
"Sering-sering main kesini, ya" kata Kirana yang tak mau melepaskan pelukannya terhadap sang anak
"Iya, Umi. Elisa dan Rendi sudah putuskan kalau setiap malam minggu bakal nginep disini, jadi hari minggu kita bisa kumpul" kata Elisa yang juga sedih berjauhan dengan sang ibu meski masih satu daerah
"Iya, hati-hati di jalan" ujar Kirana akhirnya melepaskan pelukannya dari tubuh sang anak
"Umi dan Abi jaga kesehatan" kata Elisa kemudian mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim
Elisa dan Rendi segera masuk ke dalam mobil taksi setelah pamit dengan kedua orang tua Elisa, mobil taksi pun mulai melaju dan Elisa masih melambaikan tangan kepada sang ibu dan sang ayah yang melepas kepergiannya dan kini mereka takkan bisa lagi bersama selama dua puluhan empat jam karena Elisa telah memiliki binduk rumah tangga sendiri.
Selama satu minggu tinggal bersama kedua orang tuanya Elisa memang telah memutuskan untuk segera ke tempat tinggalnya yang baru yaitu tempat tinggal suaminya yang di sediakan pihak sekolah, sedih sebenarnya harus berjauhan dengan kedua orang tuanya namun mau bagaimana lagi.
Hidupnya kini telah berubah setelah ijab kabul itu di ucapkan oleh Rendi yang kini sudah sah menjadi imamnya dan kepala keluarga di rumah tangga mereka, jadi Elisa harus membiasakan diri tanpa kedua orang tuanya karena sudah waktunya dirinya menjadi istri yang berbakti kepada suami dan istri yang melayani suami lahir batin.
Setengah jam tak terasa mobil taksi yang di tumpangi Elisa dan Rendi berhenti tepat di sebuah rumah minimalis, Elisa dan Rendi segera turun dari mobil taksi dan membayar ongkos kepada supir taksi. Setelah itu Rendi berjalan terlebih dahulu ke arah pintu utama sembari mengeluarkan anak kunci rumah tempat tinggalnya itu dari tas, kemudian pintu pun terbuka dengan sempurna Elisa segera melangkahkan kakinya ikut masuk saat melihat Rendi sudah berada di dalam rumah.
__ADS_1
"Ini kamar utama untuk kita dan kamar mandinya ada di dalam, sebelah sini kamar juga bisa untuk kamar tamu kalau saja ada kerabat kita mau menginap disini. Dapur di sebelah sana" jelas Rendi kepada Elisa
"Ohh iya, buat makan siang ini mau masak apa udah ada sayur dan bahan yang lain di kulkas?" tanya Elisa kepada Rendi yang kini mereka sedang duduk santai di ruang TV
"Semuanya lengkap di kulkas, kemarin aku udah hubungi ART disini minta di sediakan sayur dan yang lain di kulkas. Sebelum aku kembali kesini" kata Rendi lagi yang memainkan wajah halus milik Elisa
"Jadi disini ada ART?" tanya Elisa seperti tak percaya Rendi bisa mengaji seorang ART
"Iya, ART itu pihak sekolah yang menyediakan hanya buat bersih-bersih rumah ini. Kalau mencuci baju dan mencuci piring aku tetap ngerjain sendiri" jelas Rendi lagi yang kini bersandar di pundak Elisa
Elisa menganggukkan kepala paham mengapa direktur sekolah tempat mereka mengajar menyediakan seorang ART di rumah ini, karena tak mau rumah ini berantakan serta tak terurus apalagi yang menempati rumah ini seorang laki-laki dan hanya pulang ke rumah ini ketika sore habis pulang dari mengajar.
"Ya udah, aku mau masak dulu ya Mas" kata Elisa sembari beranjak dari duduknya
"Mau di bantu gak?" tanya Rendi sembari ikut beranjak dan memeluk Elisa dari belakang
__ADS_1
"Memangnya Mas bisa masak?" tanya Elisa yang terus melangkahkan kakinya meski Rendi masih memeluknya dari belakang
"Bisa donk, meski gak seenak masakan Umi dan kamu" jawab Rendi mendengus di tengkuk leher Elisa
"Udah Mas, kapan mau masaknya kalau Mas Rendi ganggu aku terus" kata Elisa yang kembali berusaha menjauh dari pelukan Rendi
Rendi pun mengalah dan melepaskan pelukannya dari Elisa, kemudian mulai membantu Elisa yang sudah mengeluarkan beberapa bahan untuk di masak saat ini. Elisa menyerahkan bumbu dapur serta sayur-sayuran kepada Rendi untuk di cuci, sedangkan Elisa sibuk membuat ayam goreng crispy. Selesai bagian ayam goreng crispy kini Elisa meminta Rendi untuk menunggui sayur capcay yang tinggal menunggu matang, karena Elisa saat ini tengah mengulek sambal mentah.
Hingga tak terasa hasil semua masakan Elisa dan Rendi pun matang, karena waktu sudah agak siang Elisa dan Rendi pun mulai menikmati dan menyantap makan siang dengan begitu lahap. Ini untuk pertama kali Elisa memasak untuk Rendi dan bahkan ini jadi pengalaman pertama Elisa masak di bantu oleh Rendi, meski awal-awal banyak drama dan cerita tapi hasil semua masakan mereka ternyata bisa jadi lezat seperti makanan di rumah makan yang jualan di pinggir jalan.
Terdengar adzan dzuhur berkumandang di masjid yang ada di komplek perumahan tempat tinggal Elisa dan Rendi, selesai makan Rendi langsung pamit dengan Elisa untuk sholat di masjid. Sedangkan Elisa memilih langsung membereskan piring kotor bekas mereka makan barusan, karena dirinya tak punya kerjaan lain apalagi sekarang dirinya tengah kedatangan tamu bulanan jadi tak bisa untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba-NYA.
Selesai mencuci piring Elisa memilih bersantai di ruang TV sembari menonton TV acara favoritnya yang sudah lama tak ditontonnya semenjak dirinya sibuk mempersiapkan acara pernikahannya kemarin, di tambah selama satu minggu di rumah kedua orang tuanya dirinya benar-benar menghabiskan sisa waktunya dengan sang ibu karena mumpung ada kesempatan. Tanpa terasa Elisa ternyata tertidur di atas kursi sofa yang ada di depan TV, Rendi yang mengucap salam dari tadi dan tak kunjung dapat jawaban segera masuk ke dalam rumah.
Saat Rendi tiba di ruang TV dirinya melihat Elisa yang tertidur begitu pulas di atas kursi sofa, Rendi yang tak tega membangunkan Elisa memilih untuk mengendong Elisa dan membawanya ke kamar tidur mereka. Dengan perlahan Rendi meletakkan tubuh Elisa di atas tempat tidur, kemudian Rendi menarik selimut untuk menutupi tubuh Elisa sampai ke leher. Setelah itu Rendi segera mengganti baju koko serta saru g sehabis sholat dengan pakaian santai, lalu kemudian dirinya ikut berbaring di samping Elisa.
__ADS_1
Baru saja Rendi hendak memejamkan kedua kelopak matanya, HP-nya bergetar dengan keras hingga dengan cepat Rendi mematikan bunyi HP-nya karena tak ingin membuat tidur Elisa terganggu. Dilihatnya notifikasi dilayar depan HP-nya ternyata Bambang yang mengiriminya pesan, karena penasaran Rendi pun segera membuka pesan tersebut.
[Ren, happy wedding ya. Ohh ya, aku sudah kirim kado nikah kamu kata ART kemarin udah datang tapi kebetulan kamu belum pulang ke rumah itu jadi paketnya di tarok ART di kamar tamu karena cuma kamar itu yang gak terkunci] Bambang