
Keesokkan harinya
Pagi ini Elisa datang agak siang karena memang hari ini jam mata pelajarannya tak ada yang pagi, seperti biasa Elisa berjalan sendirian di koridor sekolah yang sudah terlihat sepi karena seluruh murid sudah masuk ke dalam kelas masing-masing. Tiba di ruang kantor juga terlihat sepi hanya ada beberapa dewan guru yang sibuk di meja kerja mereka masing-masing, setelah meletakkan tasnya Elisa langsung menuju ke ruang kepala sekolah.
Tok....tok...tok
Dengan sedikit gugup Elisa mengetuk pintu ruangan kepala sekolah tersebut, setelah dapat izin dari dalam untuk masuk Elisa membuka pintu tersebut dan masuk. Rendi yang tengah sibuk dengan laptop dihadapannya mendongakkan kepalanya saat mendengar suara yang sangat dikenalnya, Rendi menyunggingkan senyum sembari meminta ELisa untuk duduk.
"Ada apa?" tanya Rendi setelah Elisa duduk di kursi yang ada diseberangnya
"Kedua orang tuaku meminta kamu untuk ke rumah menemui mereka siang ini" jawab Elisa langsung pada tujuannya datang ke ruangan kepala sekolah
"Baiklah, kemungkinan sekitaran jam 14.00 aku datang ke rumahmu. Jadi kamu masih ada waktu untuk bersiap-siap dan kamu boleh pulang lebih awal hari ini, nanti aku tulis di absen kalau kamu ada urusan keluarga" kata Rendi masih terus menyunggingkan senyumnya
Elisa yang tak tau harus menjawab apa hanya bisa menganggukkan kepalanya, setelah itu Elisa pamit keluar ingin kembali ke meja kerjanya. Selesai urusan pribadinya dengan Rendi Elisa kembali fokus dengan pekerjaannya yang sedang melihat materi hari ini yang akan diajarkannya kepada anak muridnya, Elisa tak menyangka di saat karirnya sedang bagus bersamaan itu jodohnya datang.
Bunyi bel pergantian mata pelajaran, Elisa segera beranjak dari kursi kerjanya dan bergegas menuju ruang kelas yang akan diajarnya. Tiba di kelas Elisa selalu mengucapkan salam kepada anak-anak muridnya serta menanyakan kabar anak-anak muridnya, dan kemudian Elisa memulai mata pelajaran yang akan diajarkannya.
__ADS_1
"Bagaimana sudah mengerti tidak?" tanya Elisa setelah panjang lebar menjelaskan materi mata pelajarannya
"Sudah Bu" jawab Anak-anak muridnya dengan serentak dan kompak
Elisa tersenyum mendengar anak-anak muridnya mengerti, Elisa pun memberikan soal tanya jawab kepada anak-anak muridnya untuk tambahan nilai dari dirinya. Elisa begitu bahagia melihat anak-anak muridnya begitu semangat setiap mendapat soal dari dirinya, bahkan anak-anak muridnya terus berebut untuk menjawab setiap dirinya memberi soal.
Tak terasa ternyata waktu telah terlewatkan selama dua jam dirinya mengajar di dalam kelas tersebut, kini bel istirahat telah berbunyi panjang dan tentu membuat seluruh murid bahagia karena waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Setelah merapikan buku paket dan tasnya Elisa keluar dari ruang kelas namun seperti biasa sebelum keluar Elisa mengucap salam terlebih dahulu, setelah keluar dari ruang kelas Elisa langsung kembali ke ruang kantor.
"Bu Elisa, ke kantin yuk?" ajak Putri yang sudah menganggap Elisa sebagai sahabat begitu juga dengan Elisa yang sudah menganggap Putri sahabat
Elisa dan Putri berjalan di koridor sekolah menuju kantin sekolah khusus para dewan guru, tiba di kantin tersebut sudah banyak dewan guru lain yang mengisi beberapa kursi kosong. Elisa yang tak sengaja menangkap sosok calon suaminya dan mata mereka sempat bertatapan, dengan buru-buru Elisa menundukkan kepalanya sembari tersenyum malu.
Elisa dan Putri duduk di salah satu kursi yang kosong setelah memesan makanan kepada Ibu kantin, entah mangapa jadi begitu kebetulan kursi yang di duduki Elisa berhadapan langsung dengan kursi tempat duduk Rendi meski tertutupi oleh Putri tapi masih sedikit terlihat. Elisa yang masih malu terpaksa terus menundukan kepala sembari berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang kini terlihat berwarna merah seperti tomat, Putri yang melihat Elisa menunduk menyembunyikan senyuman serta wajahnya yang memerah mengerutkan keningnya bingung.
Tanpa bertanya Putri menoleh ke arah belakang dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat kepala sekolah menatap dirinya dengan tatapan dingin seperti ingin menelan musuhnya hidup-hidup, Putri pun terpaksa berusaha menyapa dan menyunggingkan senyumannya dengan terpaksa kemudian kembali menghadap ke hadapan Elisa dan bertepatan dengan makanan yang mereka pesan datang sehingga ada alasan bagi Putri untuk menghindari tatapan maut kepala sekolah.
.
__ADS_1
.
Di dalam kamar Elisa terus mondar mandir menunggu ke datangan Rendi yang telah berjanji akan datang siang ini jam 14.00, padahal dirinya telah memberi tahu kepada kedua orang tuanya bahkan mereka telah bersiap-siap untuk menyambut namun sudah lewat jam yang di janjikan tapi Rendi belum juga muncul. Membuat Elisa sedikit khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan Rendi di jalan, apalagi Rendi kembali ke kota Jakarta ini juga baru setelah 10 tahun tak menginjakkan kaki di kota Jakarta ini.
"Assalamualaikum" ucap Seseorang yang sangat Elisa kenali suara yang barusan mengucap salam
"Walaikumsalam, silahkan duduk" kata Dokter Perdi dan Kirana secara bersamaan sembari mempersilahkan Rendi untuk duduk
Dokter Perdi mengkode Kirana untuk memanggil Elisa keluar kamar, Kirana yang mengerti segera pamit dan langsung menuju ke arah kamar Elisa. Elisa dan Kirana keluar dari kamar dan berjalan beriringan menuju ruang tamu, di ruang tamu ternyata tak ada siapa-siapa hanya sang ayah dan calon suaminya membuat Elisa sedikit bingung karena sekarang dalam rangka apa jika Rendi tak membawa satupun pihak keluarganya.
"Maaf Om, Tante, Elisa. Saya terlambat datang kesini, soalnya tadi ada masalah di jalan. Maaf juga saya datang sendirian tanpa membawa salah satu keluarga saya, sebelumnya saya jelaskan bahwa saya adalah anak yatim piatu. Saya hanya memiliki seorang kakak perempuan namun kakak saya ada di kota Padang bersama suaminya, saya disini termasuk orang rantauan. Dan kedatangan saya kesini ingin menyampaikan niat baik saya, ingin melamar Elisa menjadi istri dan teman hidup saya" kata Rendi berbicara panjang lebar tanpa rasa gugup membuat Elisa semakin terharu karena calon suaminya begitu gentle
"Kami paham dengan keadaan kamu, kami sudah mendengar dari Elisa dan Elisa juga sudah menjelaskan bahwa dirinya telah menerima kamu. Kami sebagai orang tuanya hanya bisa meridhoi anak-anak kami, jadi kami setuju" jawab Dokter Perdi suka dengan keseriusan laki-laki dihadapannya ini
Semua yang ada di situ pun langsung mengucap hamdalah setelah mendengar jawaban dari kepala keluarga di rumah itu, setelah lama berbincang Dokter Perdi mengajak Rendi untuk makan siang bersama karena mereka semua belum ada yang makan siang apalagi mereka memang sengaja sekalian menunggu kedatangan Rendi tadi.
Saat Elisa dan Kirana tengah menyiapkan makanan di meja makan, Dokter Perdi berbicara lebih serius dengan Rendi jika dirinya ingin bertemu dengan Rendi besok siang di restoran dan hanya berdua ada yang ingin di bicarakan Dokter Perdi bahkan sangat penting dari hari inj dan tentunya Rendi setuju bertemu di restoran yang telah ditentukan oleh Dokter Perdi apalagi dirinya juga penasaran.
__ADS_1