Mengejar Cinta Mr Arogan

Mengejar Cinta Mr Arogan
Di ikuti


__ADS_3

"Bau Pesing." Umpat Leona sambil menutup hidungnya.


"Haruka. Terserah kamu saja mau kau apakan pria ini. Aku mau muntah melihat wajahnya yang jelek." Leona memerintah kemudian pergi meninggalkan mereka.


Pria cabul itu merasa lega karena bukan Leona yang menghukum. Jujur saja, ia takut sama Leona.


"Oke. Nona." Ucap Haruka dengan senyum misteriusnya.


Salah besar kalau pria itu menganggap lebih baik dihukum Haruka.


Karna Haruka lebih kejam dari Leona walau kelihatan kalem. Karna Haruka adalah psikopat.


Haruka kemudian membawa pria itu ketempat eksekusi.


Leona mempunyai laboratorium sendiri. Leona memiliki banyak sekali ramuan, baik itu obat herbal dan beberapa serum untuk membunuh orang tanpa ketahuan.


Leona awalnya agak terkejut, ia bisa melakukan hal itu. Leona tidak pernah tau kalau ia ternyata pandai meracik obat dan serbuk. Tapi ia bersyukur, berkat bakatnya itu, ia bisa melarikan diri dan membawa Haruka pergi bersamanya.


.


.


.


.


"Kakak..." Teriak Serra yang pagi itu menyambut kehadiran kakaknya di meja makan.


"Loh kakak kok ngga pakai baju kerja. Libur ya?" Serra bertanya sambil menuangkan secangkir kopi untuk kakaknya.


"Ya." Ucap Enzo pelan. Tangannya masih terasa sakit.


"Astaga. Itu kenapa bisa di perban kak? Kakak berkelahi dan terluka apa gimana?" Ucap Serra khawatir dengan jari Enzo yang di perban.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Tadi malam kakak memang kena sial." Jawab Enzo mendesis kecil. Jarinya sedikit sakit digunakan.


"Kok bisa sih kak. Lihat sampai bengkak seperti ini." Serra sedih melihat di sekeliling jari Enzo yang tidak diperban menghitam.


"Kakak akan baik-baik saja, pasti akan cepat sembuh. Lebih baik kau sarapan dan segera berangkat kesekolah." Pinta Enzo pada adiknya.


"Siap kakak." Serra kemudian menikmati makan paginya dengan khidmat.


Serra meninggalkan Enzo di rumah sendirian, karna hari sudah semakin siang.


Serra kembali berjalan menuju sekolah. Kali ini yang ia hafal kan adalah kamus kecil yang sudah ia pindah dari kamus besar. Beberapa kata sehari-hari bahasa Inggris.


Sepanjang perjalanan Serra fokus dengan hafalannya.


Matanya bergantian melihat jalan didepannya juga melihat catatan kecil nya.


Namun setelah lama berjalan, Serra merasa merinding.


Serra melangkahkan kakinya dengan cepat. Bahkan ia lupa dengan semua hafalannya.


Dari kejauhan memang ada lelaki yang mengikutinya.


Serra semakin gemetar saat bayangan hitam sekelebat bergentayangan di belakangnya.


"Apa ada hantu di pagi hari begini? Tapi hantu apa yang sempat menampakkan diri diwaktu pagi?" Serra menggeleng kan kepalanya dan menepis dugaan konyolnya.


Serra kembali menatap kebelakang, namun ia tidak menemukan apa-apa.


Serra menjadi gugup.


°°°


"Paman, kau datang lagi?" tanya Leon kaget saat melihat Paman nya.

__ADS_1


"Ya. Kenapa kau terlihat tidak senang bertemu dengan paman?" kata Kenzo sedikit merajuk.


"Bukan begitu paman. Aku hanya heran paman belakangan ini datang sangat sering kemari. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu." Ucap Leon.


"Iya. Paman hanya merindukan mu. Kita tidak terlalu dekat selama ini karena paman lebih banyak menyibukkan diri dengan pekerjaan sehingga tidak bisa sering menemani mu." ucap Kenzo sedikit dengan penyesalan di nada bicaranya.


Padahal dalam hati ia menatap Leon penuh curiga. Entah mengapa Kenzo merasa Leon telah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Aku baik-baik saja, paman." Ucap Leon kemudian bersiap melajukan sepedanya.


"Aku pergi." Leon pamit tanpa melihat pamannya.


Kenzo menatap kepergian Leon sampai tidak terlihat lagi.


Drtt Drrt


Kenzo merogoh ponselnya saat merasakan ada panggilan masuk.


"Halo." Ucap Kenzo dengan datar.


"Tuan. Maafkan saya. Nona Leona melarikan diri." Seseorang melaporkan dari seberang sana.


Kenzo sangat marah mendengar itu. Olaf, tangan kanannya itu begitu mahir dan penuh kelicikan.


Bagaimana bisa Leona mengalahkan nya.


"Cari dia secepatnya, atau kau akan menerima hukuman dari ku!" Kenzo menggeram marah. Karna salah satu peliharaan nya telah melarikan diri.


Sedangkan Olaf bergidik ngeri setelah mendengar ancaman Kenzo. Olaf sudah bertahun-tahun bekerja bersama bosnya dan dia sangat tau bagaimana sifat bosnya.


Dan dari pada dihukum, Olaf lebih memilih mati langsung karna hukuman hanya akan menyiksanya secara perlahan sampai mati.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2