Mencintai Pria Yang Sama

Mencintai Pria Yang Sama
Bab 45


__ADS_3

Para keamanan pun sudah mengamankan Dokter Perdi dengan Agam, dan tak berapa lama pintu ruang UGD terbuka lagi memunculkan Dokter dan perawat yang membawa brangkar Elisa yang akan di pindahkan ke ruang ICU.


"Ada apa, ini Dok?" tanya Rendi ketika melihat Elisa terbaring lemah dan pucat di brangkar


"Ibu Elisa kritis, jadi akan di pindahkan ke ruang ICU" jelas Dokter tersebut


Rendi yang mendengar kembali menangis melihat orang yang sangat dicintainya kritis, Rendi pun ikut mendorong brangkar yang membawa Elisa sampai masuk ke dalam ruang ICU. Setelah itu Rendi di minta untuk menunggu di luar, namun Rendi memberontak dan ingin menemani Elisa yang saat ini sudah di pasangi beberapa alat ditubuhnya.


"Sayang, ayo bangun" kata Rendi sembari menggengam jari jemari Elisa dengan air mata yang terus menetes


Erisa yang ada di depan ruang ICU melihat ke dalam ruangan dan melihat bahwa Rendi begitu terlihat sangat terpuruk melihat Elisa yang kritis, Erisa menjadi merasa bersalah akibat dirinya saudara angkatnya itu kini harus berjuang antara hidup dan mati.


Agam pun merasa sedih juga ketika dirinya telah berhasil menemukan anaknya tapi justru bertemu di saat anaknya dalam keadaan kritis, dirinya merasa menyesal mengapa baru sekarang menemukan anaknya padahal selama ini dirinya berada di dekat anaknya yaitu satu kota.


Sedangkan Dokter Perdi dan Kirana juga tak bisa berbuat apa-apa, mereka juga sedih harus melihat Elisa kritis meski Elisa bukan darah daging mereka tapi Elisa sudah dari kecil mereka rawat sampai Elisa menemukan pasangan hidup. Suasana di lorong rumah sakit tepatnya di depan ruang ICU begitu sunyi dan sepi, mereka yang berada di depan ruang ICU sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Erisa, kita pulang yuk nak. Ini udah sore" kata Kirana kepada Erisa yang dari tadi berdiri di depan pintu ruang ICU bahkan matanya terus menatap ke dalam ruangan


Erisa hanya menjawab dengan anggukkan kepala sembari menyeka air matanya yang dari tadi menetes, kemudian Erisa melangkahkan kaki bersama sang ibu yang merangkul pundaknya karena rasanya Erisa tak sanggup untuk sekedar melangkah.

__ADS_1


"Aku titip Elisa, tolong gantian dengan Rendi. Kasian dia" kata Dokter Perdi kepada Agam kemudian ikut melangkahkan kaki menyusul sang istri dan sang anak


Kini Erisa dan kedua orang tuanya sudah berada di dalam mobil, bahkan mobil pun sudah di lajukan oleh sang ayah dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit tersebut dan menuju kediaman mereka yang memang hanya berapa belas menit.


Tiba di rumah orang tuanya, Erisa langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tidurnya. Di dalam kamar Erisa hanya bisa menangisi apa yang telah terjadi, dirinya benar-benar tak menyangka Elisa akan mengalami kecelakaan bahkan jadi kritis.


Erisa juga sakit hati melihat rasa cinta di mata Rendi begitu besar dengan Elisa, sepertinya dirinya harus benar-benar mengubur perasaannya karena sudah lima tahun lebih dirinya bertahan dengan semuanya dan sudah waktunya dirinya membuka hatinya untuk laki-laki lain.


.


.


Tak terasa waktu terus berjalan minggu telah berganti bulan, sudah dua bulan Elisa masih koma bahkan tak ada tanda-tanda ingin bangun seperti betah dengan dunianya disana. Erisa yang melihat Elisa belum kunjung bangun dari komanya semakin merasa bersalah, apalagi sekarang yang di lihat Erisa Rendi yang semakin tak mengurusi keadaannya yang semakin acak-acak dan tak pernah mau lagi masuk ke sekolah.


Agam pun sama seperti Rendi dirinya berharap anak kandungnya itu segera bangun, namun masih juga belum ada tanda-tanda padahal dirinya ingin sekali merasakan menjadi seorang ayah. Begitu juga kedua orang tua Erisa ikut larut dalam kesedihan melihay Elisa tak kunjung bangun, bahkan mereka tak tega melihat Rendi yang semakin kurus dan rambut mulai memanjang.


"Dok, apa masih belum ada tanda Elisa akan bangun?" tanya Agam kepada Dokter yang menangani Elisa sekarang


"Belum, karena memang hanya 20% kemungkinan Elisa mau bangun" kata Dokter itu yang sebenarnya sudah pasrah menangani Elisa yang masih kritis

__ADS_1


"Ya tuhan" ucap Agam sembari meraup wajahnya secara kasar


Semua orang yang mendengar penjelasan dari Dokter hanya bisa menghela napas panjang, ternyata pendarahan otak di kepala Elisa sangat parah mengakibatkan dirinya masih kritis sampai detik ini. Hanya keajaiban tuhan yang bisa menyembuhkan Elisa, dan semua orang terus mendoakan kesembuhan Elisa.


"Ini sudah waktunya makan siang, Rara coba kamu bujuk Rendi agar mau makan. Bukankah dari pagi tadi Rendi belum makan sama sekali" ujar Kirana pada kakak perempuan Rendi


"Baik Umi" jawab Rara lalu masuk ke dalam ruang ICU


Rara diam mematung di depan pintu masuk setelah masuk ke dalam ruang ICU, dirinya tak tega melihat sang adik yang sangat terpuruk itu. Rara segera menyeka air matanya yang hampir jatuh, kemudian melangkahkan kaki mendekati sang adik.


"Ren, makan dulu yuk. Kamu harus banyak makan biar bisa terus menjaga Elisa, kalau kamu tak peduli dengan kesehatanmu entar kamu sakit dan siapa yang akan menjaga Elisa" kata Rara sembari memegang pundak sang adik


"Kak, sampai kapan Elisa seperti ini. Aku kehilangan separuh nyawaku kak" kata Rendi yang tak henti-henti menangis dan mungkin air matanya sudah tak mau keluar karena keseringan menangis


"Kita hanya bisa berdoa, mungkin aja suatu saat ada keajaiban" kata Rara sembari mengelus pundak sang adik


"Aamiiin semoga aja, kak" jawab Rendi yang masih menggenggam jari jemari milik Elisa


"Sayang, aku keluar sebentar ya. Cepat bangun" kata Rendi pada Elisa sembari mencium pucuk kepala Elisa

__ADS_1


Rendi dan Rara pun segera melangkahkan kaki keluar dari ruang ICU, Rara langsung mengajak Rendi ke kantin yang ada di rumah sakit menemani sang adik agar mau makan. Saat melangkahkan kaki tatapan bola mata Rendi dan Erisa sempat beradu, Erisa menatap dengan sendu namun Rendi menatap Erisa dengan tatapan penuh kebencian karena Rendi masih menyalahkan Erisa atas penyebab keadaan Elisa sekarang.


Erisa langsung menundukkan kepalanya, dirinya tak menyangka jika sekarang Rendi sangat membenci dirinya. Namun Erisa tak bisa berbuat apa-apa semuanya mungkin memang salahnya, yang terlalu gegabah memberi tahu Elisa semua fakta tentang Elisa dan mengakibatkan Elisa sok berat sampai tak sadar jika ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi hingga menabrak Elisa.


__ADS_2