
Di Kairo Mesir Erisa sangat sedih mengingat bahwa hari ini adalah hari pernikahan saudara kembarnya dengan Rendi Dewantoro cinta pertamanya, apalagi dua minggu yang lalu mendapat video kiriman dari sang ibu waktu lamaran saudara kembarnya saja Erisa merasa begitu sakit dan seharian menangis. Dan hari ini hatinya seperti di tusuk seribu jarum, luka tak berdarah memang sangat menyakitkan dari pada luka yang darahnya mengalir.
Erisa masih tak menyangka cinta pertama yang diharapkannya menjadi jodohnya justru menjadi kakak iparnya dan berjodoh dengan saudara kembarnya, andai waktu bisa di putar dirinya memilih lebih baik tak pernah bertemu dengan Rendi waktu duduk di bangku SMP dulu agar dirinya tak merasakan sakit saat ini. Untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya saja Erisa sudah tak semangat, apalagi mau makan rasanya semua makan terasa hambar dimulutnya.
"Ya Allah, apakah begini takdir yang harus aku jalani" ucap Erisa sembari terus menyeka air matanya yang tak henti-henti mengalir
Lagi-lagi Erisa hanya bisa mencurahkan segala isi hatinya di diary miliknya yang telah menjadi temannya dari awal dirinya duduk di bangku SMP sampai detik ini, setelah puas menulis isi hatinya di diary miliknya Erisa memilih untuk tidur siang agar pikirannya sedikit lebih tenang. Erisa pun segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian dirinya berusaha memejamkan kedua kelopak matanya agar bisa secepatnya terlelap.
Erisa keluar dari sebuah mobil yang berhenti tepat di depan lobi hotel, dengan pelan Erisa melangkahkan kakinya menelusuri aula gedung hotel yang di hiasi oleh dekorasi bunga yang bernuansa putih hijau. Erisa terus melangkahkan kakinya sampai berhenti di pelaminan tempat orang sedang melaksanakan acara pernikahan, bahkan disana banyak para tamu yang menghadir acara pernikahan tersebut.
Erisa kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu ingin mendekati sepasang pengantin yang tengah bahagia, ketika sepasang pengantin itu menoleh ke arah Erisa membuat Erisa begitu terkejut ternyata yang menjadi pengantin adalah saudara kembarnya dan Rendi laki-laki yang diam-diam dicintainya selama ini.
"Kak Elisa...." ucap Erisa tertahan tak sanggup dirinya mengucap satu kata pun
"Erisa, kenapa kamu menangis. Ini kan hari bahagia kakak, seharusnya kamu ikut bahagia" kata Elisa sembari menghampiri saudara kembarnya itu
"Kakak tega, kakak tau gak kalau Rendi adalah laki-laki yang dulu pernah aku ceritakan ke kakak. Tapi sekarang kakak justru menikah dengannya" kata Erisa dengan air mata yang terus berderai
"Apa? kakak gak tau, maafkan kakak" kata Elisa hendak memeluk saudara kembarnya
__ADS_1
Namun Erisa menolak untuk di peluk oleh Elisa dan justru Erisa mendorong tubuh Elisa sampai terjatuh ke bawah, meski pun antara pelaminan dengan lantai bagian bawah sangat rendah namun ternyata mengakibatkan Elisa terluka karena kepalanya terbentur oleh anak tangga.
"Elisa....." teriak Rendi bersamaan dengan kedua orang tua Erisa dan Elisa
"Kak Elisa, maaf Erisa gak sengaja" kata Erisa yang merasa bersalah sembari melihat kedua tangannya yang telah membuat Elisa terjatuh
"Ini semua gara-gara kamu" kata Rendi menunjuk Erisa tepat di depan wajah Erisa
"Erisa gak sengaja"
"Erisa gak sengaja"
"Erisa gak sengaja"
Erisa segera duduk dan menyadarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, mimpinya barusan seperti nyata dan Erisa tak mungkin melakukan hal seperti itu meski dirinya harus kehilangan orang yang dicintainya. Erisa melihat jam wekernya yang sudah menunjukan waktu sholat dzuhur, Erisa segera beranjak dan memilih ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dengan khusyuk Erisa menunaikan kewajibannya sebagai hamba-NYA, selesai sholat Erisa berdoa memohon keikhlasan kepada MAHA KUASA atas takdir yang kini terjadi pada dirinya dan tak lupa dirinya mendoakan kedua orang tuanya serta saudara kembarnya yang hari ini tengah bahagia. Setelah itu dilanjutkannya untuk membaca al-quran sejenak agar hatinya bisa lebih tenang, Erisa tak ingin larut dalam kesedihan hanya karena mencintai hamba-NYA terlalu berlebihan melebihi cinta kepada MAHA KUASA.
Setelah hati dan pikirannya lebih tenang dan baik Erisa ingin melanjutkan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang sudah banyak menumpuk, apalagi tiga bulan lagi dirinya harus mengajukan judul skripsinya yang dimana masa-masa akhir kuliah yang begitu sulit. Dengan tekun dan telaten Erisa mengerjakan tugas kuliahnya satu persatu, hingga tak terasa semua tugas kuliahnya pun selesai dan kini waktunya Erisa makan siang.
__ADS_1
Erisa keluar dari kamar asramanya dan berjalan menuju dapur yang terletak di paling ujung, disana sudah banyak teman-temannya yang lain sedang mengantri untuk mengambil jatah makan siang mereka. Meski sudah usia dua puluh tahun lebih sifat Erisa tak berubah yaitu pemalu dan pendiam, sampai detik ini pun dirinya masih suka sendiri bahkan ngobrol dengan teman-temannya seperlunya saja jika itu benar-benar penting.
Di asrama pun Erisa memilih kamar tidur sendirian saking tak mau privasinya di ganggu orang lain meski biaya asrama itu lebih mahal dari yang lain, beruntungnya kedua orang tuanya menyanggupi permintaan Erisa sehingga Erisa tak begitu kesusahan mendapat kamar fasilitas hanya sendiri. Erisa memang sangat berbeda dengan Elisa, sedangkan Elisa sangat ramah dan bahkan dirinya selalu menerima apa pun keputusan kedua orang tuanya selagi itu baik.
"Erisa, gimana tugas kuliah kamu. Udah selesai semua gak?" tanya Aisyah saat mereka berdua berbarengan mengambil jatah makan mereka
"Udah, barusan" jawab Erisa singkat dan jelas
"Aku ada yang kurang ngerti, boleh gak aku minta ajarin" kata Aisyah lagi sedikit memelas
"Iya, ke kamar nanti" jawab Erisa lagi sembari mengambil beberapa makan dan meletakkan ke dalam piringnya
"Oke, terima kasih ya" kata Aisyah bahagia karena akhirnya tugas kuliahnya tentu bisa di kerjakan kalau di bantu oleh Erisa yang memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata
Erisa hanya menganggukkan kepalanya sembari menaikkan sudut bibirnya sedikit di balik niqabnya, setelah itu Erisa yang selesai mengambil makanannya segera mencari tempat duduk yang kosong dan seperti biasa dirinya akan mencari kursi kosong paling pojok. Erisa menikmati makanan dengan tenang tanpa menghiraukan orang-orang disekitarnya yang begitu berisik, bagi Erisa itu tak penting selagi mereka tak menganggu dirinya.
Selesai makan Erisa langsung mencuci piring bekas makannya dan meletakkan kembali ke tempat semula, kemudian dirinya melangkahkan kaki meninggalkan area dapur dan menuju kamar tidurnya. Tiba di depan kamarnya ternyata sudah ada Aisyah yang menunggunya, Erisa pun mempersilahkan Aisyah untuk masuk ke dalam kamar tidurnya.
Aisyah yang melihat sekeliling kamar tidur milik Erisa begitu kagum, semua barang tertata dengan sangat rapi dan bahkan kamar tidur milik Erisa begitu harum dan bersih sama seperti pemiliknya yang kelihatan memang orangnya pembersih.
__ADS_1