Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 30


__ADS_3

"Dari hasil pemeriksaan, tak ada masalah. Baik Bu Elisa maupun Pak Rendi, mungkin MAHA KUASA hanya belum menitipkan saja momongan kepada kalian" kata Dokter Yuni teman Dokter Perdi


"Ohh syukurlah Dokter Yuni, saya khawatir. Takutnya saya yang bermasalah" kata Elisa yang kini merasa lebih lega setelah tau bahwa rahimnya tak bermasalah


"Ya sudah kalau begitu, kita permisi Dok" kata Rendi dengan sopan pamit dengan Dokter Yuni


Dokter Yuni menganggukkan kepala sembari menyunggingkan senyuman.


Elisa dan Rendi pun keluar dari ruangan Dokter Yuni dan ingin kembali ke sekolah untuk melanjutkan kerjaan mereka yang sempat tertunda, bahkan mereka meninggalkan sekolah sudah dua jam dan beruntung Elisa memang tak memiliki jadwal mengajar lagi setelah jam istirahat namun tetap saja dirinya harus kembali ke sekolah untuk memeriksa kerjaannya yang hanya tinggal berapa lagi.


"Sekarang jangan pikir macam-macam lagi ya, kita harus banyak berdoa saja pada MAHA KUASA" kata Rendi saat mereka tiba di parkiran sekolah


"Iya Mas" jawab Elisa tersenyum manis


"Kalau tersenyum beginikan enak lihatnya, jadi jangan cemberut lagi ya sayang" kata Rendi sembari menoel hidung Elisa gemas


Elisa menganggukkan kepala lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang kantor yang hanya berjarak berapa meter dari parkiran, Elisa langsung duduk di kursi kerjanya begitu juga Rendi dirinya langsung menuju ruang kerjanya hendak menyelesaikan tugasnya memeriksa absensi para dewan guru yang hadir dalam bulan ini karena laporan itu akan di berikan kepada direktur sekolah ini.

__ADS_1


Tak terasa bunyi bel panjang yang artinya waktunya jam pulang, seluruh murid yang mendengar bel panjang begitu senang sampai bersorak meski masih ada guru. Para dewan guru yang berada di dalam kelas pun akhirnya mengakhiri pelajaran dan keluar dari kelas, seluruh murid berhamburan dari kelas memenuhi area sekolah setelah guru-guru keluar.


Karena kebetulan hari ini hari sabtu jadi jadwalnya Elisa dan Rendi menginap di rumah orang tua Elisa, Elisa dan Rendi pun segera pulang dan memilih langsung pulang ke tempat tinggal mereka untuk mengambil pakaian mereka selama menginap di rumah orang tua Elisa. kini Elisa dan Rendi sudah berada di perjalanan menuju rumah orang tua Elisa, namun sebelum kesana Rendi seperti biasa menyempatkan membeli makanan untuk kedua mertuanya.


Ting Tong....Ting Tong


Bunyi bel dari depan yang di tekan oleh Elisa dan Rendi yang sudah sampai di rumah orang tua Elisa, Kiran pun mengintip sejenak dari balik gorden jendela dan melihat siapa di luar yang ternyata sang anak dan sang menantu. Segera dibukanya pintu utama dengan sangat lebar sembari mempersilahkan sang anak dan sang menantu masuk, sebelum masuk Elisa mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim.


"Ini mi, buah-buah tadi beli di jalan sebelum kesini" kata Elisa menyerahkan satu kresek berukuran sedang kepada sang ibu


Kirana memanggil sang suami yanag tengah beristirahat di kamar memberi tahu bahwa ada Elisa dan Rendi baru datang, sang suami yang kebetulan sudah bangun dari tidurnya langsung beranjak dan menghampiri Elisa dengan Rendi yang tengah duduk di ruang tamu. Sedangkan Kirana memilih ke dapur ingin membuatkan minum untuk sang suami beserta sang anak dan sang menantu, setelah siap Kirana membawa nampan yang berisi empat gelas teh hangat ke ruang tamu.


Mereka berempat pun mulai berbincang-bincang hangat mengisi ke kosongan, Kirana juga menceritakan kepada semuanya bahwa bulan depan Erisa saudara kembarnya Elisa akan kembali ke Indonesia setelah hampir empat tahun lebih berada di Kairo Mesir. Elisa yang mendengar tentu sangat bahagia karena dirinya sudah sangat merindukan saudara kembarnya itu, apalagi selama ini mereka jarang komunikasi karena peraturan di Kairo Mesir sangat ketat.


Kini matahari sudah mulai turun setelah sholat ashar Elisa membantu sang ibu yang ingin memasak buat mereka makan malam nanti, Elisa sangat bahagia dan bersyukur mendapatkan suami yang bekerja disini jadi dirinya dan suaminya masih bisa mengunjungi kedua orang tuanya setiap akhir pekan. Di tambah sebentar lagi saudara kembarnya akan pulang, membuat kebahagian Elisa semakin bertambah karena akhirnya mereka bisa berkumpul lagi meski ada yang berbeda tapi dirinya tetap bersyukur.


"Umi dan Abi, gak ke Kairo Mesir menyaksikan wisuda Erisa?" tanya Elisa kepada sang ibu memecahkan keheningan

__ADS_1


"Gak, Abi sih pengen tapi Erisa gak nyuruh kasian Abi katanya" jawab Kirana menjelaskan bahwa Erisa tak mau merepotkan kedua orang tuanya jika melakukan perjalanan jauh, apalagi Erisa tau akhir-akhir ini kesehatan sang ayah tak seperti dulu


"Hem, gitu" jawab Elisa menganggukkan kepala kecewa


Kemarin ketika Elisa wisuda dirinya memohon kepada sang ibu dan sang ayah agar mau menyaksikan wisudanya, namun sang ayah terang-terangan menolak meski Elisa tau sang ayah memang tidak sehat seperti dulu tapi Elisa ingat satu minggu mendekati hari wisudanya sang ayah bahkan tidak di rumah melainkan mengontrol klinik yang didirikan sang ayah yang ada di sebuah desa.


Tapi giliran saudara kembarnya sekarang ingin wisuda sang ayah memaksa ingin ke Kairo Mesir padahal sedang kurang sehat, dan untungnya saudara kembarnya sangat pengertian jadi tak mengizinkan sang ayah dan sang ibu untuk pergi ke Kairo Mesir. Elisa tersenyum kecut ternyata sangat jelas kasih sayang sang ayah lebih ke saudara kembarnya ketimbang dirinya, untung sebelum saudara kembarnya kembali ke Indonesia dirinya sudah menikah dan tidak tinggal disini lagi.


Jika itu terjadi tak bisa Elisa bayangan harus selalu menyaksikan kasih sayang dan perhatian sang ayah terhadap saudara kembarnya, selesai masak Elisa pamit dengan sang ibu hendak membersihkan tubuhnya yang mulai terasa lengket. Tiba di kamar Elisa melihat Rendi sedang duduk bersandaran di sandaran tempat tidur sembari memainkan HP-nya, Elisa menyapa Rendi dan bertanya apakah Rendi sudah mandi.


"Kalau saudara kembarmu kembali ke Indonesia, apa kita akan tetap berkunjung kesini setiap akhir pekan?" tanya Rendi yang sebenarnya merasa gelisah jika bertemu dengan iparnya


Apalagi pepatah mengatakan ipar adalah maut, Rendi sangat takut meski dirinya bisa menjaga pandangannya namun dirinya tak tau bagaimana dengan sifat dan kelakuan iparnya itu.


"Tentu, karena itulah yang aku tunggu selama ini. Kenapa kamu takut ya dia jatuh cinta sama kamu, tenang aja saudara kembarku itu sudah punya dambaan hati dari SMP malahan. Katanya cinta pertama" kata Elisa sembari menjahili Rendi yang memang selalu risih jika berada di dekat perempuan selain dirinya, sang ibu, dan kakak perempuan Rendi


Rendi hanya tersenyum menanggapi kejahilan Elisa.

__ADS_1


__ADS_2