
"Kau merokok?" Pekik Serra tidak percaya.
Selama ini Serra selalu menganggap kalau Leona adalah anak yang baik, walau penampilan nya agak berandalan.
"Kenapa?" Tanya Leona sambil mengepulkan asap rokok yang dihisap nya ke wajah Serra.
"Uhuk uhuk..." Serra langsung terbatuk karena memang ia tidak menyukai bau nikotin itu.
"Inilah yang aku dapatkan selama tinggal di Italia." Ucap Leona masih memainkan rokok ditangannya.
Leona mengepulkan asap rokok lagi keatas dan berucap. "Melepaskan diri dari merokok sangatlah susah. Apalagi rokok sudah menjadi teman setia ku, disaat paling terpuruk ku."
Serra menatap iba pada gadis cantik disampingnya itu.
"Kau cantik, pintar, dan kau sebenarnya memiliki hati yang baik. Tapi sepertinya cobaan hidup mu lebih berat dari pada aku." ucap Serra tulus.
Entah mengapa berbicara membagi masalah dengan orang lain terasa membuat hatinya plong.
"Ya. Kau benar. Aku memang pintar, tapi kepintaran ku tidak berdaya saat bersaing dengan orang licik. Dan aku harus lebih licik dari mereka agar bisa menang melawan mereka." Ucap Leona.
__ADS_1
Hati kecil Leona berkata kalau tidak akan ada masalah dikemudian hari karna ia sudah mempercayai sifat setia Serra.
Dari tatapan matanya, Leona bisa tau kalau Serra adalah gadis bodoh bin polos yang bisa dipercaya.
Serra menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sebenarnya Serra agak kurang faham dengan apa yang dikatakan Leona.
"Oh.." Jawab Serra kemudian karena sejujurnya ia tidak tau mau berkata apa.
"Oh ya, Serra. Kau menjadi pendukung Leon atau musuh Leon?" Tanya Leona hati-hati, Leona sudah berlatih untuk waspada agar tidak salah langkah.
"Aku memang sering membuat Leon marah juga malu. Tapi setiap kata pedas yang keluar dari bibir Leon tidak pernah membuat ku sakit hati. Bahkan aku malah bersyukur karna kata pedas Leon sudah menyadarkan ku banyak hal. Termasuk kalau aku ini kurang berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku hanya menikmati hidup ku, tanpa berfikir nanti akan datang banyak cobaan yang akan aku hadapi. Termasuk soal yang rumit yang harus aku tahluk kan." Ucap Serra jujur. Memang itu yang dirasakannya.
"Aku bisa memperbaiki diriku menjadi lebih baik lagi. Susah loh menyadarkan orang yang sedang tersesat. Aku adalah salah satu orang yang beruntung karena walau waktu nya mepet, tapi aku bersyukur sudah di ingat kan untuk belajar." Ucap Serra lagi.
"Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajak mu kerja sama untuk melawan Leon." Ucap Leona sambil menikmati rokoknya lagi.
"Aku tidak akan bisa melawannya. Tapi aku ingin menahlukkan cintanya. Aku ingin membuatnya terpesona dengan perjuangan ku. Aku...."
Serra panik dan langsung menutup mulutnya ketika baru sadar kalau ia sedang mengumbar perasaannya.
__ADS_1
"Tidak perlu malu. Leon memang tampan dan penuh daya pikat yang kuat. Aku bahkan sempat kagum saat pertama kali melihatnya." Jujur Leona.
"Kau.. Kau menyukainya?" Tanya Serra cemas.
Kalau Leona suka sama Leon, maka untuk mendapatkan Leon harus ekstra karna persaingan nya sangat ketat.
Apalagi Leona gadis yang pintar dan cantik. Tak lupa body tubuhnya yang bahenol bak gitar spanyol.
"Aku awalnya memang terpikat, tapi entah mengapa hati kecil ku berkata tidak. Leon bukan lah tipe ku. Leon terlalu dingin dan kaku. Tampangnya juga kayak pria baik. Sedangkan aku menyukai pria yang tangguh dan bisa berkelahi." Ucap Leona jujur.
"Wow.. Kau suka sekali genre Action." Seru Serra.
"Hm..."
"Hari sepertinya mulai malam. Ayo pulang."
"Aku antar kan." Leona menawarkan dan Serra menyetujuinya.
To be continued
__ADS_1