Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 39


__ADS_3

"Keponakanmu lucu-lucu banget ya, Mas" kata Elisa yang saat ini tengah bermain dengan semua keponakan Rendi


"Iya, apalagi yang ini" kata Rendi yang sedang memangku keponakannya yang nomor tiga yang usianya baru dua tahun


Elisa begitu senang bermain dengan semua keponakan Rendi, namun dirinya baru teringat di pernikahan mereka yang akan memasuki tiga tahun ini mereka belum juga di karunia anak hingga sekarang. Tiba-tiba Elisa merasa sedih seperti tak pantas menjadi pendamping hidup Rendi, apalagi Rendi begitu suka dengan anak-anak terlihat dari binaran bola mata Rendi yang menatap semua keponakannya.


"Wah kok Tante dan Om-nya di jahili gitu" kata Rara datang-datang sembari membawa beberapa cemilan ke ruang depan memecahkan lamunan Elisa


"Tapi kan Tante Elisa jadi cantik dan Om Rendi jadi cakep, Bun" jawab Ricko keponakan kedua Rendi


"Biarin Kak, yang penting mereka seneng" kata Elisa sembari tersenyum


"Ini cemilannya, ayo di makan" ujar Rara ikut tersenyum juga


Elisa dan Rendi segera mengambil cemilan yang ada di hadapan mereka itu, kemudian di masukan mereka ke dalam mulut dan mulai menikmati dengan lahap. Elisa begitu bahagia bisa menginap di kediaman kakak iparnya ini, selain kakak iparnya menyambut kedatangannya dengan baik dan kakak iparnya juga begitu meratukannya selama disini dan justru membuat Elisa merasa tak enak hati.


Setelah itu Elisa membantu membereskan piring bekas cemilan tersebut, lalu membawanya ke dapur dan hendak di cucinya namun kakak iparnya lagi-lagi tak mengizinkannya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut membuat Elisa semakin tak enak hati.


"Kamu itu tamu disini, jadi jangan pernah mengerjakan pekerjaan rumah selama disini. Kalian juga jarang kesini jadi sekali-sekali tak apalah kakak repot" kata Rara sembari mengambil alih piring kotor itu dari tangan Elisa

__ADS_1


"Aku jadi gak enak kak, masak cuma lihatin kakak dan numpang makan tidur aja disini" kata Elisa yang tetap mengalah


"Gak apa-apa, kamu juga pasti sibukkan ngurusi adik kakak kalau di tempat tinggal kalian. Belum lagi kamu ngajar juga" kata Rara sembari tersenyum


Elisa menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan kakak iparnya itu, Elisa duduk di kursi makan sembari memperhatikan kakak iparnya yang begitu cekatan mengerjakan pekerjaan rumah. Kakak iparnya itu jika di perhatikan masih kelihatan sangat awet muda, padahal sudah melahirkan tiga anak namun tak mengurangi raut wajahnya yang memang cantik dari lahir.


Kemudian Elisa dan kakak iparnya kembali ke ruang depan melihat Rendi yang masih sibuk bermain dengan ketiga keponakannya itu, terlihat raut wajah bahagia ketika Rendi di jadikan kuda-kudaan oleh ketiga keponakannya itu bahkan tak tinggal tawa yang memenuhi ruang depan itu. Elisa semakin insicure karena belum bisa hamil dan memberikan Rendi seorang anak, tapi dirinya akan tetap memanjatkan doa agar mereka segera di beri kepercayaan untuk memomong anak.


.


.


Kini matahari sudah terbenam dan berganti rembulan yang menyinari kegelapan malam, Elisa membantu kakak iparnya yang tengah menyiapkan makan malam untuk makan bersama. Setelah siap kini Elisa dan Rendi serta kakak ipar bersama dengan ketiga keponakan Rendi mereka duduk di kursi makan, Elisa seperti biasa akan mengambilkan makanan untuk Rendi setelah itu mereka mulai menikmati hidangan yang ada di atas meja dengan lahap.


"Gak kerasa kalian dua hari lagi mau pulang ke Jakarta" kata Rara kepada adik laki-lakinya itu


"Iya kak, mau bagaimana lagi harus kembali mengajar" jawab Rendi yang sebenarnya masih belum puas bermain dengan ketiga keponakannya


"Tiap libur semester, main kesini aja" kata Rara lagi yang sebenarnya masih rindu dengan adik laki-lakinya yang dulu adalah bocah ingusan kini sudah menjelma menjadi sosok laki-laki yang tampan dan gagah

__ADS_1


"Insyaallah" jawab Rendi dan Elisa berbarengan


Ketiga keponakan Rendi tiba-tiba mendekati Rendi dan Elisa, mereka berebut hendak duduk di pangkuan Rendi atau pun Elisa. Jadi Rendi menengahi mereka, dua duduk di pangkuannya dan satu duduk di pangkuan Elisa.


"Tante Elisa bacain Ricko dongeng lagi donk" kata Riko keponakan Rendi nomor dua


"Boleh, ayo kita ke kamar. Tapi pamit dulu dengan semuanya" kata Elisa dengan begitu lembut


Ricko pun langsung menyalami yang ada disana satu persatu, kemudian mengandeng tangan Elisa menuju kamar tidurnya yang tak jauh dari ruang keluarga. Rendi dan kakaknya serta kakak iparnya melihat Ricko yang sangat dekat dengan Elisa, bahkan seperti anak dan ibu yang begitu lengket.


Tiba di kamar Elisa segera membantu Ricko berbaring ke atas kasur, lalu Elisa menyelimuti Ricko yang sudah berbaring dan mulai membacakan Ricko sebuah dongeng anak-anak yang sudah menjadi kebiasaan Ricko sebelum tidur. Elisa yang sedang membacakan dongeng begitu tersentuh, dan berpikir mungkin beginilah menjadi peran seorang ibu namun sayang ia belum bisa merasakan.


Di ruang keluarga keponakan Rendi yang pertama juga pamit hendak ke kamar tidurnya ingin segera tidur karena mulai mengantuk, sedangkan yang paling kecil sudah tertidur di pangkuan Rendi.


"Apa kalian sudah berobat kemana-mana?" tanya Rara kepada adik laki-lakinya itu


"Sudah kak, tapi mungkin memang MAHA KUASA belum mempercayai kami saja" jawab Rendi yang memang sudah pasrah


"Bagaimana kalau adopsi anak saja di panti asuhan" kata Kakak ipar Rendi menibrungi

__ADS_1


"Gak kak, takutnya jadi masalah jika suatu saat kami memiliki anak" kata Rendi yang memang kurang setuju apalagi dirinya sudah melihat dari Elisa dan Erisa yang sangat di bedakan oleh sang ayah


Kakaknya dan kakak iparnya menganggukkan kepala paham maksud Rendi, mungkin keputusan Rendi benar terkadang setelah mengadopsi anak tiba-tiba istri hamil dan anak yang di adopsi jadi terabaikan. Dan kita sebagai orang tua angkat tentu jadi dzolim, bukankah itu sifat yang di benci MAHA KUASA.


__ADS_2