanya menganggukkan kepala sembari terus memandangi wajah Rendi, Rendi pun setelah selesai memakai sepatunya pamit dengan ustad itu dan melangkahkan kakinya dimana sepeda motornya terparkir. Dengan menganggukkan kepala sembari membunyikan klakson sepeda motornya Rendi pamit, kemudian dilajukannya sepeda motornya meninggalkan halaman masjid tersebut.
Dari KUA ke tempat tinggalnya yang memang tak begitu jauh tanpa menunggu berjam-jam Rendi pun tiba di tempat tinggalnya dan dirinya langsung masuk ke dalam rumah setelah pintu utama dibukanya, Rendi juga langsung menuju kamar tidurnya dan menjatuhkan bobot tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan kedua tangan menjadi bantal Rendi memandangi langit-langit di kamar tidurnya, dirinya tak sabar menunggu empat hari yang akan datang untuk menjadikan Elisa sebagai pendamping hidupnya.
"Elisa nama yang cantik secantik parasnya" kata Rendi bergumam dalam hati sembari tersenyum membayangkan wajah teduh Elisa
Sedangkan Dokter Perdi baru saja tiba di rumahnya, setelah memasukan mobil avanzanya ke dalam garasi Dokter Perdi keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah pintu di bukakan oleh sang istri. Sang istri yang menyambutnya dengan senyuman terindahnya, tak lupa mencium punggung tangannya dengan takzim dan dirinya membalas dengan mencium kening sang istri.
"Gimana bi, apa kata pihak KUA?" tanya Kirana kepada sang suami setelah mereka berada di dalam kamar tidur mereka
"Iya nanti wali hakim yang akan menikahkan Elisa, Abi minta ketika penyerahan buku nikah dan surat nikah. Umi cepat-cepat simpan agar Elisa tidak membaca buku nikah dan surat nikah mereka, agar Elisa tidak mengetahui kebenarannya" jelas Dokter Perdi sembari menghembuskan napasnya karena kelelahan mengurus pernikahan Elisa
__ADS_1
"Iya bi, Insyaallah Umi akan ingat pesan Abi" kata Kirana kemudian memijitkan kedua kaki sang suami yang tengah selonjoran
Kirana dan Dokter Perdi yang menikah sudah puluhan jarang ada masalah karena mereka selalu terbuka sama pasangan sehingga rumah tangga mereka tetap harmonis hingga detik ini, namun sayangnya setelah Kirana melahirkan Erisa dan Erika saudara kembarnya yang tak selamat itu sampai detik ini Kirana tak kunjung di beri momongan lagi oleh MAHA KUASA itu sebabnya Kirana sangat menyayangi Elisa layaknya anak kandung.
Setelah lebih baikkan Dokter Perdi izin dengan sang istri ingin beristirahat sejenak, Kirana yang mengerti segera keluar dari kamar tidur mereka dan memilih untuk menghabiskan waktunya di ruang keluarga menonton TV acara favoritnya yang tak boleh ketinggalan. Terdengar bunyi pintu di buka ternyata sang anak yang di dalam kamar tidur keluar dan menghampiri dirinya, sang anak menemaninya yang tengah asyik menonton TV sendirian.
"Wah, anak Umi, bentar lagi bakal jadi pengantin ni" ujar Kirana menggoda sang anak yang selalu perawatan memakai masker dan memakai lulur
"Ahh, Umi bikin Elisa malu aja" kata Elisa sembari tersenyum mendengar godaan sang ibu
"Kenapa malu, bentar lagi bakal jadi istri loh. Artinya juga bentar lagi bakal kayak Umi jadi seorang ibu" kata Kirana yang masih menggoda sang anak
"Iya mi, tinggal 4 hari lagi ya. Kok sepertinya cepet banget" kata Elisa yang juga tak menyangka statusnya akan berubah
Kirana bahagia karena akhirnya sang anak sebentar lagi akan menikah, dirinya tak menyangka bayi mungil yang merah dulu yang di besarkan serta di rawatnya dengan penuh kasih sayang kini sebentar lagi akan berganti status menjadi seorang istri. Kirana memeluk dan mencium sang anak dengan sepenuh hati dan jiwanya, sang anak juga ikut memeluk dirinya serta mencium kedua pipinya.
__ADS_1
Setelah Elisa menikah tentu sang anak yang satu lagi yaitu Erisa pasti juga akan menikah entah kapan pasti ada waktunya, Kirana tak menyangka anak-anaknya ternyata telah remaja semua bahkan sudah layak menikah dan menjadi seorang istri. Padahal yang Kirana ingat anak-anaknya masih kecil-kecil bahkan dulu sering menangis merengek minta di gendong secara bersamaan.