
Enzo kali ini tengah berada di kamarnya, hari mulai beranjak siang dan perutnya terasa keroncongan.
Biasanya Enzo akan bekerja keras bahkan lupa terakhir kali beristirahat.
Namun kini karna cuma bersantai, tubuh Enzo menjadi pegel.
Sekarang Enzo tau, mengapa kalau tubuh sudah biasa dipakai beraktivitas, kalau tiba-tiba tidak dipakai maka akan terasa lemas.
Seperti sebuah mesin.
Ceklek...
Pintu utama terbuka, dan menampakkan muka masam adiknya yang terlihat sedang menahan tangis.
"Kau sudah pulang?" Tanya Enzo pada adik perempuannya.
Serra menatap kakaknya dengan sendu, seakan mengatakan bahwa ia sedang terluka.
"Kau kenapa? Kenapa wajahmu kusut sekali. Kayak gembel. Kamu kekurangan uang?" Tanya Enzo.
Serra menjawab dengan gelengan.
"Mau beli barang baru?" Serra menggeleng lagi.
__ADS_1
"Mau pindah sekolah?" Tanya Enzo.
"Kak... Kenapa kakak selalu ingin aku pindah sekolah?" Kini Serra menatap dengan kesal.
"Nah, ini baru adik kesayangan kakak." Ucap Enzo sambil mengacak gemas rambut adiknya yang sudah berantakan sehabis pulang sekolah.
"Sudahlah! Aku ngambek sama kakak!" Ucap Serra kemudian menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Serra melepaskan seluruh bajunya dan berendam sebentar.
Pikirannya masih melayang pada kejadian hari ini. Dimana Leon tengah membagi bekal yang sudah susah payah ia buat.
"Leon, akan aku tunjukkan pada mu kalau tanpa mu pun aku juga bisa. Aku bisa meraih mimpi ku tanpa bantuan mu! Jengkel aku!" ucap Serra dalam hati.
"Aku cemburu.. Aku cemburu pada dia yang tidak menganggap ku apa-apa. Sungguh! Rasanya sangat menyakitkan sekali. Berharap pada dia yang bahkan tidak menganggap ku ada." gumam Serra.
Serra menyudahi acara membersihkan diri dan segera menemui kakaknya.
"Kak, kakak sudah mendingan belum?" Tanya Serra khawatir dengan kondisi Enzo yang sudah seharian ini ia tinggalkan.
"Belum. Malah tambah remuk karna kakak tidak terbiasa berdiam diri dirumah." Jawab Enzo jujur, karna memang itu lah yang ia rasakan.
Serra pun memijat kecil tangan Enzo, berharap dapat mengurangi rasa sakit di tubuh kepala rumah tangga yang sudah berkerja banting tulang untuknya.
__ADS_1
Serra menghapus air matanya yang mengalir begitu saja. Walau Serra melakukannya diam-diam, tetap saja Enzo melihatnya.
"Apa terjadi sesuatu? Mengapa kau menangis?" Tanya Enzo pelan.
Enzo ingin, adiknya ini berkeluh kesah padanya. Enzo ingin adiknya menjadikan dia sandaran agar dapat mengurangi rasa sedihnya.
"Cerita sama kakak, kakak akan mencari solusinya agar kamu kembali ceria seperti adik kakak, Serra yang menggemaskan." Tutur Enzo.
Mendengar itu Serra tambah menangis lebih kencang lagi. Kakaknya ini bisa menyebalkan juga bisa bersikap hangat.
"Kak, Serra minta maaf sama kakak. Serra banyak salah sama kakak. Maafkan Serra." Serra berkata terbata sambil sesekali sesegukan.
"Hey, mengapa kau minta maaf?" Kini Enzo tidak mengerti.
"Kak, aku mempunyai kakak yang istimewa, baik hati, dan selalu berjuang untuk masa depan ku yang indah. Tapi aku lupa berbakti pada kakak. Selama ini aku malah fokus pada orang yang aku cintai. Aku hanya memikirkan orang yang bahkan tidak menginginkan ku. Aku sedih telah lalai. Maafkan aku, kak." Serra berkata, mengeluarkan seluruh unek-uneknya.
Enzo menghembuskan nafasnya pelan, ia tau, Serra memang rese, tapi penuh perhatian dan baik.
"Selama yang kamu lakukan tidak melanggar peraturan, maka kakak tidak akan menegur mu. Kakak mendukung apa saja yang kamu inginkan asalkan baik untuk kamu." Tutur Enzo sambil mengelus kepala Serra penuh kasih sayang.
Serra bersyukur, disaat patah hati ada bahu yang siap dijadikan tempat untuk sandaran.
"Aku menyayangi mu, kak." batin Serra dalam hati.
__ADS_1
To be continued