
Berapa tahun kemudian
Elisa masih tak percaya jika pernikahan dirinya dengan Rendi sudah berjalan lima tahun, namun sampai detik ini dirinya belum juga hamil. Entah apa yang sebenarnya terjadi mengapa Elisa dan Rendi begitu sulit di beri momongan, Elisa bahkan sudah pasrah jika memang Rendi ingin menikah lagi agar mendapatkan keturunan.
Tapi Rendi bukanlah laki-laki yang mempermasalahkan soal anak, Rendi justru tetap santai meski banyak sekali pertanyaan dari teman-temannya tentang anak tapi Rendi dengan bijak menjawab mungkin MAHA KUASA masih memberi dirinya dan Elisa kesempatan untuk pacaran dulu. Berbeda dengan Elisa jika sudah bahas soal anak, dirinya sangat sensitif dan pasti setelah itu akan menangis karena merasa menjadi wanita yang tak sempurna karena belum bisa hamil.
Bahkan setiap di pertigaan malam Elisa selalu mengaduh dengan MAHA KUASA dan menangis sejadi-jadinya sampai sesenggukan memohon agar segera di beri keturunan, tapi sepertinya MAHA KUASA masih senang mendengar keluhan Elisa sehingga belum juga di beri keturunan. Hingga Elisa terkadang merasa lelah dan seperti kecewa dengan MAHA KUASA yang belum juga mengabulkan keinginannya, namun dirinya tak egois MAHA KUASA pasti punya cara sendiri untuk dirinya.
"Sayang...." panggil Rendi sembari melingkarkan tangannya di leher Elisa yang tengah duduk melamun di depan cermin hias
"Iya, ada apa? Apa Mas perlu sesuatu?" tanya Elisa menatap Rendi dari pantulan cermin hias itu sembari tangannya memegang tangan Rendi yang ada di lingkaran dilehernya
"Tidak ada, dari tadi aku memanggil kamu tapi kamu tak menyahut panggilanku" kata Rendi kemudian mendaratkan ciuman di pucuk kepala Elisa
"Maaf, aku tidak mendengar" kata Elisa kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Rendi
__ADS_1
Rendi menatap kedua kelopak mata Elisa yang sepertinya Elisa semalam menangis lagi, terlihat dari kelopak mata Elisa yang membengkak. Rendi sudah berupaya membuat Elisa tak memikirkan lagi soal anak dan ingin selalu melihat Elisa tersenyum, namun sepertinya Elisa masih saja memikirkan soal anak di tambah sekarang Elisa melihat Putri sahabatnya yang sudah hamil dan Aisyah sahabatnya Erisa juga sudah memiliki anak bahkan sekarang tengah hamil lagi.
Rendi memeluk Elisa dengan erat sembari mengelus punggung belakang Elisa, agar Elisa tetap sabar dalam ujian rumah tangga mereka yang sampai detik ini belum di karuniai seorang anak. Benar adanya rumah tangga itu pasti ada saja ujiannya, jika tercukupi soal materi dan segala hal. MAHA KUASA uji melalui anak, semua tergantung kita yang bisa sabar tidak menghadapi ujian tersebut.
"Kita berkunjung ke rumah Abi dan Umi, yuk" kata Rendi ingin menghibur Elisa agar mengurangi sedikit beban pikiran Elisa
Elisa hanya menganggukkan kepalanya, kemudian beranjak dari duduknya dan segera memakai jilbab panjang yang instan sekalian mengambil tas yang senada dengan warna jilbabnya. Elisa dan Rendi segera melangkahkan kaki keluar dari rumah mereka setelah pamit dengan ART yang bekerja di rumah mereka, kemudian mereka masuk ke dalam mobil jazz yang terparkir di halaman rumah mereka.
Rendi dan Elisa sudah pindah dari rumah minimalis yang di sediakan oleh pihak sekolah, Rendi membeli perumahan yang lebih elit bahkan dirinya membeli secara cash dua tahun yang lalu dan selama menabung tabungannya semakin banyak Rendi juga membeli mobil jazz mobil impiannya. Sepeda motor hadiah dari Bambang temannya masih ada di garasi rumah baru mereka bahkan masih sangat bagus karena di rawat Rendi, sepeda motor itu juga sering di gunakan Elisa jika hendak keluar karena dirinya tak mau terjebak macet.
Satpam itu juga di minta Rendi untuk bergantian, ada shift siang dan ada shift malam. Sekarang juga Elisa tak lagi mengajar hanya Rendi sendiri, karena Rendi yang meminta agar Elisa tidak kelelahan dan karena tak ada kerjaan Elisa memilih menyibukkan diri menulis novel di aplikasi. Rendi sebagai suami selalu mendukung keputusan Elisa, selagi itu yang terbaik buat Elisa dan tak membuat Elisa terus larut dalam kesedihannya.
Tak terasa mobil jazz milik Rendi sudah memasuki halaman kediaman orang tua Elisa yang memang tak memiliki pagar, Rendi dan Elisa segera turun dari mobil jazz tersebut kemudian melangkahkan kaki ke arah pintu utama.
Ting...Tong...Ting...Tong
__ADS_1
Bunyi bel rumah yang di pencet Elisa dari luar, Erisa yang kebetulan tengah merapikan ruang tamu segera membukakan pintu setelah mengintip dari balik jendela yang datang adalah Elisa dan Rendi.
"Assalamualaikum" ucap Elisa saat pintu mulai terbuka lebar
"Walaikumsalam, masuk kak Elisa kak Rendi. Abi dan Umi sedang di taman belakang" kata Erisa mempersilahkan Elisa dan Rendi masuk
Deg
Lagi-lagi tanpa sengaja mata Erisa dan Rendi bertemu bahkan Rendi seperti tak mau memalingkan pandangan saat melihat bola mata Erisa yang hitam serta bulu mata yang lentik, membuat Rendi sebenarnya penasaran wajah Erisa di balik cadar itu namun sayangnya sampai detik ini belum pernah dirinya melihat Erisa membuka cadar tersebut.
Erisa segera memalingkan wajahnya tak enak hati menatap kakak ipar seperti itu, entah mengapa perasaan di hati Erisa sampai detik ini masih juga tak bisa hilang padahal ini sudah lima tahun. Bahkan saking Erisa tak bisa menghilangkan perasaannya terhadap Rendi dan tak mau membuka hati untuk laki-laki lain sampai saat ini Erisa belum juga menikah meski sudah banyak sekali laki-laki mengajaknya ta'aruf dan melamarnya namun selalu Erisa menolak.
Hingga akhirnya sekarang tak ada lagi laki-laki yang mau melamarnya dan bahkan para tetangga menggunjing Erisa terkena guna-guna makanya selalu menolak lamaran laki-laki, padahal itu tidak benar Erisa memang sengaja memilih masih sendiri karena dirinya masih berharap ada sebuah keajaiban dari MAHA KUASA akan takdir kehidupannya.
Rendi dan Elisa segera melangkahkan kaki masuk dan menuju taman belakang dimana sang ayah dan sang ibu tengah bersantai menikmati suasana pagi hari yang masih terasa sejuk akibat hujan yang turun semalam sangat deras, sehingga membasahi seluruh tanah di muka bumi ini. Sedangkan Erisa memilih ke dapur untuk membuatkan teh hangat dan kopi hitam untuk Elisa dan Rendi.
__ADS_1
"Ini teh hangat dan kopi hitamnya" kata Erisa meletakkan nampan berisi segelas teh hangat dan segelas kopi hitam bersamaan dengan cemilan di atas meja yang ada di hadapan Elisa dan Rendi serta kedua orang tuanya yang tengah duduk