
"Prok prok prok..." Seseorang memasuki ruangan tempat dimana para tahanan di sekap sambil bertepuk tangan. Orang itu adalah Leona.
"Oho, bagus sekali! Kalian memilih bertengkar disaat keadaan sedang genting seperti ini." Kata Rafa menyusul dari belakang.
"Mereka tidak terlalu sayang nyawa, dad." Seru Leona sambil mengunyah permen karet nya.
"Kau mau memberikan sebuah hadiah untuk mereka, sayang?" Tanya Rafa dengan ekspresi tengilnya.
"Tentu saja, dad." Kata Leona sambil menepuk tangannya dua kali.
Prok Prok
Tepat setelah itu, Haruka datang dengan membawa sebuah kotak hitam. Semua tahanan menerka-nerka, apa isi dari kotak misterius itu.
Olaf bergetar saat melihat 4 suntik dari dalam kotak itu. Olaf tidak tau cairan apa itu, tapi yang pasti itu bukanlah hal yang baik.
"Leona, tolong aku... Aku hanya diperintah Leona, aku tidak bersalah." Kata Olaf berderai air mata.
"Aku sering memohon pada mu. Tapi kau tidak pernah memperdulikan ratapan ku, kau fikir aku akan mengampuni mu setelah semua yang kau lakukan pada ku?" Kata Leona dengan galak.
"Tapi Leona..." Olaf tidak mau menyerah.
"Diam! Atau akan aku tambah dosis yang lebih tinggi untuk mu, menyebalkan sekali! Jangan membuat ku lebih marah, atau aku akan lebih murka lagi dari pada ini." Gertak Leona sambil meludahi Olaf dengan permen karetnya.
"Haruka! Kau saja yang menyuntiknya, tangan ku jijik. Najis kalau nanti terkontaminasi dengan bakteri yang ada di dalam tubuh nya." Kata Leona tanpa belas kasih.
"Baik Nona," Haruka dengan patuh mengambil salah satu suntikan dan menyuntikkannya dalam tubuh Olaf.
Awalnya tidak terasa, namun setelah beberapa saat, Olaf merasa tubuhnya terasa sangat panas dan tumbuh bintul hitam juga ruam yang sangat banyak dalam tubuhnya. Olaf juga merasa sangat gatal, tanpa sadar ia menggaruk tubuhnya hingga berdarah.
Kenzo, Lula, dan Juga Marcel sangat ngeri melihat pemandangan itu.
"Haruka, beri serum yang bisa membuat dia hidup lebih lama lagi." Kata Leona sambil mengambil permen karet lagi.
"Baik Nona." Haruka menuruti semua yang diperintahkan oleh Leona.
"Tidak." Olaf hanya bisa berbisik pelan karna ia sudah tidak berdaya dengan rasa sakit akibat serum pertama yang di suntikkan.
Olaf semakin kesakitan saat serum kedua disuntikkan. Rasanya mau mati saja.
__ADS_1
"Gimana? Kalian mau?" Leona menatap nyalang pada para penjahat disana.
Reflek tiga orang lainnya menggeleng, siapa juga yang mau merasakan siksaan yang sangat mengerikan itu.
Selain darah, sekarang juga keluar nanah juga belatung dalam tubuh Olaf. Bahkan Lula tidak tega melihat keadaan Olaf yang mengenaskan.
"Bagaimana sayang, kau sudah puas?" Tanya Rafa pada anak bungsunya.
"Belum dad, tapi hari ini cukup segini saja karna ia akan merasakan sakit selama seharian penuh. Besok aku akan datang lagi." kata Leona sambil berdiri dari duduknya.
"Oh ya dad, itu serumnya masih banyak kalau daddy mau pakai buat mereka." Kata Leona sebelum pergi meninggalkan ayahnya sendiri.
"Aaa.,..." Teriakan Olaf masih menggema dalam ruangan itu.
"Cairan apa itu?" Pikir Kenzo hampir muntah saat melihat banyak belatung menggerogoti Olaf.
"Marcel, kau ingin selamat dari serum ini?" Tanya Rafa dengan santai.
Otomatis Marcel menganggukkan kepalanya. Siapa juga yang mau merasakan sakit yang mengenaskan seperti itu.
"Bunuh aku langsung saja. Setelah itu aku rela kau apakan saja, tubuh ku." Kata Marcel putus asa.
"No, itu terlalu mudah. Tapi aku akan mengabulkannya mengingat kau tidak terlalu terlibat dengan masalah kami." Kata Rafa sambil menggosok dagunya.
Marcel berfikir sejenak, "Apakah setelah itu kau akan melepaskan ku?"
"Tidak, aku hanya akan menghindarkan kamu dari hukuman yang mengerikan." Kata Rafa.
"Kau akan langsung membunuh ku tanpa menyiksa ku?"
"Ya."
Marcel berfikir lebih keras lagi. "Apakah kau tidak ingin melepaskan ku, aku berjanji, setelah ini aku tidak akan mengganggu mu lagi. Aku akan menghindari mu, aku tidak akan melawan mu. Tolong lepaskan aku."
Rafa tidak mau lagi mendengar apapun. Baginya, sekali lolos, musuh akan melakukan hal yang sama. Apalagi Marcel mencintai Lula, Rafa takut Marcel akan datang kembali dan balas dendam pada keluarga nya.
"Aku akan langsung membunuh mu tanpa menyiksa mu. Kalau kau memberi tau dimana keberadaan Kenan. Tapi kalau tidak, aku akan membuat mu merasa tersiksa dan ingin segera mati namun kematian enggan mendatangi mu, gimana? Kamu pilih yang mana?" Tanya Rafa menakuti agar Marcel mau mengaku.
"Ck, sama saja kau akan mati. Jadi terima saja. Jangan kasih tau!" Kenzo memprovokasi agar Kenan masih hidup dan bisa balas dendam kembali sama keluarga Sarfaraz.
__ADS_1
"Itu pilihan mu? Kalau iya aku akan memulai penyiksaan mu. Dari mana aku memulai? Haruskah....?" Rafa belum selesai berkata sudah di potong sama Marcel.
"Tidak.. Tidak.. Jangan! Akan aku beri tau, tapi kau harus memegang janji mu. Langsung bunuh aku tanpa harus menyiksa ku!" Kata Marcel sudah putus asa.
"Pilihan yang bijak. Tenang saja, aku adalah lelaki sejati yang akan menepati janji ku, jadi percayalah padaku." Kata Rafa.
"Aku menyekapnya di lantai bawah kantor pusat ku." Kata Marcel pasrah.
"Ck, bagaimana cara aku mengambilnya, kalau disana." Kata Rafa kesal sambil menendang kursi yang ada di depan nya.
"Aku akan menemani mu mengambilnya."
"Kau fikir aku akan percaya? Cepat telvon anak buah mu yang tersisa dan suruh bawa ketaman kota dalam keadaan tidak sadar. Ingat! Nyawa nya harus masih ada!" Gertak Rafa.
Marcel hanya bisa mengangguk pasrah. Rencananya untuk kabur pupus sudah.
Rafa kemudian menyuruh Roy untuk membawa Kenan dari taman kota.
"Bos, Kenan sudah ada pada ku." Kata Roy dari sambungan telepon.
Tanpa menunggu lama, Rafa langsung mengambil pedang tajam yang sudah ia siapkan.
"Kau mau langsung mati?" Tanya Rafa sambil mengelap pedangnya.
Marcel sudah tidak bisa berkata lagi dan pasrah ketika pedang itu menghunus lehernya.
"Ddukk." Bunyi kepala jatuh. Dan itu adalah kepada Marcel.
"Bawa dan kasih makan harimau peliharaan Leon." Rafa memerintah.
Tempat penyiksaan memang di buat khusus dekat harimau milik Leon, lagi lagi semua atas permintaan Leon.
Kenzo juga Lula memohon minta ampun. Mereka meraung dan meminta langsung di bunuh tanpa di siksa seperti Olaf.
"Kalian tunggu saja kedatangan Leon. Biar Leon yang memutuskan, hukuman paling pantas untuk kalian berdua." Kata Rafa kemudian meninggalkan tempat itu.
🌷🌷🌷🌷🌷
Setelah pulang dari Italia, Leon langsung mendatangi Serra dan memanjakannya.
__ADS_1
Serra sedang duduk di atas pagar dan Leon bersandar sambil memeluk pinggang Serra agar tidak terjatuh.
To be continued