
Selesai sarapan kini Elisa dan Rendi serta kedua orang tua Elisa tengah berbincang di ruang tamu menceritakan perjalanan mereka selama di tanah suci kemarin, bahkan Rendi terus berkata bahwa dirinya benar-benar masih belum percaya bahwa dirinya ternyata bisa juga menginjakkan kaki di tanah suci dan sholat bersama para jamaah lainnya. Kedua orang tua Elisa tentu ikut bahagia jika Rendi sangat bahagia bisa ke tanah suci, padahal sebelumnya sang ayah ingin memberikan sebuah tiket pesawat untuk ke Paris buat sang anak dan sang menantu honey moon.
Namun sang ibu justru memberi saran yang lain lalu meminta sang ayah memberikan tiket umroh dan ternyata pikiran sang ibu benar tiket umroh bisa membuat Rendi sangat bahagia, cukup lama berbincang Rendi pamit sebentar ke kamar dahulu ada sesuatu yang hendak diambilnya dan setelah dapat anggukkan dari kedua mertuanya Rendi pun beranjak menuju kamar utama. Tak lama kemudian Rendi kembali ke ruang tamu sembari membawa dua paper bag dan diberikannya kepada kedua mertuanya satu persatu, Elisa baru tahu kalau Rendi juga mempersiapkan sebuah ole-ole untuk kedua orang tuanya.
"Masyaallah repot-repot sekali kamu kasih Umi dan Abi ole-ole" kata Kirana yang menerima ole-ole dari sang menantu
"Gak apa-apa mi, ole-ole ini tak seberapa dengan tiket yang Umi dan Abi kasih ke kita" kata Rendi kepada sang mertua
"Terima kasih" jawab Kirana dan Dokter Perdi secara bersamaan
"Sama-sama Umi Abi" jawab Rendi dengan sopan sembari tersenyum
Waktu terus berlalu kedua orang tua Elisa pun pamit pulang kepada sang anak dan sang menantu, Elisa dan Rendi segera mengantar kedua orang tua Elisa sampai ke depan hingga kedua orang tua Elisa masuk ke dalam mobil. Selepas kepergian kedua orang tuanya Elisa mengajak Rendi untuk membagikan ole-ole yang mereka siapkan buat para tetangga mereka disini, dan nanti juga Rendi harus ke kantor pos buat mengirim ole-ole untuk sang kakak yang di kota Padang.
Satu persatu Elisa dan Rendi membagikan ole-ole yang mereka beli dari Mekkah untuk para tetangga yang selama ini sangat baik dengan mereka, para tetangga tentu mengucapkan rasa terima kasih bisa mendapat ole-ole dari tanah suci seperti air zam-zam sajadah dan tasbih. Setelah selesai semuanya sudah kebagian kini Rendi pamit dengan Elisa ingin segera pergi ke kantor hendak mengirim ole-ole untuk sang kakak dan sang keponakan yang di kota Padang, Elisa memilih tinggal di rumah saja karena dirinya hendak mempersiapkan ole-ole untuk para dewan guru.
Rendi segera melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah minimalis tempat tinggalnya dan menuju ke arah dimana kantor pos berada. Rendi yang kurang tau dimana letak kantor pos karena ini pertama kali dirinya akan mengirim barang, Rendi pun menghidupkan MAP di aplikasi yang ada di HP-nya dan ternyata kantor masih lumayan jauh dari tempatnya saat ini.
Setengah jam kemudian Rendi akhirnya tiba di kantor pos dan dirinya segera memarkirkan sepeda motornya di depan kantor pos kemudian turun dari sepeda motornya sembari membawa sebuah kardus berukuran sedang masuk ke dalam kantor pos.
"Permisi kak" ucap Rendi pada resepsionis penjaga kantor pos
__ADS_1
"Iya Mas, ada yang bisa kita bantu?" tanya Resepsionis itu dengan ramah
"Saya mau kirim paket ke alamat ini, ini yang mau di kirim" kata Rendi sembari menyerahkan secarik kertas berisi alamat lengkap sang kakak dan sebuah kardus berukuran sedang.
"Ohh baik kak, kita cek dulu ya berapa ongkos kirimnya. Silahkan duduk disana dulu kak" kata Resepsionis itu kemudian mulai mengotak atik komputer yang ada dihadapannya
Rendi pun menuruti saran resepsionis itu untuk duduk di kursi tunggu, selagi menunggu resepsionis itu mengecek berapa ongkos kirim ke alamat lengkap sang kakak.
.
.
"Iya gak bakal lupa aku dengan kamu, yang utama itu pas di tanah suci aku doain kamu biar cepat kesana juga bareng pasangan halalmu" kata Elisa tangannya masih sibuk membagi satu persatu ole-ole tersebut
"Aaamiiin, seharusnya kamu doain aku cepat ketemu jodoh biar bisa nyusul kamu" kata Putri di seberang telepon
"Itu pasti, bahkan setiap langkah kakiku. Aku doain kamu" jawab Elisa di selingi ketawa
Lama berbincang di telepon akhirnya Elisa mengakhiri telepon dari Putri saat mendengar ketukkan pintu utama, Elisa segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki ke arah pintu utama kemudian langsung dibukanya pintu utama setelah memastikan bahwa Rendi yang ada di luar. Rendi pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah setelah pintu utama di buka oleh Elisa, Rendi juga langsung merangkul pinggang Elisa dan sama-sama berjalan ke arah kamar utama.
"Boleh gak?" tanya Rendi sembari mencium tengku leher Elisa
__ADS_1
"Mas cuci kaki dan tangan dulu, kan habis dari luar sekalian wudhu saja" kata Elisa yang tak mau langsung berhubungan jika Rendi baru dari luar takut ada setan yang ikut
"Oke, tunggu ya" kata Rendi segera berjalan menuju kamar mandi
Elisa memilih duduk di depan meja rias menunggu Rendi keluar dari kamar mandi, Elisa sedikit merapikan rambutnya dan memakai parfum sebelum Rendi meminta haknya. Parfum itu dibelinya pas di Mekkah kemarin, parfum itu hanya dipakainya ketika hendak berhubungan dengan Rendi saja karena membuat suami senang itu akan mendapat pahala yang sangat besar.
"Udah cantik, bahkan bidadari surga iri dengan kamu" kata Rendi memeluk Elisa dari belakang sembari mencium pucuk kepala Elisa
"Ahh Mas bisa aja" kata Elisa kemudian beranjak dan membalikkan tubuhnya ke hadapan Rendi
Elisa mengalungkan kedua tangannya di leher Rendi sembari menatap Rendi dengan penuh cinta, namun berbeda dengan Rendi dirinya bukan hanya menatap Elisa dengan penuh cinta bahkan begitu bernafsu melihat Elisa menggodanya seperti itu. Rendi segera mengendong tubuh Elisa dan dibawanya ke atas tempat tidur, kemudian Rendi mendaratkan ciuman di b*bir Elisa dengan begitu nafsu.
"Terima kasih sayang" kata Rendi setelah mereka selesai bercinta
"Sudah kewajiban aku sebagai istri" jawab Elisa sembari membelai wajah Rendi
"Kamu membangunkannya lagi" kata Rendi menatap Elisa sembari menyunggingkan senyum nakalnya
"Mau lagi, boleh kok" jawab Elisa semakim menggoda Rendi
Pertempuran keempat kalinya pun di mulai lagi, Elisa sengaja meminta terus agar dirinya bisa secepatnya mengandung karena pernikahan mereka yang sudah jalan berapa bulan ini belum juga membuat dirinya hamil. Padahal dirinya sangat tau bahwa Rendi sangat menginginkan seorang anak meski Rendi tak pernah membahas tapi dirinya tak sengaja pas di Mekkah kemarin ketika hendak menghampiri Rendi, mendengar Rendi sedang menangis berdoa meminta di beri kepercayaan secepatnya untuk memomong buah hati.
__ADS_1