Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 34


__ADS_3

Waktu terus berjalan bangunan sekolah TK yang di impikan Erisa pun kini sudah berdiri koko dihadapannya, dirinya sangat bahagia dan selanjutnya tinggal dirinya promosikan siapa yang mau memasukan anak mereka ke sekolah TK milik Erisa. Bahkan warna dan area permainan serta yang lain benar-benar sesuai dengan desain yang Erisa inginkan, Erisa segera menghampiri kedua orang tuanya yang tak jauh dari sekolah TK tersebut.


"Bagaimana sayang? Puas" tanya Dokter Perdi kepada sang anak ketika sang anak ada didekatnya


"Iya bi, bagus sesuai dengan kemauan Erisa. Terima kasih ya bi" kata Erisa tersenyum bahagia


"Selamat ya Erisa, akhirnya impianmu tercapai juga" kata Elisa yang dari tadi menyaksikan interaksi sang ayah dan saudara kembarnya


"Iya Kak Elisa" jawab Erisa yang sebenarnya malas bertemu dengan saudara kembarnya sekarang apalagi ketika bersama Rendi karena hati Erisa akan terasa nyeri setiap kali melihat kemesraan Elisa dan Rendi


Mereka semua pun kembali ke kediaman orang tua mereka dengan mengunakan kendaraan masing-masing, Erisa tentu ikut kedua orang tuanya sedangkan Elisa berdua dengan Rendi mengunakan sepeda motor. Karena jarak tak terlalu jauh Erisa bisa melihat bagaimana Elisa dan Rendi tertawa lepas di atas sepeda motor, bercanda gurau sembari bercerita entah apa yang mereka ceritakan sehingga membuat Elisa dan Rendi bahagia.


"Umi bahagia banget lihat Kak Elisa mu bahagia, dia beruntung mendapatkan suami seperti Rendi yang selalu bisa membuatnya tertawa setiap detik" kata Kirana yang juga ikut memperhatikan Elisa dan Rendi dari dalam mobil


"Iya Umi, Kak Elisa beruntung mendapatkan suami seperti kak Rendi" jawab Erisa yang lagi-lagi merasa hatinya begitu nyeri


"Umi juga doakan semoga kamu dapat suami seperti Rendi juga" kata Kirana mengelus pundak sang anak


Erisa tersenyum kecut di balik cadarnya, rasanya dirinya sudah tak percaya jika di dunia ini dirinya akan mendapatkan laki-laki seperti Rendi. Selain Rendi yang selalu bisa membuat saudara kembarnya bahagia, Rendi juga bisa menjaga pandangan terhadap lawan jenis sehingga selama berdekatan dengan Erisa sedikitpun Erisa tak pernah melihat Rendi tersenyum menyapanya.

__ADS_1


Bukan berharap hanya saja Erisa tak menyangka sebegitu besarnya cinta Rendi terhadap Elisa sehingga dirinya sebagai ipar tak pernah ngobrol meski sepatah, Erisa membuang pandangannya ke arah lain dan menyeka air mata yang hendak jatuh. Lagi-lagi dirinya seperti masih belum ikhlas menerima takdir ini, apalagi rasa sakit di hati itu begitu terasa.


"Erisa, kenapa kamu nangis?" tanya Dokter Perdi yang tak sengaja melihat sang anak menyeka air mata dari kaca mobil


"Gak apa-apa bi, hanya kelilipan" jawab Erisa yang selalu mencari alasan agar tak ketahuan


Mobil avanza milik sang ayah pun memasuki pekarangan rumah dan langsung di masukan sang ayah ke dalam garasi, Erisa turun bersama sang ibu dengan tersenyum sembari merangkul. Tak lama Elisa dan Rendi juga tiba, sang ibu juga langsung merangkul kedua anaknya itu untuk masuk ke dalam rumah.


Setelah pintu terbuka sempurna mereka semua melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, Rendi dan sang mertua laki-laki memilih duduk di ruang tamu berbincang mengisi kekosongan. Sedangkan Erisa dan Elisa serta sang ibu memilih duduk di ruang keluarga, Elisa mulai membuka obrolan dan akan membantu mempromosikan sekolah TK milik Erisa yang insyaallah berapa bulan lagi menerima murid baru apalagi sebentar lagi para murid sudah kenaikan kelas dan tentu belajar tahun ajaran baru.


"Udah siang, ayo bantu Umi siapin makan siang" kata Kirana kepada kedua anaknya itu


Jika melakukan pekerjaan bersama seperti ini Erisa seperti melupakan akan rasa sakitnya, namun ketika saat dirinya melihat kemesraan Elisa dan Rendi disitu rasa sakitnya akan kembali terasa. Erisa mungkin egois masih mencintai suami saudara kembarnya sendiri, namun bukan perasaan cinta itu tak bisa di salahkan karena semua orang punya rasa itu hanya saja mungkin Erisa yang salah belum bisa mengubur perasaan itu.


Kini mereka berlima makan bersama lagi di meja makan dan seperti biasa takkan ada yang berani bersuara hanya terdengar denting sendok yang mengenai permukaan, selesai makan dan selesai beres-beres. Rendi masih melanjutkan obrolannya dengan sang mertua laki-laki namun kali ini mereka memilih bersantai di taman belakang, sedangkan sang ibu memilih masuk kamar utama pengen istirahat kalau Erisa dan Elisa memilih ngobrol di kamar tidur Erisa.


"Udah berapa bulan disini belum pengen apa nyusul" kata Elisa kepada Erisa yang tengah sibuk melihat buku-buku untuk sekolah TK


"Nyusul siapa? Memangnya mau kemana?" tanya Erisa yang sedikit bingung dengan perkataan Elisa

__ADS_1


"Nyusul naik pelaminan kayak aku" jawab Elisa sembari menyunggingkan senyuman manisnya


"Belum kepikiran, masih mau fokus ngembangin sekolah TK yang baru saja selesai di bangun" jawab Erisa tak berubah dengan posisinya yang masih fokus dengan buku


Elisa hanya mangut-mangut namun sedikit penasaran dengan laki-laki yang menjadi cinta pertama Erisa sehingga membuat Erisa seperti belum mau membuka hati, apalagi tiga minggu yang lalu ada anak teman sang ayah ingin mengajaknya ta'aruf tapi Erisa dengan tegas menolak dengan alasan ingin fokus mewujudkan impian. Perasaan impian Erisa hanya sekolah TK jadi walaupun menikah takkan terhalang apapun, Elisa pun hanya mengangkat kedua bahunya tak mengerti dengan Erisa yang kian tertutup dengan dirinya.


"Erisa, aku baru ingat ada teman aku kenal juga loh dengan kamu. Katanya teman SMP dulu satu kelas lagi" kata Elisa yang kembali membuka obrolan karena dari tadi Erisa tak juga mengajaknya ngobrol


Deg


"Teman SMP, satu kelas" kata Erisa dalam hati berpikir takut-takut Rendi yang mengenalinya


"Siapa?" tanya Erisa menoleh menatap Elisa sedikit penasaran juga


"Namanya Putri, kamu masih ingat gak. Bahkan katanya kamu satu bangku waktu kelas VII" jawab Elisa begitu antusias menceritakan kenangan mereka waktu SMP


"Ahh, aku kira siapa? Aku lupa, mungkin saja dia yang masih ingat aku" jawab Erisa dengan santai kemudian kembali melihat ke arah buku-buku itu


Elisa hanya menghela napas panjang, sudah begitu semangat bercerita tapi tanggapan Erisa hanya seperti itu. Elisa jadi merasa sekarang mereka seperti bukan saudara kayak dulu lagi, semenjak pulang dari Kairo Mesir Erisa berubah 180 derajat semakin pendiam cuek dan sangat tertutup pada dirinya. Padahal dulu apa-apa Erisa selalu bercerita dengan dirinya sampai dirinya pun tau bahwa Erisa pernah jatuh cinta dengan seorang laki-laki waktu SMP dulu, ya orang anggap cinta monyet tapi bagi Erisa itu cinta pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2