Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 13


__ADS_3

Selesai sholat subuh Elisa dan sang ibu begitu sibuk membersihkan dan merapikan rumah mereka yang hari ini akan ada acara penting yaitu lamaran resmi Elisa dan Rendi, setelah menunggu berapa minggu kemarin akhirnya Rendi akan datang lagi ke rumah Elisa bersama walinya dan rombongan para dewan guru SMP Negeri 1 Pancasila. Setelah rumah terlihat sangat rapi dan semuanya tersusun sesuai tempat yang di inginkan kini catering pesanan sang ibu datang tepat waktu di pagi hari yang masih sedikit gelap, sang ibu dengan cekatan memerintah para pengantar catering menyusun makanan tersebut di atas meja yang telah di susun oleh Elisa dan sang ibu tadi.


Tak ada kerjaan lagi sang ibu juga memerintah Elisa untuk segera membersihkan diri serta berdandan untuk menyambut ke datangan calon suaminya nanti, Elisa yang tak pernah sedikit pun membantah perintah sang ibu pun memilih menurut dan segera kembali ke kamar tidurnya ingin membersihkan diri. Tanpa menunggu lama Elisa pun setelah berada di dalam kamar tidur langsung menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri, selesai mandi Elisa bersiap-siap dengan gamis batik yang couple dengan Rendi dan tak lupa dengan hijab yang senada berwarna tosca.


Matahari kini telah menampakkan diri di ufuk timur yang artinya waktu sudah mulai pagi karena kegelapan telah di telan oleh cahaya matahari, Elisa dan kedua orang tuanya serta ada beberapa kerabat yang hadir saat ini tengah sarapan bersama di meja makan. Acara lamaran kemungkinan sekitar pukul 10.00 karena jarak dari tempat tinggal Rendi kesini lumayan jauh memakan waktu setengah jam, belum lagi Rendi menunggu para dewan guru atau teman-temannya yang akan ikut menghadiri acara lamaran tersebut tentu butuh waktu sedikit lama.


Setelah sarapan bersama kini Elisa memilih kembali ke kamar tidurnya dengan di temani sahabatnya yaitu Putri, Elisa pikir Putri akan ikut para dewan guru lainnya di rombongan Rendi. Namun ternyata Putri lebih memilih ke rumahnya dan menemani dirinya yang kini sedang gugup, entah mengapa rasa gugup masih juga Elisa rasakan padahal Rendi sudah melamarnya di sekolah serta di depan kedua orang tuanya dan hari ini sebenarnya lebih tepat di bilang acara seserahan uang dan penentuan tanggal pernikahan mereka.


"Kamu kenapa dari tadi kayak gelisah gitu?" tanya Putri kepada Elisa yang kelihatan gelisah karena terus meremas jari jemarinya


"Gak tau kenapa aku kok masih gugup aja ya" kata Elisa yang kini berganti mondar mandir di dalam kamar tidurnya


"Iya namanya juga mau lamaran resmi pasti gugup lah, belum lagi ketika ijab kabul nanti pasti makin gugup" kata Putri sembari tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu

__ADS_1


Elisa menganggukkan kepala kemudian kembali duduk di tepi ranjang samping Putri, Putri yang kini bergantian berdiri karena dirinya yang dari tadi melihat sekeliling kamar tidur Elisa begitu penasaran dengan bingkai foto kedua perempuan. Yang satu jelas bahwa itu adalah Elisa namun yang satu lagi entah siapa karena perempuan itu memakai cadar, jika itu sang ibu sepertinya berbeda dari bola matanya karena berwarna coklat sedangkan bola mata sang ibu berwarna hitam.


"Ini foto kamu dengan siapa?" tanya Putri sembari membawa bingkai foto tersebut mendekati Elisa yang kini sedang duduk di tepi ranjang


"Ohh itu saudara kembar ku, namanya Erisa. Dia gak bisa pulang karena masih kuliah di luar negeri yang tinggal satu tahun kurang" jelas Elisa sembari tersenyum melihat gambar dirinya dan Erisa yang di ambil ketika Erisa hendak berangkat ke Kairo Mesir


"Erisa, kok nama itu gak asing ya. Apa dulu dia pernah sekolah di SMP Negeri 1 Pancasila" kata Putri mengingat nama sahabatnya yang hilang tanpa kabar


"Erisa itu sahabat aku juga waktu duduk di bangku SMP, anaknya pendiam dan pas lulus SMP dia gak pernah ada kabar lagi sampai sekarang" jelas Putri mengingat masa-masa dulu waktu dirinya yang berusaha mendekati Erisa yang memang sangat pendiam


Elisa tersenyum kemudian berdiri sembari memegang bingkai foto yang berisi gambar dirinya dan Erisa, Elisa pun membenarkan perkataan Putri bahwa saudara kembarnya itu memang sangat pendiam. Elisa juga bercerita bahwa setelah lulus SMP saudara kembarnya itu memilih masuk pondok pesantren dari pada SMA, selain ingin mendalami ilmu agama Elisa merasa saudara kembarnya seperti sedang berusaha melupakan seseorang yang diketahuinya adalah cinta pertama saudara kembarnya.


Bahkan selesai mondok saudara kembarnya yang memang memiliki IQ tinggi jadi bisa lulus dengan nilai tertinggi serta dapat beasiswa kuliah di Kairo Mesir, makanya hingga sekarang saudara kembarnya belum bisa pulang ke rumah karena kuliahnya tinggal sedikit lagi. Putri yang mendengar cerita dari Elisa tak menyangka dirinya akhirnya bisa tau lagi kabar tentang Erisa, yang membuatnya semakin tak percaya ternyata Elisa dan Erisa saudara kembar namun dilihatnya seperti bukan saudara kembar karena sedikit pun tak ada mirip-miripnya.

__ADS_1


Tok...tok...tok


"El, rombongan Rendi udah datang. Ayo keluar" ujar Kirana dari luar kamar tidur Elisa setelah mengetuk pintu kamar tidur sang anak


"Iya mi" jawab Elisa menarik tangan Putri sembari meletakkan kembali bingkai foto yang dipegangnya barusan


Elisa dan Putri keluar dari kamar tidur kemudian berjalan beriringan bersama sang ibu juga, mereka pun segera duduk berdekatan setelah sampai di ruang tamu yang kini semua orang tengah duduk lesehan karena kursi ruang tamu di pindahkan ke teras depan semua. Acara demi acara pun dimulai, Elisa di minta untuk duduk tak jauh dari Rendi sembari pembawa acara bertanya apakah uang seserahan yang di minta Elisa memang sesuai dengan yang telah di siapkan oleh Rendi.


Setelah itu pihak kedua orang tua Elisa dan wali dari Rendi berunding soal tanggal pernikahan Elisa dan Rendi yang akan di gelar dua minggu ke depan, acara demi acara terus berlanjut dan kini waktunya seserahan uang serta barang yang akan di serahkan wali dari Rendi kepada sang ayah dari Elisa. Selesai semua sekarang waktunya mereka menikmati hidangan yang telah di sediakan oleh keluarga Elisa, mereka pun mulai beranjak dan mengantri dengan sesuai yaitu perempuan di meja sebelah kanan dan laki-laki di meja sebelah kiri.


"Maaf ya, kakak perempuan ku gak bisa ke Jakarta soalnya lagi hamil muda" kata Rendi sebelum beranjak dari duduknya yang saat ini kebetulan masih duduk tak jauh dari Elisa


"Iya gak apa-apa kok, yang penting kamu sudah minta restu dengan beliau. Apalagi cuma beliau keluarga yang kamu miliki sekarang" jawab Elisa yang mengerti akan keadaan kakak perempuan Rendi

__ADS_1


__ADS_2