
Di sekolah SMP Negeri 1 Pancasila begitu gentar kabar tentang kepala sekolah yang akan menikah dengan guru favorit seluruh murid yaitu guru agama mereka siapa lagi kalo bukan Elisa, meski pun kepala sekolah juga terkenal ramah dan baik namun seluruh murid hanya masih tak percaya karena fenomena guru sekolah ini menikah dengan guru sekolah ini juga baru kali ini dan ini untuk pertama kali biasanya para dewan guru memilih mencari pasangan bidan atau perawat atau orang kantoran.
Seluruh murid masih sibuk pagi-pagi di koridor sekolah bergosip tentang kepala sekolah yang akan menikah dengan guru agama mereka, namun mereka tetap suka dan merasa bahwa kepala sekolah dengan guru agama memang pasangan serasi yang laki-laki cakep dan yang perempuan cantik. Bahkan para anggota OSIS berdiskusi ingin meminta uang iuran kepada seluruh murid untuk hadiah kado pernikahan kepala sekolah dan guru agama mereka yang tinggal dua minggu lagi, tentu seluruh murid bersemangat dan menyetujui apalagi mereka juga berniat untuk ikut menghadiri acara pernikahan itu nanti.
Bunyi bel mata pelajaran pertama di mulai, Elisa berjalan di koridor sekolah yang sudah tanpa sepi karena seluruh murid SMP Negeri 1 Pancasila yang terkenal sangat disiplin langsung masuk ke ruang kelas masing-masing ketika bunyi bel.
"Ciee, Ibu Elisa yang bentar lagi mau married dengan Pak Rendi yang ganteng" teriak Para murid di dalam kelas
Elisa yang tiba di ruang kelas yang akan diajarinya saat masuk hendak mengucap salam jadi terkejut ketika para murid di dalam ruang kelas justru berteriak menyorakinya, Elisa tersenyum kemudian mengangkat tangan lalu meletakkan jari telunjuknya dibibirnya agar para murid diam dan kelas sebelah tak terganggu oleh kegaduhan dari ruang kelas mereka dan dengan begitu patuh ruang kelas pun kembali senyap dan sunyi.
"Assalamualaikum, anak-anak. Gimana kabar kalian hari ini?" kata Elisa setelah merasa ruang kelas yang dimasukinya aman
"Walaikumsalam, Bu Elisa. Alhamdulilah baik Bu" jawab Para murid serentak dan kompak
__ADS_1
Elisa pun memulai materi pelajaran yang akan diajarkannya hari ini dengan telaten dan sabar dirinya menjelaskan apa yang ada di buku paket, para murid juga dengan semangat memperhatikan guru agama mereka yang mengajari mereka dengan cara berbeda dari guru-guru mereka yang lain. Selesai menjelaskan materi Elisa seperti biasa akan menanyakan kepada para murid akan penjelasan materi barusan, apakah ada yang kurang mengerti.
Setelah sekian lama Elisa berada di dalam ruang kelas kini bunyi bel pergantian jam mata pelajaran, Elisa membereskan buku paket serta tas miliknya yang ada di atas meja guru lalu kemudian pamit keluar dengan anak muridnya sembari mengucap salam. Elisa memilih kembali ke ruang kantor karena tak ada mata pelajaran dirinya saat ini, tiba di ruang kantor Elisa duduk di kursi kerjanya sembari memeriksa tugas anak-anak muridnya.
Elisa belum bisa mengambil cuti karena hari menjelang pernikahannya masih dua minggu lagi, sedangkan program di sekolah ini jika ingin mengambil cuti mau menikah minimal 5 hari sebelum hari H. Berbeda jika mengambil cuti mau melahirkan minimal seminggu sebelum HPL sudah boleh cuti, walaupun kepala sekolah adalah calon suaminya sendiri tetap saja Elisa tau diri dan yang mengambil keputusan tetap direktur sekolah ini.
.
.
Waktu terus berjalan selesai sholat ashar Elisa kini memilih keluar dari kamar tidurnya ingin membantu sang ibu yang sepertinya tengah sibuk di dapur ingin memasak lauk untuk makan malam mereka nanti.
"Umi, Elisa bantu ya. Plis, jangan ada penolakan Elisa bosan di kamar terus" ujar Elisa saat tiba di dekat sang ibu dan mengungkapkan keinginannya sebelum sang ibu menolak
__ADS_1
"Oke deh, untuk kali ini boleh" jawab Kirana sembari tersenyum melihat ekspresi wajah sang anak
Elisa pun mulai ikut berkutik dengan sayur-sayuran serta bumbu-bumbu dapur setelah di perbolehkan sang ibu untuk membantu, soal memasak memang hobi Elisa selain membaca novel online di HP-nya. Apalagi dari pertama Elisa duduk di bangku SMP dirinya memang sangat suka ikut membantu sang ibu memasak di dapur, berbeda dengan saudara kembarnya yang agak kurang suka memasak apalagi selama ini saudara kembarnya lebih suka menghabiskan waktu bersama sang ayah.
Selesai memasak Elisa kembali mengambil alih untuk mencuci peralatan masak yang kotor meski sang ibu terus menolak tapi Elisa tetap memberontak ingin mencuci, hingga mau tak mau sang ibu pun lagi-lagi memperbolehkan dirinya. Elisa tau sang ibu masih kuat mengerjakan semua pekerjaan rumah tapi dirinya yang sebagai anak tetap tak tega tidak membantu sang ibu, Elisa jadi sedih setelah dirinya menikah nanti dan ikut sang suami siapa yang akan membantu sang ibu memasak, mencuci piring serta berberes rumah.
"Kenapa nangis, memangnya alat-alat dapur itu ngajak perang?" tanya Kirana yang kebingungan melihat sang anak tiba-tiba meneteskan air mata
"Elisa sedih mi, nanti kalau Elisa udah menikah dan tinggal bareng suami El. Siapa yang bakal bantuin Umi" kata Elisa sembari menghapus air matanya yang terus mengalir di kedua pipinya
"Ya ampun nak, kok gitu aja di pikirin. Dulu juga Umi punya ART, nanti kalau kalian sudah pada menikah dan ikut suami kalian Umi bakal cari ART lagi. Abi-mu kan masih sanggup buat gaji ART" jelas Kirana yang terharu dengan perkataan sang anak lalu segera dipeluknya sembari mendaratkan ciuman di pucuk kepala sang anak
Elisa justru semakin menangis didalam pelukan sang ibu, dirinya seperti tak sanggup untuk kembali berjauhan dari sang ibu meski pun dirinya masih tinggal di kota yang sama namun tetap saja rasanya tak bisa melihat sang ibu dalam 24 jam rasa khawatir itu tetap ada. Kirana menghapus air mata di kedua pipi sang anak sembari berkata semuanya akan tetap baik- baik saja, Kirana sebenarnya juga sedih bagaimana jika suatu saat nanti Mita kembali dan mengambil Elisa dari dirinya pasti itu akan membuat Kirana benar-benar merasakan kehilangan.
__ADS_1
Kirana berdoa semoga keadaan tetap seperti ini meski jika suatu saat Mita kembali dan mengambil Elisa dari dirinya.