
"Tuan, gawat. Seseorang sedang berusaha meretas sistem keamanan kita." Ucap seorang pria dengan tato naga di lehernya.
"Beraninya, siapapun itu jangan ampuni. Selesaikan cepat dan temukan keberadaan nya, siapapun yang berani melawan ku akan mendapatkan balasan yang mengerikan." Ucap pria yang di panggil Tuan.
"Baik tuan, saya akan menyelesaikan semua dengan cepat." Ucap anak buah.
Marcellino Lorenzo yang sedang bersenang-senang di sebuah Club pun segera mengakhiri kegiatan asiknya karena ada yang lebih mendesak dari pada bermain.
π·π·
Sedangkan di tempat lain, beberapa mobil sedang melaju ramai bak orang yang mau demo, memenuhi jalan.
Salah satu mobil berisi Leon, Leo dan Lucas sebagai supir.
Mobil lainnya berisi Leona, Rafa dan Roy sebagai supir.
Rencana awal Lucas dan Roy akan menculik Kenan dan Lula dari penjara, tapi siapa sangka mereka malah dibawa pergi oleh Marcel dengan jaminan.
Jadi Lucas dan Roy ikut berburu malam ini.
Leon kala itu memangku dua laptop. Laptop yang satunya memantau CCTV keberadaan markas Marcel.
"Dad, sepertinya Marcel tidak ada di kamarnya." Kata Leon melalui telvon.
"Coba kau cari di tempat yang sering ia kunjungi boy, acak acak saja markasnya biar dia pulang." Saran Rafa.
Leon pun melakukan semua perintah ayahnya.
Dan sesuai dugaan ayahnya, Marcel kembali kemarkas.
π·π·
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan siapa yang sedang mencoba melawan ku?" Tanya Marcel pada anak buahnya yang seorang Ahli IT disana.
"Buruk Tuan, sepertinya mereka bukan lah orang biasa." Jawab Ahli IT itu dari seberang telepon.
Marcel segera memerintahkan supir nya untuk lebih cepat lagi, Marcel mau memeriksa keadaan markas.
Marcel kemudian menaiki helikopter saat sudah tidak ada jalan lagi untuk mobil lewat.
π·π·
Leon sangat puas saat selesai mengacak keadaan markas lawan. Leon yakin pasti mereka semua kalang kabut.
"Dad, setelah ini kita harus menggunakan helikopter karna letak markas berada di tengah pulau terpencil." Kata Leon melalui telepon karna mereka beda mobil.
"Kakak tenang saja, para mutan yang aku ciptakan sudah hampir dekat dengan markas mereka. Setelah sampai, para mutan ku yang akan melakukan tugas awal mereka untuk memata-matai dan helikopter akan kembali untuk menjemput kita." Bukan Rafa yang menjawab, melainkan Leona karena Rafa menggunakan mode louspeaker hingga Leona mendengar nya.
"Bagus Leona, sebentar lagi kita akan sampai, bersiaplah." Kata Leon kemudian mengakhiri panggilannya.
"Bagus sekali." Ucap Leon setelah melihat kearah laptopnya.
"Kenapa kak? Apa yang terjadi?" Tanya Leo yang berada di sebelah Leon.
"Marcel sudah kembali," Kata Leon puas. Leo juga senang mendengar itu.
"Oh ya kak, kenapa Kenzo begitu lemah dan mudah di kalahkan Lucas, anak buah daddy?" Tanya Leo agak heran. Leo merasa musuh mereka kurang hebat dalam bertarung.
"Kenzo hanya suka bersembunyi. Selama ini anak buahnya yang melindungi nya. Dan aku yang menjadikannya kaya. Brengs*k sekali dia! Berani memanfaatkan aku." Leon geram mengingat semua kesedihan keluarga nya berawal dari orang-orang yang hanya haus kekayaan juga orang yang dengki dengan apa yang di miliki keluarga nya.
"Kak, setelah ini kau akan menikahi kakak ipar?" Tanya Leo.
"Tentu saja. Kalau aku tidak segera menikahi nya, takutnya dia akan merasa kalau aku tidak serius, mengingat ia orang yang suka menduga-duga juga cemburuan." Ucap Leon sambil tergelak.
Serra pasti akan melakukan apa saja agar tau semua kegiatan Leon, agar ia tau dengan siapa saja Leon bertemu.
"Kakak benar, bahkan dia belum bisa membedakan aku sama kakak. Bisa bahaya kak. Nanti kalau aku pura pura jadi kakak, dia tidak akan curiga!"
"Kalau kau berani melakukannya maka lakukan saja." Ucap Leon dengan nada mengancam.
"Tentu saja tidak, kakak." Ucap Leo dengan tergelak.
π·π·
"Bagaimana perkembangan nya?" Tanya Marcel yang sudah sampai markas.
"Tuan, sebuah helikopter sedang menuju kemari." Ucap Salah satu anak buahnya.
"Ck, bagaimana bisa?" Ucap Marcel kesal.
"Semua bersiap. Bawa juga granat dan tembak otomatis. Kita harus membuat jebakan Sebelum mereka sampai." Marcel memerintah dengan kesal. Siapa yang berani melawannya?
Selama berbisnis di Italia, pria itu adalah orang yang paling ditakuti. Baru kali ini ada yang berani mengusik dan bahkan mendatangi nya.
π·π·
"Bos, kami sudah mendarat di paling ujung dekat laut agar tidak dicurigai. Para mutan segera mendekat dan mengintai, saya akan kembali menjemput rombongan anda." Ucap Troy melalui telvon.
Troy, anak buah Leon juga ikut kesana dan dia mengawal para mutan untuk sampai di tempatnya bertugas.
__ADS_1
"Bagus! Cepat kemari." Leon memerintah dan mematikan telvon.
π·π·
Marcel mengambil pistol kesayangannya dan sebuah pedang. Saat ini ia sedang berada di lapangan khusus untuk menembak. Ruangan itu memang dia buat untuk menciptakan anak buah yang dipilih khusus biar menjadi penembak jitu.
Marcel mengambil rokok dan menyalakannya.
Pada saat itu juga, Lula masuk dan membawa secangkir madu atas perintah tuannya.
"Tuan, keadaan sedang genting, tapi anda malah bersantai di sini." Kata Lula sambil meletakkan cangkir di atas meja dengan hati hati.
"Mereka tidak akan bisa melewati ladang ranjau yang sudah aku buat di sekitar daerah ini. Kalau pun mereka bisa masuk, aku yang akan melawan mereka. Karna aku sudah menunggu kedatangan mereka." Ucap Marcel dengan mengelap pedang yang sudah ia siapkan.
DUARRRR
Sesaat setelah berucap, terdengar suara ranjau meledak dan Marcel sangat senang mendengar itu.
Hanya sebuah helikopter saja, bukan? Pasti orang yang sedang melawannya tidak banyak, dan mereka akan meledak saat melewati ladang ranjau.
π·π·
Lima mutan yang di bawa rusak satu karna tanpa sengaja menginjak ranjau dan hancur.
Mutan yang tinggal itu pun melaporkan apa yang terjadi pada tuannya, Leona.
"Dad, kita langsung mendarat di depan markasnya saja, karna disana banyak ranjau. Kurasa mereka sudah tau kalau kita mendatangi nya." Ucap Leona.
Saat ini mereka semua sudah berada dalam helikopter.
"Kita langsung menyerang saja. Aku yang akan mengalihkan perhatian mereka duluan. Leona, kau bawa bom yang banyak dan lempar kan pada mereka yang mau menyerang ku. Kita kalah jumlah, jadi kita harus menyusun rencana dengan matang." Kata Leo.
Benar mereka kalah jumlah, karena mereka tidak membawa anak buah. Anak buah mereka masih dalam perjalanan membawa kapal. Hanya mutan Leona saja yang sudah sampai disana.
"Tau begini, daddy bawa pesawat pribadi juga." Kata Rafa kesal.
"Sudahlah, kita memang kalah jumlah. Tapi dengan rencana yang matang kita pasti bisa menang. Tidak ada kamus kalah dalam perjalanan hidup kita. Ikuti rencana ku. Aku akan turun duluan dan mengalihkan perhatian mereka. Leona yang akan melindungi ku dari belakang. Daddy dan kak Leon yang akan mencari celah untuk menerobos masuk." Ucap Leo penuh percaya diri.
"Kau akan baik-baik saja, kan boy?" Tanya Rafa khawatir, mereka tidak tau seberapa kuat seorang Marcel.
"Percaya kan semua pada ku dad, daddy hanya perlu menangkap Marcel, dan kak Leon yang akan membawa pulang Kenan juga Lula yang sudah membuat hidup calon kakak ipar menderita." Ucap Leo.
"Kau benar. Dad, kita menyergap bersama. Aku akan membawa beberapa bom daya ledak rendah untuk menghalangi jalan musuh." Ucap Leon menggebu setelah mendengar nama Serra.
Leon marah karena kekasihnya kini otaknya menjadi geser akibat efek samping serum itu. Untung saja Enzo baik baik saja.
"Leo, kau harus hati-hati karna orang yang sedang kita lawan adalah orang yang paling di takuti di seluruh Italia." Leon memperingatkan sebelum helikopter mendarat.
Anak buah Marcel yang melihat helikopter langsung waspada.
Mereka mengarahkan senjata ke helikopter itu.
Saat Leo keluar, tembak otomatis langsung ditembak kan.
Leo kaget saat mendapati peluru bertubi-tubi menuju kearahnya, akhirnya Leo melompat jauh dan bersembunyi dibalik tong besar agar terhindar dari peluru.
Tong itu langsung bocor dan air merembes keluar akibat peluru yang tembus.
Leona langsung melempar bom berdaya ledak tinggi dan menghancurkan tembak otomatis itu.
Gerbang langsung roboh dan beberapa anak buah Marcel hangus terbakar akibat ledakan itu, sedangkan Leo sedikit terpental.
Keadaan itu dimanfaatkan Rafa, Leon dan Troy juga Lucas untuk keluar dari helikopter dan menyergap masuk.
Anak buah yang selamat langsung menembaki Leo dan Leona yang baru dilihat mereka.
Saat Leo dan Leona bertempur di depan, Leon memutuskan untuk berpencar dengan daddynya.
"Dad, kau dari arah kanan, bersama Lucas. Aku yang akan menyerang dari sisi kiri bersama Troy." Ucap Leon sambil memberikan beberapa bom untuk dibawa Lucas agar membantu mereka.
"Jaga diri baik-baik boy." Ucap Rafa menyetujui karna keadaan tidak memungkin kan kalau mereka terus bersama.
"Tentu saja, dad."
"Dan kau Troy, Kepala mu taruhannya kalau sampai Leon kenapa-napa." Rafa mengancam agar anak buah Leon yang belum Rafa ketahui kemampuannya itu tidak lengah dan membahayakan Leon.
"Nyawa ku hanya untuk bos. Tujuan hidup ku hanya untuk bos, jadi aku tidak akan membiarkannya terluka." Kata Troy meyakinkan karna memang itu prinsip Troy setelah diselamatkan oleh Leon.
"Bagus!"
Tanpa membuang waktu lagi, mereka menyerang dari tiga sisi.
Leo yang memimpin dari jalan depan membuat kegaduhan untuk menghancurkan markas itu dengan bom.
Leo juga dengan mudah menembak para anak buah Marcel dengan sekali tembak.
"Kak, awas." Leona mendorong Leo kesamping saat seorang penembak jitu mengarahkan peluru kearah Leo.
Prang...
__ADS_1
Peluru itu mengenai kaca samping dan langsung pecah.
Marcel yang berada di dalam menjadi khawatir dengan bunyi ledakan yang sering terdengar.
Marcel mengintip dari balik teropong dimana tempat nya bersembunyi.
"Siapa mereka?" Marcel bergumam bingung melihat wajah asing.
Para mutan tidak diketahui keberadaannya, bahkan Leona juga tidak tau kemana para mutan itu berada.
"Apa para mutan itu tidak selamat dari ranjau?" Pikir Leona.
Sedangkan di dalam, Leon juga Rafa agak bingung karna beberapa anak buah Marcel banyak yang tergeletak tidak berdaya.
Saat Marcel asik mengintai, pria bertato naga masuk dan melaporkan apa yang ia dapatkan.
"Tuan, beberapa anak buah kita terkena racun dan mati di tempat." Kata pria itu.
"Apa?" Marcel geram mendengar itu.
"Tidak akan aku ampuni mereka. Aku akan melawan mereka. Tidak ada gunanya aku menunggu di sini." Marcel lalu keluar bersama pria bertato.
Marcel menyeret pedang nya. Suara pedang itu membuat suasana terdengar mencekam.
"Akan aku penggal kepala mereka. Kau sudah tau yang mana ketuanya?" Tanya Marcel.
"Belum Tuan." Jawab pria bertato itu.
"Payah sekali."
"Maaf Tuan." pria bertato itu merasa bersalah karna gagal menyenangkan Tuannya.
Salah seorang Ahli IT mendekat kearah mereka.
"Mereka dari Indonesia, AS Corporation dan King Group." Ucap Ahli IT itu dengan bahasa Italia.
"Ada masalah apa mereka dengan ku? Perasaan aku tidak pernah menyinggung mereka." Kata Marcel bingung.
π·π·
Leon masih berusaha mencari dimana pemimpin nya berada. Tidak banyak yang menghalangi jalan Leon karna beberapa anak buah tergeletak, terkena racun yang sudah di suntikkan dari para mutan Leona.
"Adik perempuan ku benar-benar keren, bisa menciptakan mutan yang persis seperti manusia sungguhan." Ucap Leon berdecak kagum.
π·π·
Marcel mengumpulkan para anak buahnya yang tersisa dan mendekati dimana kejadian keributan itu masih berlangsung.
"Disini kau rupanya." Ucap Rafa yang ternyata bertemu dengan Marcel.
"Ck, Siapa kau? Aku tidak pernah berurusan dengan mu, berani nya kau mendatangi markas ku! Mau cari mati!" Teriak Marcel murka menggunakannya bahasa Inggris.
"Kami akan menghentikan pertempuran ini tapi dengan syarat, serahkan Kenan juga Lula ketangan kami!" Kata Rafa dengan percaya diri.
"Ha ha ha ha...." Marcel terbahak memegangi perutnya ketika mendengar itu.
Menyerah? Tentu saja tidak! Ia adalah penguasa di negara ini, dan tidak akan mundur hanya dengan serangan mendadak dari beberapa orang itu.
Setelah tawanya reda, Marcel mengangkat pedang yang di bawanya ke bahu, mirip seperti seorang model pahlawan dalam komik.
"Kenapa kau menginginkan mereka?" Tanya Marcel.
"Bukan urusan mu, urusan kami hanya dengan mereka. Jadi cepat serahkan mereka padaku dan kami akan membebaskan mu." Kata Rafa dengan nada mengancam.
"Kau fikir aku takut." Kata Marcel. Walau bagaimana pun, Marcel tidak akan melepaskan Lula karna Marcel sangat menyukai permainan ranjang wanita itu.
"Kau ingin aku melawan mu?" Tanya Rafa seakan tidak suka dengan sikap keras kepala Marcel.
"Tentu saja. Mari kita berduel." Kata Marcel sambil mempersiapkan pedangnya.
"Oke." Rafa kemudian menerima pedang lainnya yang di bawa oleh salah satu anak buah Marcel.
'Meminjam pedang Marcel maksudnya.'
Kedua orang yang usianya hampir sama itu saling melakukan ancang-ancang, Rafa menyerang duluan dan mengayunkan pedangnya kearah kanan, berniat menebas tangan Marcel namun Marcel berhasil menangkisnya.
"Ting" Suara pedang itu saling bertemu.
Lagi lagi Rafa menyerang dan selalu berhasil ditangkis oleh Marcel.
"Ck, hanya segitu kemampuan mu." Ucap Marcel meremehkan.
"Itu hanya permulaan. Aku tidak terlalu bersemangat tadi." Seru Rafa.
"Bilang saja kalau kau tidak terlalu bisa memakai pedang." Marcel memprovokasi.
To be continued
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Maaf ya kemarin aku janji update tapi ngga jadi, adegan ini aku baca berulang-ulang memastikan agar tidak mengecewakan seperti 'Hot Mother and Ceo' yang aku tulis cepat agar tidak pada penasaran, eh malah mengecewakan.
Ini 4 bab aku jadiin satu, semoga tidak kepanjangan ya πππ