Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 46


__ADS_3

Rendi yang sudah kembali ke ruang ICU lagi dimana Elisa di rawat segera duduk di kursi yang ada di dekat ranjang pasien yang di tempati Elisa, namun tiba-tiba Rendi merasa tangannya yang saat ini menggenggam jari jemari Elisa bergerak seketika Rendi memperhatikan jari jemari itu.


Dan benar jari jemari itu semakin keras bergerak serta perlahan kedua kelopak mata Elisa mengernyit hendak di buka, Rendi yang melihat Elisa membuka mata tentu sangat bahagia sampai dirinya langsung menghamburkan pelukan ke tubuh Elisa yang masih terbaring.


"M...Mas Rendi" ucap Elisa pelan namun masih dapat di dengar oleh Rendi


"Kamu tunggu dulu, aku panggil Dok sebentar" kata Rendi segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar dari ruang


"Kak Rara, panggil Dokter sekarang. Elisa sudah sadar" kata Rendi menampakkan raut wajah bahagia


Sang kakak yang mendengar itu langsung berdiri dari duduknya di ikuti semua yang ada disitu, bergegas sang kakak mencari Dokter untuk mengabari bahwa Elisa sudah sadar dan tak lama kemudian Dokter pun segera masuk ke dalam ruang ICU dimana Elisa di rawat.


Dokter segera mengecek keadaan Elisa benar-benar sebuah keajaiban Elisa bisa sadar dari koma yang cukup lumayan lama, setelah Dokter menyatakan keadaan Elisa sudah lebih baik dan di sarankan oleh Dokter untuk di pindahkan ke ruang rawat.


Setengah jam setelah di pindahkan di ruang rawat, Elisa menelusuri satu persatu wajah orang yang ada disitu namun satu yang asing menurutnya tapi dirinya merasa seperti pertama bertemu namun lupa dimana. Agam yang tau di tatap oleh Elisa dengan instens segera mendekat, sembari tersenyum ramah.


"Haii, kenalkan nama Bapak Agam" kata Agam masih mengembangkan senyuman


"Sayang, Pak Agam yang sudah mendonorkan darah untuk mu. Dan sebenarnya Pak Agam ini......" jelas Rendi namun terpotong saat Elisa lebih dulu menjawab


"Ayah biologis ku" jawab Elisa singkat


Namun membuat semua yang berada di dalam ruang terkejut, bagaimana Elisa tau bahwa Agam adalah ayah biologisnya dan semua orang hanya bisa saling pandang tak berani menjawab lalu Elisa pun menjelaskan bahwa selama koma dirinya bertemu dengan ibu kandungnya tentu banyak yang mereka ceritakan dan Elisa bisa melihat semua kejadian selama di rumah sakit selama dirinya koma.

__ADS_1


Erisa dan kedua orang tuanya hanya diam namun tetap memperhatikan setiap apa yang di katakan Elisa, setelah bercerita panjang lebar Elisa tiba-tiba menatap ke arah Erisa yang berdiri tak jauh dari ranjang pasien.


"Erisa, sini" kata Elisa sembari tersenyum melihat Erisa saudara angkatnya yang sangat di sayanginya


Erisa pun segera melangkahkan kaki mendekati Elisa dan berdiri di samping ranjang Elisa berhadapan dengan Rendi yang kebetulan duduk di samping ranjang Elisa juga namun Erisa dan Rendi terhalang oleh ranjang, Erisa tak berani melihat ke arah Rendi karena masih merasa bersalah sedangkan Rendi pun sama rasa bencinya terhadap Erisa tetap masih ada meski Elisa sudah sadar.


"Ada apa?" tanya Erisa saat sudah berada di dekat Elisa


Elisa tak menjawab namun tetap menyunggingkan senyuman, kemudian Elisa menatap ke arah Rendi yang duduk di sampingnya bahkan jari jemari miliknya terus di genggam Rendi seolah tak mau dirinya pergi jauh.


"Mas....." panggil Elisa sembari menatap Rendi dengan dalam


"Iya, kenapa apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Rendi menoleh ke arah Elisa


"Apapun permintaan kamu aku pasti akan turuti" jawab Rendi dengan mantap sembari mencium punggung tangan Elisa dengan lembut


Beberapa orang yang melihat adegan itu pasti merasa tersentuh karena Rendi sangat mencintai Elisa, namun berbeda dengan Erisa dirinya justru menahan sakit hati karena bisa-bisanya Rendi menampakkan keromantisan itu di hadapannya.


"Janji, Mas Rendi akan menuruti permintaan ku?" tanya Elisa ingin memastikan lagi


Rendi pun langsung menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, karena dirinya sudah berjanji jika dirinya di beri kesempatan untuk bersama Elisa. Dirinya akan menuruti apapun permintaan Elisa selagi dirinya memiliki kesempatan, cukup sudah dua bulan dirinya merasa seperti mayat hidup yang kehilangan nyawanya.


"Aku ingin Mas Rendi menikah dengan Erisa, sekarang juga" kata Elisa menatap Rendi kemudian beralih menatap Elisa

__ADS_1


Jedar.......


Seperti di sambar petir siang bolong Rendi mendengar permintaan Elisa itu, permintaan yang benar-benar tak masuk di akal bagaimana bisa dirinya di minta untuk menikahi Erisa saudara angkat Elisa dan lebih tepatnya sekarang orang yang sangat di bencinya karena telah membuat Elisa kecelakaan berapa bulan yang lalu.


Begitu juga orang-orang disitu tentu sangat terkejut dengan permintaan Elisa barusan, apalagi kedua orang tuanya Erisa sungguh tak percaya masak anak mereka harus menjadi istri kedua saudara angkatnya meski Erisa belum menikah tapi rasanya tak ikhlas anak mereka harus jadi yang kedua.


Sedangkan Erisa yang mendengar itu juga tak kalah terkejut, meski dirinya harus menikah dengan laki-laki yang sangat di cintai tapi Erisa tak mau jadi yang kedua apalagi bermadu dengan saudara angkatnya.


"Tidak sayang, maaf aku tak bisa menuruti permintaan mu itu. Adakah permintaan yang lain saja" kata Rendi sembari menggelengkan kepalanya


"Aku mohon Mas, ini permintaan terakhirku sebelum aku pergi lagi. Aku sengaja bangun sebentar karena ingin menyampaikan permintaan terakhirku, karena hanya Erisa yang bisa aku percaya untuk menjagamu ke depannya" kata Erisa kembali memasang wajah memohon


"Kamu ngomong apa, aku tak mengerti" kata Rendi masih tak mau menuruti permintaan Elisa


"Aku mohon Mas, biar aku tenang saat aku pergi nanti" kata Elisa lagi sembari menggenggam jari jemari Rendi namun tiba-tiba napas Elisa naik turun seperti sedang sakaratul maut


"Ba...baiklah aku akan menuruti permintaanmu" jawab Rendi yang sangat khawatir dengan keadaan Elisa


"Erisa, kamu mau kan menuruti permintaan terakhirku" kata Elisa kini beralih menatap ke arah Erisa yang dari tadi diam mematung


Erisa yang tak bisa berpikir jernih saat ini hanya bisa menganggukkan kepala sembari meremat gamisnya karena


"Aku mau sekarang juga, tolong panggil penghulu saat ini juga. Saksi sudah ada Abi dan Ayah Agam" kata Elisa menatap semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut

__ADS_1


Dokter Perdi dan Kirana pun tak bisa juga berbuat apa-apa saat ini, karena keputusan sudah di ambil oleh Erisa yang menyetujui pernikahan dadakan ini dan mau tak mau Dokter Perdi segera menghubungi sahabatnya yang seorang penghulu dan minta datang ke rumah sakit karena akan mengadakan pernikahan dadakan.


__ADS_2