
Setelah mengantarkan minuman dan cemilan ke taman belakang, Erisa memilih masuk kembali ke dalam rumah ingin meletakkan nampan dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Namun setelah melewati pintu Erisa mendengar kedua orang tuanya yang sedang menenangkan Elisa yang tiba-tiba menangis, Erisa menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang.
Terlihat disitu sang ibu tengah memeluk Elisa sembari terus mengelus punggung belakang Elisa, Erisa hanya diam mematung memperhatikan semua orang yang sangat peduli dengan keadaan Elisa yang saat ini tak kunjung hamil. Tiba-tiba Erisa tertawa menertawakan diri sendiri karena kedua orang tua mereka tak pernah bertanya keadaannya yang memang selama ini selalu berusaha terlihat baik-baik saja, padahal kenyataannya dirinya lebih tersiksa selama lima tahun ini.
Erisa yang tak sanggup menyaksikan bagaimana pedulinya kedua orang tua mereka terhadap Elisa, memilih segera mempercepat langkah kakinya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Selesai semua pekerjaannya Erisa segera masuk ke dalam kamar tidurnya, dirinya hanya bisa menumpahkan segala kesedihannya di diary miliknya yang sudah menemaninya dari masa remaja sampai sekarang.
Erisa selalu protes mengapa MAHA KUASA seperti tak pernah adil dengan kehidupannya yang setiap hari harus menjalani hari-harinya penuh kesedihan, padahal dirinya juga berhak bahagia seperti orang pada umumnya. Erisa merasa Elisa sangatlah beruntung selain mendapatkan suami seperti Rendi yang selalu menyayangi Elisa dan menemani Elisa meski Elisa sampai saat ini belum hamil juga, begitu juga dengan kedua orang tua mereka yang selalu peduli dengan keadaan Elisa.
Mungkin dulu dirinya sering di perhatikan karena segala yang dirinya inginkan bisa tercapai, namun berbeda dengan sekarang apa diinginkannya rasanya sulit untuk dirinya dapatkan apalagi prihal soal jodoh. Erisa hanya bisa sabar dan yakin pasti suatu saat jodoh yang telah di tetapkan oleh MAHA KUASA untuk dirinya akan datang meski dirinya tak tau kapan itu akan terjadi, apalagi sekarang usianya sudah 30 tahun rasanya sudah begitu tua untuk dirinya menikah.
Waktu berjalan begitu cepat Erisa yang terlalu lama dalam kamar tidurnya akhirnya memilih keluar, ingin membantu sang ibu dan Elisa menyiapkan makan siang untuk mereka sekarang. Erisa melangkahkan kaki ke arah dapur disana sudah terlihat sang ibu dan Elisa yang tengah tertawa dan bercanda membuat Erisa semakin iri, apalagi semenjak dirinya menyibukkan diri di sekolah TK dirinya sudah jarang sekali untuk tertawa dan bercanda bersama sang ibu.
"Panggil suamimu dan Abi di taman belakang, makan siang udah siap" ujar Kirana kepada Elisa setelah semua makanan sudah tertata rapi di atas meja makan
"Baik Umi" jawab Elisa
__ADS_1
Elisa segera melangkahkan kaki ke arah taman belakang hendak memanggil Rendi dan sang ayah, setelah itu Elisa kembali bersamaan Rendi dan sang ayah yang berjalan di belakang Elisa. Erisa yang sudah duduk di kursi makan hanya melihat sekilas ke arah Elisa dan Rendi serta sang ayah, Erisa memilih mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Berbeda dengan Elisa yang harus mengambilkan untuk Rendi terlebih dahulu, begitu juga dengan sang ibu yang mengambilkan makanan untuk sang ayah dahulu.
"Kamu terlihat kurus sekarang, pasti sibuk dengan urusan sekolah. Makan yang banyak" kata Dokter Perdi kepada Erisa yang mengambil makanan hanya sedikit
"Iya bi" jawab Erisa yang selalu senang di perhatikan sang ayah namun dirinya tetap merasa kurang karena selama ini dirinya butuh teman curhat mau curhat dengan sang ayah rasanya tak etis.
"Kamu juga Elisa, makan yang banyak" kata Kirana yang lagi-lagi memperhatikan Elisa membuat Erisa semakin tak suka
Erisa yang tadinya makannya sangat lahap tiba-tiba hilang seketika nafsu makannya saat melihat Rendi yang begitu perhatian dengan Elisa, seharusnya dirinya tak boleh seperti itu apalagi Rendi memang suaminya Elisa jadi pantas-pantas saja jika memperlakukan Elisa bak bidadari. Namun rasanya ada yang begitu nyeri di lubuk hati Erisa, Erisa pun mengambil segelas air minum lalu meminumnya sampai tandas.
"Abi Umi, Erisa udah selesai makannya. Erisa ke kamar dulu, kak Elisa kak Rendi" kata Erisa langsung beranjak dari kursi makan dan melangkahkan kaki ke kamar tidurnya
"Erisa kenapa mi, sepertinya ada masalah?" tanya Elisa yang bisa melihat dari raut wajah Erisa yang sepert sangat tertekan
__ADS_1
"Entahlah, Umi mau bertanya tapi Erisa sangat sibuk dengan urusan sekolah TK. Pulang ke rumah selalu sore, keluar kamar hanya pas makan saja. Mungkin waktu libur seperti ini Erisa keluar, tapi itu pun ia sibuk mengerjakan pekerjaan rumah" kata Kirana yang ingin sekali bertanya dengan Erisa namun dilihatnya Erisa selalu sibuk jadi tak berani untuk menganggu
"Udah ngobrolnya, kita lagi makan" tegur Dokter Perdi yang bisa merasakan bahwa Erisa menyimpan beban yang sangat berat
Rendi yang merasa bukan urusannya hanya diam saja dari tadi tak berkomentar apapun, mereka berempat akhirnya melanjutkan acara makan mereka dalam keadaan diam tak ada yang berani bersuara lagi hanya terdengar dentingan sendok yang mengenai permukaan piring. Hingga akhirnya mereka berempat pun selesai makan, setelah itu sang ayah dan sang ibu memilih langsung ke kamar hendak mengerjakan kewajiban sebagai hamba-NYA.
Elisa segera membereskan meja makan serta mencuci piring kotor bekas mereka makan barusan, sedangkan Rendi pamit dengan Elisa ingin pergi ke masjid untuk sholat berjamaah disana. Setelah semua pekerjaan beres Elisa melangkahkan kaki hendak ke kamar tidurnya ingin sholat juga seperti yang lain, namun saat melewati kamar tidur milik Erisa Elisa sayup-sayup mendengar suara tangis seseorang yang Elisa yakini pasti Erisa saat ini sedang menangis.
"Ada apa dengan Erisa?" kata Elisa yang masih berdiri di ambang pintu kamar milik Erisa
"Elisa ada apa?" tanya Kirana yang kebetulan baru keluar dari kamar utama tapi melihat Elisa berdiri di ambang pintu kamar milik Erisa
"Gak ada apa-apa, mi" jawab Elisa kemudian kembali melangkahkan kaki ke arah kamar tidurnya
Sang ibu hanya menganggukkan kepala kemudian melanjutkan langkah kakinya yang tadi ingin ke dapur mengambil air minum karena kebetulan air minum di kamar utama habis, saat hendak kembali ke kamar utama sang ibu menyempatkan diri berdiri di ambang pintu kamar milik Erisa ingin memastikan apa ada yang terjadi karena tadi sang ibu melihat Elisa berhenti namun tak terdengar apapun dari dalam kamar tidur Erisa jadi sang ibu memutuskan untuk segera kembali ke kamar utama karena yang meminta minum adalah sang ayah.
__ADS_1