
Setelah menikah, Leon mengajak Serra kesebuah pantai.
"Ayo.. Kita lihat lautan yang indah." Ucap Leon bersemangat.
"Kau ini..." Serra benar-benar terpesona dengan semua hal yang ada dalam diri Leon.
Setelah mengenal Leon lama di sekolah, Leona semakin lama semakin tambah sayang. Ngga ada bosan sama sekali.
"Leon.." Panggil Serra.
"Ya?"
"Gendong." Pinta Serra sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oke.. Oke..." Leon terkekeh dengan kemanjaan istrinya.
Leon kemudian memposisikan diri dan menggendong Leona di belakangnya.
"Kau sering pergi ke pantai?" Tanya Serra yang sudah ada di gendongan Leon.
"Ya. Sesekali. Aku biasanya kemari saat sedang stres." Ucap Leon jujur.
"Kau bisa stres juga, ya." Serra terkekeh sendiri mendengar pemikiran nya.
"Tentu saja bisa, Serra." Ucap Leon gemas. "Kan aku juga manusia, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Serra."
"Iya, iya. Aku percaya." Serra berkata sambil tergelak.
"Kau, berani sekali kau menertawakan ku, hm.." Leon berkata sambil menggelitik kaki Serra yang ada di depan.
"Aha... Maaf Leon.. Leon, Maafkan aku.. Haha.." Serra tidak bisa menahan rasa geli yang menjalar di kakinya.
"Tidak bisa di biarkan, hm.. Kamu akan semakin menjadi kalau tidak di beri peringatan." Leon semakin menggelitik.
"Ampun.. Ampun Tuan Muda yang tampan. Tidak akan di ulangi lagi.. Maaf Tuan ganteng yang cuma milik Serra..." Ucap Serra.
__ADS_1
"Kau fikir aku akan terpesona dengan gombalan mu yang menyebalkan!" Leon mencoba ngambek.
"Ah.. Tidak, ombak Leon, di sana!" Serra berteriak senang.
"Harus kah kita menerjangnya?"
"Ya, kau harus membuat ku bahagia.. Dengan basah basahan di sini." bisik Serra ke telinga Leon.
Leon merinding mendengar itu, "Kau menggoda ku, jangan salah kan aku kalau malam ini kau harus bergadang sampai pagi."
"Aku tunggu loh nanti malam. Dasar singa jantan." Gerutu Serra.
Leona tergelak mendengar itu.
"Iya, singa betina. Nanti malam dandan yang cantik ya, singa betina ku." Serra langsung memukul Leon saat mendengar suara Leon yang berkata dia adalah singa betina.
"Aku bukan singa betina!"
"Benarkah? Lalu, harus kah aku mencari singa betina yang lain?" Goda Leon lagi.
Seperti itulah. Leona sudah lulus kuliah farmasi, dan sekarang sedang mengejar S2 apoteker.
Sedangkan Leon, seperti impiannya saat kecil, Leon adalah seorang pemain saham yang handal. Perusahaan di kerjakan oleh Troy.
Leon hanya akan pergi ke Perusahaan saat penting saja. Kebanyakan waktu Leon habis kan untuk menemani Serra menyelesaikan pendidikan nya.
Bisa di bilang, kepintaran Leon nular ke otak udang Serra.
"Leon.."
"Hm.."
"Apakah nanti saat kita menua bersama, kita bisa seperti ini lagi?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Mendengar itu, hati Serra menjadi lega.
"Kenapa, ada yang kau fikir kan?" Tanya Leon.
"Ya. Entah mengapa aku selalu ketakutan sesuatu yang tidak pasti. Dari dulu aku selalu minder. Selalu merasa kalah saing sama Leona. Andai saja Leona bukan saudara perempuan mu, aku pasti sudah sangat cemburu melihat ia selalu berada di sekitar mu "
Mendengar itu, Leon jadi ingat kalau Serra langsung menjauhi nya saat Leon dekat dengan Leona.
"Jangan bilang kau... Suka menghindar dulu karna aku dekat sama Leona?" Leon bertanya. Serra mengangguk.
"Astaga!" Leon menepuk kepala nya.
"Aku.. Aku hanya merasa tidak pantas." Serra membela diri.
"Ck, kau ini." Leon ingin sekali menggigit bibir istrinya ini yang begitu lucu.
Entah mengapa, sebuah ide jahil melintas di kepala Leon.
"Serra.. Kau tau, di pantai ini ada hantu pencemburu."
"Apa?"
"Ya, hantu pencemburu itu tidak suka ada bermesraan di tempat ini."
"Apa? Kenapa kau malah mengajakku kemari." Ujar Serra histeris sambil memukuli Leon. Tapi Leon berhasil menghindar dan malah memeluk Serra dari belakang.
"Kamu percaya?" Leo berbisik pelan di telinga Serra.
"Kau berbohong?" Kini serra malah merasa di permainkan.
"Jangan marah, ya."
Leon langsung mencium Leona.
-The end-
__ADS_1