
"Leon." Serra kaget dengan umpatan Leon.
Kini gadis manis itu sadar kalau ia hampir saja tertabrak mobil, Untung saja Leon menyelamatkannya.
Leon menghembuskan nafasnya pelan, berusaha untuk tidak emosi. Mengingat sifat Serra sangat ceroboh dan bisa saja terluka karna kecerobohannya.
Leon kemudian mengedarkan pandangannya kesegala arah. Matanya dengan lihai mencari sesuatu yang dibutuhkan nya.
Matanya berbinar saat melihat seorang gadis memakai sepeda yang ada boncengannya dibelakang.
Leon melepaskan rangkulannya pada Serra setelah membawanya kepinggir jalan.
"Jangan kemana-mana! Disini saja!" Serra mengangguk patuh mendengar ucapan Leon.
Kemudian Leon mendekati seorang gadis yang membawa sepeda itu.
"Mbak, boleh tuker sepeda?" Tanya Leon sambil memperlihatkan sepeda miliknya.
Gadis itu kaget saat melihat sepeda Leon yang terlihat sangatlah mahal. Sedangkan sepeda gadis itu memang masih bagus, tapi harganya murah.
"Iya, iya boleh. Ini silahkan." Gadis itu dengan cepat setuju karna jika sepeda Leon dijual, gadis itu bisa beli sepeda baru lagi dan uang sisanya bisa dibuat main.
Tanpa berkata, Leon langsung membawa sepeda milik gadis itu dan mendekati Serra.
"Ayo." Ujar Leon saat sudah sampai didepan Serra.
"I... Iya." Ucap Serra setelah sadar dari lamunannya.
__ADS_1
Serra senyum sendiri mengingat ia sekarang sedang diboncengi Leon.
Saat Leon mengayuhkan sepedanya, Serra memeluk perut Leon dengan erat. Rasanya sangat lah nyaman. Serra seakan tidak ingin cepat sampai kesekolah.
"Ahhhh....." Pekik Leon kesakitan.
Serra sangat kaget mendengar itu, ia jadi gelagapan.
"Leon, Leon apa yang terjadi? Ada apa?" Tanya Serra.
"Kau mau membunuh ku? Kau memelukku terlalu kencang!" Ucap Leon menahan geram.
Perutnya masih terasa lapar karna belum sarapan, malah emosi nya dibikin naik turun sama bocah tengil ini.
"Oh.. Sorry." Sesal Serra sambil melonggarkan pelukannya.
Leon kemudian melajukan sepedanya lagi, sedangkan Serra sudah kembali berhalu jika cintanya diterima oleh si pujaan hati.
@@@
Saat gelembungnya sudah besar, Leon masuk dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.
Setelah beberapa detik saling pandang, gelembung yang dibuat Leona meletus dan Leon pun masuk kedalam kelas yang sudah ada beberapa murid.
Seorang guru fisika yang killer bernama bu Husna memberi tugas, dua orang berkelompok dari absen urut.
Leon dan Leona saling pandang dari bangku masing-masing saat nama mereka berada dalam satu kelompok.
__ADS_1
@@@@
Serra kini sudah menjadi salah satu penghuni perpustakaan.
"How are you? Bagaimana kabar mu?" Serra menjeda sejenak, ia sedang mengingat apa lagi yang sedang ia hafal.
"How do you do? Bagaimana kabar mu?" Celoteh Serra menghafal Kalimat terakhir.
"Yeayyy, aku bisa! Aku bisa!" Pekik Serra senang.
"Aku yakin nanti malam aku bisa setor banyak. Aku mau menambah kata baru tanpa di perintah. Biar Leon bangga kalau muridnya ini peningkatannya pesat." Ucap Serra kegirangan dengan haluannya.
'Leon sangat bangga dengan kerja keras Serra dan mengelus rambut Serra pelan. Kemudian Leon memajukan bibirnya ke bibir Serra, Seperti sedang berniat untuk menciumnya. Serra juga memanyunkan bibirnya karna dalam halusinasinya Leon akan menciumnya. Serra merasa sangat bingung karna disaat adegan romantis, bukan musik merdu yang terdengar, tapi malah suara tertawa orang banyak.' Itu Semua adalah halusinasinya Serra saja.
Serra sangat malu, di perpustakaan ia berhalu sambil memanyunkan bibir.
Semua orang di perpustakaan melihatnya dan menertawakan nya.
Malu sekali!
Serra pun dengan segera meninggalkan perpus.
Saat berjalan keluar, Serra kaget melihat kotak bekalnya yang berada ditangan seorang gadis.
Dan lebih membuat nya kaget lagi, gadis itu memakan masakannya.
"Apa yang terjadi? Siapa sebenarnya Leona? Mengapa ia terlihat sangat dekat dengan Leon?"
__ADS_1
Berbagai dugaan dan fikiran negatif bergentayangan di benak Serra.
To be continued