
Setelah mendonorkan darah nya untuk Leon, Leona merenung di depan kamar rawat Leon.
Ya, setelah keadaannya membaik, Leon di pindah kan ke kamar rawat inap VIP yang ada di rumah sakit itu.
Leona duduk di depan kamar Leon sambil menatap kedua tangannya.
"Mengapa aku merasa bahwa akan terjadi sesuatu yang besar. Tapi apa?" Gumam Leona.
Masih teringat ucapan suster yang mengambil darahnya tadi.
"Beruntung kamu memiliki nya, golongan darah rh null sangat langka dan tidak semua orang memilikinya. Di dunia ini mungkin hanya beberapa orang yang punya. Dan pasien sangat beruntung." Ucap Suster yang mengambil darah Leona untuk di donor kan.
"Leon, siapa kau? Mengapa kita memiliki golongan darah yang sama. Padahal golongan darah kita termasuk langka." gumam Leona.
Leona kemudian memasuki kamar dimana Leon dirawat.
Leona menatap wajah Leon yang terasa sangat lah tidak asing baginya.
Tanpa sadar Leona menyentuh wajah itu. Saat tangannya bersentuhan dengan wajah Leon, tanpa permisi air mata Leona turun.
"Perasaan apa ini?" batin Leona menjerit.
Leona melepaskan tangannya dari wajah Leon dan mulai terisak.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan ku? Mengapa aku sedih sekali? Leon, seakan sangat lah terhubung dengan ku." Pikir Leona di tengah isakanya.
Tadi Leona sempat menghubungi Serra di saat Leon sedang kritis.
Serra langsung bergegas ke rumah sakit, walau tengah malam.
Namun saat sudah sampai di rumah sakit, Serra kaget melihat Leona yang menyentuh wajah Leon.
Serra ingin sekali melarang nya tapi ia sadar, ia bukanlah siapa-siapa.
Serra kemudian pulang kembali kerumah saat tidak tega melihat tangis Leona yang semakin menyayat hati.
"Sepertinya aku harus merelakan mu, cinta pertama ku." Ucap Serra sebelum menghilang dari koridor rumah sakit.
"Piyar...." Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menjatuhkan cangkir berisi kopi buatannya.
Rafa yang mendengar suara gaduh pun bergegas menyusul istrinya ke dapur, takut terjadi apa-apa.
"Sayang, apa yang terjadi?" Tanya Rafa pada wanita yang sangat di cintainya.
"Aku memecahkan gelas unik kesayangan mu. Maaf kan aku." Kata Zila sambil menangis.
Entah apa yang membuat nya menangis, Zila sendiri tidak tau, tapi yang pasti firasat nya sedang tidak enak.
__ADS_1
"Tak apa, itu hanya gelas. Hei, kenapa juga kau menangis?" tanya Rafa tergelak mendengar isakan Zila.
"Aku cuma ingin menangis." Zila membela diri. Ia tidak tau juga penyebabnya.
"Sayang, barang itu cuma barang biasa. Aku bisa membelinya lagi. Ayo senyum. U.. tu.. tu.. kemana istri ku yang tangguh dan tidak kenal takut? Kenapa yang ada di depan ku ini adalah orang yang cengeng?" Rafa bicanda sambil tertawa.
Zila memukul pelan dada Rafa saat sadar kalau suaminya ini hanya menggodanya.
Di tengah adegan romantis mereka, terdengar suara deheman.
"Ekm." suara itu mampu membubarkan adegan bahagia kedua orang tuanya.
"Ck, kau ini mengganggu saja, boy." Rafa kesal sekali. Leo, anak mereka menggnggu adegan romantis yang susah payah Rafa ciptakan.
"Dad, kau kalau ingin bermesraan tanpa ada yang ganggu, ke kamar sana!" Teriak anak kandung mereka.
"Leo!" Rafa memekik kesal.
"Sudahlah dad, aku mau belajar lagi. Jika tahun ini aku tidak menemukan saudara ku, aku akan kuliah di luar negeri." Ucap Leo.
Leo sudah sangat merindukan saudara nya yang hilang, Leon dan Leona.
"Kau hebat boy." Ucap Rafa menepuk pundak anaknya yang tinggal satu ini.
__ADS_1
.To be continued