
"Benarkah?"
"Ya, kau mau kan?' Tanya Leon memastikan.
"Tentu saja," Ucap Serra dengan pipi bersemu merah, Leon gemas sekali dan ingin mencubit nya.
Leon kemudian mengambil kan nasi untuk Serra dan menyuapinya.
Pipi Serra tambah merona mendapatkan perlakuan begitu manis dari orang yang tidak pernah Serra bayangkan.
"Leon." Serra memanggil dengan bergumam tidak jelas karena mulutnya di penuhi nasi.
"Telan dulu baru ngomong." Tutur Leon.
Serra kemudian mengunyah dengan cepat. Leon menyondorkan air putih dan Serra segera meneguknya.
"Leon." Ucap Serra setelah air masuk ke perut.
"Kenapa, hm?" Tanya Leon lembut.
"Kenapa kau hanya menyuapi ku saja? Kau tidak makan?" Tanya Serra.
"Kamu kenyang dulu aku baru makan." Ucap Leon kemudian mengambil nasi lagi dan... "Aaaa... Ayo, buka mulut mu, aaa'''
Serra dengan malu menerima suapan demi suapan dari pujaan hatinya.
🌷🌷🌷🌷
"Leon, kita mau kemana?" Tanya Serra heran saat Leon kembali menariknya.
__ADS_1
"Ada sebuah danau kecil tak jauh dari tempat ini. Ayo naik perahu." Ucap Leon.
Sebelum Serra bertanya lagi, Serra dimanjakan dengan pemandangan indah lampu putih yang di hias seperti bintang bertebaran di langit.
Juga ada lampu hias berbentuk hati tak jauh dari sana. Di tengah nya ada tulisan "Would you marry me?"
Serra sangat terharu melihat semua kejutan yang Leon berikan.
"Leon, ini..." Serra tak mampu lagi berkata.
"Seperti yang kau lihat." Ucap Leon kemudian memegang kedua tangan Serra dan berjongkok di depan perempuan yang sudah mengganggu hidupnya, dan Leon ingin di ganggu terus menerus.
"Serra, selama ini aku pergi bukan karena ingin menjauh mu. Selama ini aku pergi ke Jepang dan melanjutkan pendidikan ku disana. Aku sengaja mempercepat kuliah ku karna ingin segera kembali kemari bersama mu. Aku masih melanjutkan pendidikan S2 disini. Tapi tenang saja, setelah menikah dengan ku, kau tidak akan kekurangan apapun. Aku akan menjamin hidup mu bahagia." Ucap Leon tulus.
Serra berkaca-kaca mendengarnya.
"Leon."
Cincin itu hanya satu, dan tidak ada yang menyerupai karena Leona sendiri yang mendesign nya, atas perintah Leon tentunya.
"Jadi, maukah kau menikah dengan ku?" Tanya Leon.
Serra sudah tidak bisa berkata lagi dan menganggukkan kepalanya.
"Mau." Ucap Serra dengan suara seraknya.
Leon kemudian menyematkan cincin itu di jari Serra dan mencium punggung tangan Serra.
Dimalam yang indah itu, menjadi saksi kisah asmara kedua insan yang tengah dimabuk cinta.
__ADS_1
Leon kemudian mengajak Serra menaiki perahu yang sudah di hias cantik.
"Kau menyiapkan ini semua sendiri?" Tanya Serra ingin tau.
"Bukan, para orang-orang ku yang menyiapkan semuanya." Kata Leon jujur.
"Kenapa? Aku tidak punya waktu untuk menyiapkan semua sendiri. Banyak hal yang terjadi belakangan ini. Dan sepertinya aku harus pergi ke Italia untuk sementara waktu." Ucap Leon lagi.
"Ngga kok, aku senang walau bukan kamu yang menyiapkan sendiri. Aku sangat memaklumi kesibukan orang jenius seperti kamu." Ucap Serra.
"Kau bilang akan pergi ke Italia?" Tanya Serra tidak terima, tapi tidak berani mencegah.
"Ya, ada hal yang harus aku urus disana." Ucap Leon kemudian menghentikan perahunya di tengah danau yang masih terang karna lampu yang begitu terang dari pinggir danau.
Leon kemudian mendekati Serra dan mengangkat tubuh Serra yang sedang duduk. Leon mendudukkan Serra ke pangkuannya.
Leon menyibak rambut yang menghalangi wajah Serra.
"Aku akan segera kembali." Ucap Leon. Tangannya memegang pipi Serra yang mulai mendingin.
"Tapi, aku tidak bisa kalau tidak melihat mu. Aku pasti akan merindukan mu. Sehari tanpa ku adalah malapetaka bagi ku, Leon." Ucap Serra sedih.
"Akan aku pastikan urusan ku disana selesai. Dan aku akan kembali menemani mu untuk menyelesaikan skripsi mu dan kita menikah setelah kau wisuda." Ucap Leon menenangkan hati Serra.
"Apa kau akan baik-baik saja kalau menunggu hampir satu tahun?" Tanya Serra khawatir.
"Kamu milikku, Serra. Dan aku milik mu. Apapun akan aku lakukan untuk mu." Ucap Leon yang langsung menggesekkan hidungnya kepipi Serra dan menempel kan bibirnya ke bibir Serra yang sudah membuat Leon kecanduan.
Malam itu, di tengah malam yang penuh bintang dan bulan. Suara alami alam yang menjadi melodi indah menggantikan suara piano.
__ADS_1
Kedua insan yang tengah saling mengungkapkan rasa, berbagi kehangatan untuk mengusir hawa dingin yang mulai menusuk kulit mereka.
To be continued