
"Kamu sepertinya sangat kelelahan" kata Rendi sembari memijit kedua pundak Elisa yang tengah duduk di depan meja rias
"Iya Mas, hari ini jadwal mengajar ku padat banget tadi" jawab Elisa yang menikmati pijitan dari tangan Rendi
"Apa mau aku kurangi jadwal mengajar mu?" tanya Rendi masih terus memijit kedua pundak Elisa
"Gak usah Mas, ya mau gimana lagi karena guru Pendidikan Agama Islam cuma aku saja" jawab Alesa kemudian menghentikan gerakan tangan Rendi yang masih memijitnya
Elisa menoleh ke arah Rendi sembari tersenyum kemudian beranjak dari duduknya, Elisa pamit dengan Rendi ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Selesai mandi dan sudah memakai pakaian lengkap Elisa keluar dari kamar dan melangkahkan kaki menuju dapur hendak memasak untuk makan malam mereka nanti, tapi tiba di dapur dirinya melihat di atas meja makan yang tertutup tudung saji sudah ada makanan bahkan sangat banyak.
Elisa mengerutkan keningnya bingung perasaan dirinya mandi tidak sampai satu jam, tapi tiba-tiba sudah ada makanan. Elisa meninggalkan dapur dan melangkahkan kaki ke ruang depan ingin mencari keberadaan Rendi, namun tak ditemukannya jadi Elisa memilih untuk duduk di ruang TV sekalian menunggu Rendi yang entah pergi kemana.
"Assalamualaikum" ucap Rendi sembari berjalan menghampiri Elisa yang tengah menonton TV
"Walaikumsalam, Mas dari mana?. Oh iya, siapa yang masak makanan yang di atas meja makan" kata Elisa mencerca Rendi dengan pertanyaan bertubi-tubi
"Satu-satu donk sayang, nanya" kata Rendi kemudian duduk di samping Elisa
Elisa hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.
"Mas, dari depan tadi. Makanan itu dari tetangga, katanya tadi habis dari hajatan terus dapat makanan banyak banget jadi di bagi-bagikannya dengan para tetangga sini" kata Rendi menjawab satu persatu pertanyaan Elisa
__ADS_1
"Masyaallah, rezeki ya Mas. Allah seperti tau banget kalau aku lagi capek dan rasanya gak sanggup mau masak, ehh tiba-tiba di kirimi Allah makanan melalui tetangga kita" kata Elisa sangat senang karena tak perlu capek-capek untuk masak setelah mendapatkan makanan dari tetangga
"Iya, alhamdulilah" jawab Rendi kemudian merangkul Elisa untuk lebih mendekat ke tubuhnya
Setelah lama menemani Elisa menonton TV di tambah hari juga sudah semakin sore, Rendi pamit dengan Elisa ingin membersihkan tubuhnya juga. Setelah dapat anggukkan dari Elisa, Rendi pun beranjak dan melangkahkan kaki menuju kamar utama.
.
.
Adzan magrib berkumandang terdengar sangat indah dan merdu di masjid yang ada di komplek perumahan tempat tinggal Elisa dan Rendi.
"Aku ke masjid dulu, Assalamualaikum" kata Rendi pamit kepada Elisa pergi ke masjid hendak sholat berjamaah
Elisa yang kebetulan sedang berhalangan untuk sholat memilih nonton TV lagi sembari menunggu ke pulangan Rendi dari masjid, setengah jam berlalu Rendi pun sudah pulang dari masjid dan sekarang mereka berdua tengah menikmati makan malam berdua dengan begitu lahap.
Selesai makan Rendi tak langsung meninggalkan Elisa, dirinya justru membantu Elisa untuk membereskan meja makan yang sedikit berantakkan sedangkan Elisa memilih untuk mencuci piring kotor bekas mereka makan barusan.
Setelah semua pekerjaan mereka selesai, Elisa dan Rendi kembali duduk santai di depan TV yang masih menyala. Elisa dan Rendi setiap malam memang hanya menghabiskan berdua menonton TV atau mengobrol untuk mengisi kebersamaan mereka, namun akhir-akhir ini Elisa selalu merasa sedih karena belum juga bisa memberikan Rendi keturunan.
"Mas, gimana kalau jam istirahat pertama besok kita ke Dokter Kandungan" kata Elisa memecahkan keheningan
__ADS_1
"Buat apa? bukannya kamu sedang datang bulan?" tanya Rendi bingung tiba-tiba Elisa ingin ke Dokter Kandungan
"Kita periksa sama-sama, Mas. Apakah aku bermasalah makanya sampai detik ini belum bisa hamil" kata Elisa yang begitu insicure
"Sssttt.... Anak itu titipan dari Allah, kita sebagai manusia hanya bisa berencana semuanya Allah yang menentukannya. Jadi serahkan semuanya pada Allah" kata Rendi kepada Elisa kemudian memeluk Elisa agar Elisa bisa lebih bersabar dengan ujian saat ini
Elisa pun terdiam dan memilih membenamkan kepalanya di dada bidang Rendi, dirinya sadar semua yang menetapkan takdir adalah MAHA KUASA tapi Elisa tetap terpikir bagaimana jika dirinya memang tak bisa memberikan keturunan kepada Rendi, apakah Rendi masih akan mempertahankan dirinya atau justru akan mencari istri lain agar bisa mendapatkan keturunan.
Pikiran buruk Elisa mulai bermunculan, dirinya benar-benar takut hal itu terjadi. Rendi terus mengusap punggung belakang Elisa memberi ketenangan dan kekuatan, agar mereka bisa melewati ujian ini sama-sama dan Rendi tak mempermasalahkan jika mereka tak memiliki keturunan toh ini sudah zaman modern jadi bisa untuk mengangkat anak dari panti asuhan.
.
.
"Udah malam kita ke kamar yuk, istirahat besok udah harus mengajar lagi kan" kata Rendi pulang dari masjid langsung menghampiri Elisa yang tengah menonton TV
"Ayo" jawab Elisa langsung beranjak dari duduknya
Rendi merangkul pinggang Elisa dan mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kamar utama, tiba di dalam kamar Rendi mengganti baju terlebih dahulu sebelum menyusul Elisa yang sudah berbaring di atas tempat tidur, setelah itu Rendi pun mendekati ranjang tidur dan ikut berbaring di samping Elisa yang begitu setia menunggunya.
Rendi pun sudah berbaring di samping Elisa sembari menatap Elisa dengan penuh cinta sama seperti Elisa juga menatapnya dengan penuh cinta, Rendi segera memeluk Elisa kemudian mencium pucuk kepala Elisa dan mengucapkan selamat malam sebelum menutup kedua kelopak matanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian sudah terdengar dari dengkuran halus yang keluar dari mulut Rendi yang artinya dirinya sudah tertidur, Elisa yang belum bisa memejamkan kedua kelopak matanya terus memandangi wajah Rendi yang tengah tertidur dengan sangat pulas.
"Semoga, kita tetap bersama-sama sampai masa tua hingga maut yang memisahkan kita nanti. Meski dalam rumah tangga kita tak akan ada tawa dan tangis anak-anak keturunan dari ku" kata Elisa sembari mengelus pipi Rendi dengan jari jemarinya