Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 36


__ADS_3

Libur semester kali ini Erisa tak bisa lagi untuk menghindar dari Elisa dan Rendi karena seminggu mereka akan menginap di kediaman orang tuanya, Erisa pun hanya bisa pasrah jika harus menyaksikan lagi kemesraan Elisa dan Rendi meski sudah hampir berapa bulan Erisa bisa menghindar namun tidak sekarang. Erisa dan Elisa sudah sibuk di dapur menyiapkan makan siang bersama sang ibu, dulu Erisa agak malas berurusan dengan dapur namun semenjak Elisa menikah Erisa tak mungkin membiarkan sang ibu sendirian mengerjakan pekerjaan rumah.


"Bagaimana, masih belum isi?" tanya Kirana kepada Elisa yang tengah menata makanan di atas meja makan


"Belum mi, padahal Elisa dan Rendi udah periksa. Alhamdulilah tak ada yang bermasalah dari kami berdua, jadi sekarang kami hanya bisa pasrah" jawab Elisa yang memang sudah sangat pasrah tentang momongan apalagi ini udah 2 tahun pernikahan mereka


"Sabar, mungkin belum saja. MAHA KUASA lebih tau jawabannya" kata Kirana sembari mengelus pundak sang anak


Erisa yang mendengarkan pembicaraan sang ibu dengan Elisa hanya diam tak berkomentar, namun dirinya selalu memperhatikan interaksi sang ibu dengan Elisa yang kelihatannya sang ibu lebih menyayangi dan perhatian kepada Elisa ketimbang dirinya. Meski sang ibu sesekali mengobrol dengan dirinya tapi jarang sang ibu untuk memberi dirinya semangat seperti yang di lakukan sang ibu barusan terhadap Elisa, yang lebih banyak memberinya semangat iyalah sang ayah.


Padahal Erisa pengen juga merasakan perhatian secara lebih dari sang ibu seperti Elisa, seharusnya sekarang Elisa yang sudah berumah tangga tentu sang ibu tak perlu terus-terusan memberi perhatian kepada Elisa karena sudah ada suaminya yang senantiasa memberi perhatian dan menyayangi Elisa. Sedangkan Erisa kemana tak ada semenjak dirinya kembali ke Indonesia paling hanya perhatian kecil yang di berikan sang ibu, tak pernah sang ibu bertanya dengan dirinya dari hati ke hati apalagi perihal perjodohan yang selalu di tuntun oleh sang ibu dan sang ayah hampir setahun ini.


Setelah menata semua makanan kini Elisa menghampiri Rendi dan sang ayah yang tengah duduk di ruang tamu hendak mengajak makan siang bersama, Rendi dan sang ayah langsung beranjak setelah dapat ajakan dari Elisa. Kini mereka berlima makan bersama di meja makan tanpa suara atau percakapan, hening seperti itulah kebiasaan dalam keluarga mereka yang sudah di ajarkan oleh sang ayah dan sang ibu jika sedang makan tak ada yang boleh bersuara.


"Biar kita aja mi" kata Erisa hampir bersamaan dengan Elisa setelah mereka semua selesai makan hendak membereskan meja makan

__ADS_1


"Ya sudah, Umi ke depan ya" jawab Kirana meninggalkan kedua anaknya itu


Selepas kepergian sang ibu Erisa dan Elisa mulai membereskan meja makan sekalian mencuci piring-piring kotor tersebut.


"Enak banget ya kak Elisa jadi kakak, begitu di perhatian oleh Umi. Sedangkan Erisa hanya bisanya di tuntun untuk menikah" kata Erisa sembari mencuci piring


"Mungkin kamu lihat seperti itu, bukankah Abi yang begitu perhatian denganmu selama ini" jawab Elisa tersenyum gentir


"Gak cukup kak Elisa kalau hanya Abi, Erisa juga pengen dapat perhatian dari Umi" jawab Erisa tanpa menoleh ke arah Elisa


"Kakak kan sudah punya suami, masak masih mau minta perhatian dari Abi" jawab Erisa sembari menata piring yang sudah bersih ke rak piring


Elisa pun diam tak menjawab lagi, merasa aneh dengan sikap Erisa sekarang. Padahal bisa di lihat sang ibu masih begitu perhatian dengan Erisa tapi Erisa bilang sang ibu tak perhatian, bagaimana dengan dirinya yang sangat di cuekin sang ayah selama ini tapi dirinya tetap sabar dan beruntungnya sekarang dirinya sudah memiliki Rendi yang begitu perhatian dan sayang dengan dirinya. Jadi dirinya tak terlalu butuh lagi perhatian dan kasih sayang dari sang ayah, meski banyak yang bilang cinta pertama anak perempuan itu ayah tapi tidak dengan dirinya.


Selesai semua pekerjaan di dapur Erisa memutuskan untuk langsung masuk kamar malas melihat kedua orang tuanya mengobrol dengan Elisa dan Rendi karena ujung-ujungnya dirinya jadi obat nyamuk, Erisa memilih menyibukkan diri di dalam kamar sembari mengecek ujian anak-anak TK yang lumayan banyak apalagi dirinya mengecek sendiri karena Aisyah sedang mempersiapkan acara pernikahannya jadi tak mungkin dirinya minta bantu dengan Aisyah. Sudah beberapa puluh lembar kertas ujian yang di periksa oleh Erisa membuat dirinya terserang kantuk, hingga akhirnya Erisa menyudahi pekerjaannya dulu dan ingin tidur siang sejenak mumpung sekarang libur panjang.

__ADS_1


Di ruang keluarga Elisa dan sang ibu terus mengobrol seperti biasa dari hati ke hati bercerita pengalaman sang ibu yang pernah susah hamil karena ada suatu penyakit di dalam rahim sang ibu, dan syukurnya sang ayah ada uang jadi mengajak sang ibu berobat di singapore. Berbeda dengan kasus Elisa sekarang karena dirinya di tanyakan baik-baik saja tak ada masalah di rahimnya, namun kemungkinan MAHA KUASA memang mempersiapkan hal lain sehingga mereka belum di karuniai momongan.


"Umi dengan Abi masih menjodohkan Erisa dengan anak teman Umi dan Abi?" tanya Elisa mengubah topik pembicaraan mereka


"Iya, tapi Erisa masih tetap teguh belum mau menikah" jawab Kirana yang sebenarnya bingung mengapa Erisa belum mau menikah, ingin bertanya dari hati ke hati tapi Erisa terlihat begitu selalu sibuk


"Biarin aja mi, Erisa mencari sendiri pasangan hidupnya. Mungkin saja Erisa masih menunggu cinta pertamanya dan mungkin Erisa yakin suatu saat cinta pertamanya akan datang melamarnya" kata Elisa sembari menggenggam jari jemari sang ibu


"Bukankah Erisa sudah bilang cinta pertamanya sudah menikah, bahkan sudah bahagia sekarang" kata Kirana menatap sang anak


"Kapan Erisa bilang mi, Elisa baru tau" kata Elisa begitu terkejut tau kenyataan ini


"Aisyah yang bilang" jawab Kirana yang teringat perkataan Aisyah


Elisa pun terdiam jadi ini membuat Erisa lebih sering menyibukkan diri selama dua tahun ini karena sudah tau cinta pertamanya sudah menikah, Elisa jadi merasa kasihan dengan Erisa pantas Erisa begitu ingin dapat perhatian dari sang ibu. Erisa butuh teman curhat yang mengerti perasaannya, tapi mengapa Erisa tak mau bercerita dengan dirinya padahal dirinya 24 jam siap mendengarkan curhatan Erisa atau Erisa tak mau menganggu waktunya lagi semenjak dirinya menikah karena tau waktunya sekarang untuk suaminya.

__ADS_1


"Maafin Kakak, Erisa. Kakak tak tau masalah yang kamu hadapi selama ini" kata Elisa dalam hati merasa bersalah


__ADS_2