
"Nona, lepaskan saya. Saya akan menjadi orang pertama yang membela Nona. Saya..." Belum selesai si gendut berbicara, Leona sudah menjambak rambut kriwilnya gendut.
"Aduhh.. Aduhai Nona... Sakit sekali.. Nona, lepas nona... Aduh.. Lepas.. Aduh.." Gendut merintih kesakitan.
"Kamu fikir aku akan melepaskan mu, huh?" Teriak Leona kesal.
"Aduh lepas Nona. Rambut Situ baru saja di benerin di salon Nona. Ampun." Situ mencoba untuk melepaskan tangan mungil namun memiliki tenaga super besar itu untuk segera dilepaskan dari rambut kriwilnya.
"Ih, gendut, kenapa tangan ku jadi bau! Katanya dari salon, kenapa tangan ku sampai bau sekali. Ih.. jijik aku.." Leona memekik kesal. Bau sekali tangannya setelah memegang rambut kribo kayak jaring ikan.
"Situ memang dari salon, tapi udah dua tahun yang lalu. Bulan ini lupa keramas jadi rambut Situ kusut." Jujur situ sambil memegangi kepalanya yang baru saja di lepas Leona. Rambutnya terasa sakit sekali.
"Ya ampun. Menjengkelkan saja kamu Ndut, dasar gendut." Bentak Leona kesal.
"Sudah lah Nona. Salah Nona sendiri. Nona yang memegang rambut gendut. Bahkan merugikan gendut sampai kesakitan kayak gini." Ucap Situ yang entah dapat keberanian dari mana dia membantah Leona.
"Apa? Kau menyalahkan ku?" Leona kini kesal dan lebih mendekati gendut untuk diberi pelajaran karena sudah berani dengan nya.
"Ad... Sakitttt...." Gendut meringis saat wajahnya dicengkeram kuat oleh Leona.
__ADS_1
Tidak cuma itu, Leona memelintir jari tangan gendut hingga berputar kebelakang.
Semua jari, yang paling parah adalah jari jempol dan kelingking.
Gendut hanya bisa menjerit kesakitan minta di ampuni. Leona seakan mematahkan jari gendut satu persatu.
"Rasakan ini! Rasakan! Preman kelas teri kayak kalian kalau tidak di buat jera pasti akan mengulangi kesalahan yang sama." Gerutu Leona masih memelintir jari Situ.
Saat jari kelingking yang terakhir, Leona menekan lebih kuat lagi dan.....
Kretek
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......"
Leona sangat puas dengan hasil karyanya. Jeritan mereka adalah alunan musik indah yang di dengar telinganya.
"Hey kalian! Ingat ini. Jangan ulangi perbuatan kalian yang meresahkan masyarakat atau...." Leona menaruh tangannya di leher dan digeser kan seperti tanda kalau tidak di patuhi maka 'MATI'.
Itu lah peringatan mengerikan dari seorang Leona. Ada alasan tersendiri mengapa ia bersikap begitu kejam. Apalagi dengan para penjahat yang merugikan orang biasa.
__ADS_1
Kedua penjahat yang sudah tidak berdaya itu mengangguk bersama dan bersumpah tidak akan lagi menemui Leona.
Karena sosok gadis cantik kecil yang imut ini ternyata sangat lah mengerikan.
Leona kemudian menendang gendut hingga terpental menghantam tembok dari rumah kosong.
Dan rumah itu runtuh seketika karena bangunan nya sudah rapuh.
Kemudian Leona mendelik kesal pada si cungkring yang sudah sangat ketakutan dengan Leona.
Sedangkan wanita paruh baya yang menunggu di kursi pun segera mendekati Leona.
"Kau keren sekali." Wanita paruh baya itu memuji.
"Anda baik-baik saja?" Tanya Leona khawatir pada wanita yang terlihat pucat itu.
"Ya. Berkat kamu anak manis. Ibu jadi selamat. Terima kasih ya, udah menyelamatkan wanita tua ini." Kata wanita paruh baya itu tulus.
"Kita harus saling tolong menolong, jadi jangan sungkan." ucap Leona sambil memasukkan tangannya kedalam jaket.
__ADS_1
"Oh ya nak, nama Ibu Olaf." ucap wanita paruh baya itu.
To be continued