Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 38


__ADS_3

Berapa hari kemudian Elisa dan Rendi telah siap ingin berangkat ke kota Padang hari ini, kedua orang tua Elisa saat ini tak bisa mengantar mereka ke bandara Soekarno-Hatta karena penyakit asam urat sang ayah sedang kambuh. Jadi Elisa dan Rendi memutuskan naik taksi dari rumah orang tuanya menuju bandara Soekarno-Hatta, setelah pamit dengan sang ayah dan saudara kembarnya Elisa dan Rendi segera keluar dari rumah orang tuanya karena kebetulan taksi online pesanan mereka telah tiba.


"Hati-hati selama di rumah ipar, baik-baik ya" kata Kirana yang mengantar Elisa dan Rendi sampai masuk ke dalam taksi


"Iya mi, Elisa doain semoga Abi cepat sehat kembali" kata Elisa kemudian melambaikan tangan kepada sang ibu setelah mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim


Taksi pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah orang tuanya, Elisa sebenarnya tak enak hati harus pergi ketika sang ayah sedang sakit namun mau bagaimana lagi tiket yang di pesan oleh Rendi hari ini keberangkatannya. Jika di tunda tentu tiket itu akan hangus dan dirinya tak mau sampai menyusahkan Rendi yang harus memesan tiket lagi, sepanjang perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta Elisa banyak diam dan terus kepikiran dengan sang ayah.


Hingga tak terasa Elisa dan Rendi tiba di bandara Soekarno-Hatta, Elisa dan Rendi segera turun dari taksi tersebut sembari tak lupa mengambil koper milik mereka masing-masing. Elisa dan Rendi berjalan masuk ke dalam bandara Soekarno-Hatta yang kelihatan sangat ramai, tiba di ruang tunggu Elisa izin sebentar dengan Rendi hendak ke kamar mandi.


Elisa melangkahkan kaki perlahan menuju kamar mandi, kemudian dirinya masuk ke dalam kamar mandi ingin segera menuntaskan keinginannya yang hendak membuang air kecil. Selesai dari kamar mandi dan mencuci tangannya, Elisa keluar dari kamar mandi dan ingin kembali ke tempat dimana Rendi tengah menunggunya namun baru melangkahkan kaki sedikit dirinya melihat dompet pria paruh baya jatuh dengan terburu-buru Elisa mengambil dompet tersebut sembari memanggil pria paruh baya itu.


"Pak, ini dompet bapak tadi jatuh disana" kata Elisa sembari menyodorkan dompet milik pria paruh baya tersebut

__ADS_1


Pria paruh baya di hadapan Elisa itu justru terdiam memandangi Elisa, bahkan pria paruh baya itu sampai meneteskan air mata melihat Elisa.


"Bapak kenapa?" tanya Elisa yang kebingungan karena pria paruh baya itu menangis


"Heni..." ucap Pria itu hendak memegang wajah Elisa namun Elisa langsung mundur


Rendi yang menunggu Elisa sudah begitu lama akhirnya memutuskan menyusul Elisa karena dirinya takut Elisa kenapa-napa, apalagi sudah hampir setengah jam Elisa ke kamar mandi padahal tadi Elisa bilang hanya sebentar. Namun saat Rendi hampir sampai dengan keberadaan Elisa, dirinya terkejut ada pria paruh baya hendak memegang wajah Elisa lalu bergegas Rendi menghampiri Elisa.


"Maaf pak, apa yang ingin bapak lakukan kepada istri saya" kata Rendi langsung berdiri di depan melindung Elisa


"Ini dompet bapak, tadi jatuh disana" kata Elisa menyodorkan kembali dompet pria paruh baya itu


"Ahh, iya terima kasih. Bentar saya ambilkan foto adik saya" kata Pria paruh baya itu sembari membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto

__ADS_1


Rendi dan Elisa tentu terkejut melihat sebuah gambar di foto itu, benar apa kata pria paruh baya itu gambar seseorang di dalam foto itu sangat mirip dengan Elisa hanya saja Elisa memakai jilbab syar'i sedangkan seseorang di dalam foto itu tak memakai hijab. Rendi langsung menatap ke arah Elisa sembari bertanya-tanya apa pria paruh baya di hadapan mereka adalah ayah biologis Elisa, namun Rendi segera membuang pikiran tersebut mungkin hanya kebetulan saja dan bukankah manusia yang telah meninggal dunia akan lahir kembali dengan wajah yang sama.


"Maaf ya pak, kita harus segera pergi soalnya nama kita sudah di panggil" kata Rendi memecahkan keheningan yang terjadi barusan


"Ahh, iya-iya. Semoga suatu saat kita bertemu lagi" kata Pria paruh baya itu


Rendi segera mengandeng tangan Elisa meninggalkan pria paruh baya barusan, Elisa dan Rendi harus segera melakukan check-in sebelum mereka naik pesawat. Namun selama menuju tempat check-in Elisa hanya diam dari tadi memikirkan kejadian barusan, dirinya masih bertanya-tanya mengapa bisa dirinya sangat mirip dengan seseorang di dalam foto tadi bagaikan saudara kembar identik jika mereka di pertemukan di tahun sekarang.


Pria paruh baya itu hanya menatap kepergian Elisa dengan raut wajah yang sedih, dirinya juga tak percaya akan bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan almarhumah adiknya. Pria paruh baya itu segera kembali melangkahkan kaki keluar dari bandara sembari menyeka air matanya yang kembali mengenang di kelopak matanya, pria paruh baya tersebut adalah Agam mantan kekasih Kirana atau lebih tepatnya pria yang dulu memperkosa Mita yang artinya ayah biologis Elisa.


"Ini sudah ke berapa kali aku kembali ke Jakarta untuk mencari keberadaan Mita namun sampai detik ini tak ada petunjuk apapun, mungkin anak yang di lahirkan Mita sudah besar seperti wanita tadi. Kenapa aku tiba-tiba memikirkan wanita yang sudah memiliki suami tadi, perasaanku mengatakan kami seperti memiliki ikatan" kata Agam yang tengah duduk di kursi tunggu depan bandara Soekarno-Hatta sembari kembali membayangkan wanita yang di temui tadi


Agam termenung mengingat kejadian yang tak terduga berapa puluh tahun lalu, dan sehabis kejadian itu dirinya harus kembali ke Kalimantan karena mendapatkan kabar Heni dan ibunya kecelakaan. Lalu 2 tahun kemudian ibunya meninggal dunia menyusul Heni sang adik, dirinya yang dulu sangat fokus mengurus ibunya tidak tau menau kabar apapun karena dirinya tak pernah memegang HP, hingga ibunya meninggal dunia baru dirinya kembali ke dunianya dan melihat semua kabar di sosial media.

__ADS_1


Dan saat pertama membuka HP dulu dirinya mendapat pesan messenger dari akun bernama Mita sembari mengaku bahwa sedang hamil anaknya, dan disitulah Agam baru teringat akan kejadian dirinya telah memperkosa Mita tanpa sengaja karena pengaruh alkohol. Semenjak dapat pesan itu Agam memutuskan mencari Mita ke Jakarta karena ingin bertanggung jawab, namun tiba di Jakarta Mita sudah tidak bekerja di restoran bahkan mencari ke alamat rumah Mita.


Rumah itu sudah di jual oleh keluarga Mita dan mencari tau dengan keluarga Mita dimana keberadaan Mita sekarang, mereka juga tidak tau menau hingga detik ini Mita menghilang bak di telan bumi.


__ADS_2