Mengejar Cinta Mr Arogan

Mengejar Cinta Mr Arogan
Saingan Cinta 2


__ADS_3

Saat jam istirahat, Leon menyendiri dibelakang sekolah. Dia merenung. Hasil penyelidikan nya tentang Leona hanya sedikit.


Hanya ada data Leona Agustine, adik dari Olaf Agustin. Dan juga pendidikan Leona selama di Italia.


Leona memang murid yang jarang masuk sekolah, tapi Leona adalah siswa yang sangat pintar.


Kecantikan wajahnya menjadikannya 'Putri Sekolah', Leon juga mengakui kecantikan Leona.


Leon menyenderkan kepalanya ke tembok di belakangnya.


Leon memejamkan matanya dan berniat menghirup udara segar. Namun bukan udara segar yang ia dapat. Melainkan bau menyengat dari asap rokok.


"Ada yang merokok?" pikir Leon dalam hati.


Leon kemudian mencari ke segala arah, dan ternyata ada seorang gadis yang merokok di tengah semak-semak.


Dan yang paling mengejutkan lagi adalah yang sedang merokok adalah Leona!


"Leona." Panggil Leon.


Leona cukup terkejut ketika Leon datang tanpa ada suara sama sekali.


Leona sebenarnya takut kalau Leon mengadukannya pada guru, karna Leona sangat tau kalau Leon sangat berpengaruh dan murid kesayangan sekolah ini, pasti para guru akan percaya.


Walaupun takut, Leona tetap mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Ada apa?" Tanya Leona sambil menyesap lagi rokoknya.


"Kau merokok?" Tanya Leon kesal. Leon tidak tau mengapa ia tidak rela kalau murid baru ini merusak kesehatannya.


"Seperti yang kau lihat." Jawab Leona sambil memasukan lagi benda terlarang itu dalam mulutnya.


Namun sebelum Leona berhasil menyesap, Leon sudah mengambil rokok itu dan menginjaknya.


"Kau!" geram Leona. Leona melotot marah. Benda kesenangannya telah dibuang paksa.


"Apa!" Leon menjawab tidak mau kalah. Leon juga menatap tajam kearah Leona.


Mereka saling tatap seakan menunjukkan sikap saling menantang.


"Jangan ikut campur dalam urusan ku. Jaga batasan mu atau kau akan menyesalinya!" Hardik Leona marah.


"Aku tidak akan menyesalinya. Dan aku tidak takut." Tantang Leon. Ia ingin tau kekuatan gadis ini.


"Kau akan menyesalinya saat kau adalah korban kemarahan ku selanjutnya!" Ancam Leona masih dengan tatapan tajamnya.


"Kau fikir aku akan takut? Kau salah. Aku adalah orang yang tidak pernah mundur setelah mengambil sebuah keputusan." Ucap Leon dengan percaya dirinya.


"Cuih." Leona meludah kesebelah kirinya seakan mengejek ucapan Leon.

__ADS_1


"Beraninya kau meremehkan ku!" Teriak Leon.


Leon tidak terima dihina seperti itu, Leon kemudian menarik paksa tangan Leona.


"Lepas! Lepaskan tanganku! Atau kau akan kehilangan tangan mu!" Teriak Leona saat diseret Leon untuk kembali kedalam sekolah.


Leon tidak menjawab gertakan Leona dan masih menarik paksa tangan mungil namun ternyata bertenaga besar itu.


Namun entah mengapa, Leona tidak memberontak. Leona hanya berteriak tidak terima.


Padahal kalau Leona mau, Leon bisa saja mematahkan tangan Leon. Tapi hati kecil Leona merasa tidak akan sanggup untuk melakukannya.


Kenapa?


Leona sendiri tidak tau mengapa ia tidak tega menyakiti teman satu kelasnya yang menyebalkan, si jenius Leon.


Sepanjang perjalanan Leona selalu berteriak tidak terima, tapi tidak melawan. Leon yang merasa kalau telinganya bakal rusak pun memarahinya.


"Diam kau!" Leon mendelik kesal.


Nyali Leona menciut. Leona sangat takut dengan tatapan maut Leon.


Mereka pun sampai ke perpustakaan.


Ya, Leon mengajaknya ke perpustakaan. Sekalian untuk mengerjakan tugas.


"Kau sudah sarapan?" Tanya Leon dari hati kehati. Biasanya orang yang suka rokok jarang makan karna rokok bisa mengalihkan rasa ingin makan mereka.


"Bukan urusan mu." Leona merajuk.


Dari tatapannya, Leon tau kalau Leona belum sarapan.


"Ini. Makanlah. Setelah itu kita membahas tugas dari Bu Husna." Gertak Leon. Pokoknya gadis dihadapannya ini harus menuruti perintahnya.


"Ya." Jawab Leona cepat karna ia sangat takut dengan temperamen Leon.


Setelah meletakkan bekal yang dibuatkan Serra untuk dimakan Leona, Leon kemudian membaca buku yang sudah dibawanya.


Dan saat itu lah, Serra melihat pemandangan itu. Serra sangat lah terluka melihat bekal yang sudah ia buat dengan susah payah dimakan oleh wanita lain.


Dengan cepat Serra menghampiri dimana mereka berada.


Brakk


Serra menggebrak meja yang mereka gunakan masih disertai emosi yang membara dalam dirinya.


Leon kaget mendengar itu, langsung mendongak. Leona juga ikutan kaget sampai tersedak.


Leon dengan sigap langsung memberikan air minum untuk Leona.

__ADS_1


Serra semakin panas melihat pemandangan itu, ia cemburu. Mereka terlihat mesra, dan serasi. Leon sangat tampan. Dan Leona cantiknya luar biasa. Mereka akan menjadi pasangan yang sangat cocok.


"Kau.. Bisa tidak sopan sedikit!" Bentak Leon pada Serra.


Mata Serra berkaca-kaca mendengar Leon membela Leona. Leon memang sering membentaknya, tapi kali ini sangat lah mengena dalam ulu hatinya dan menyakitkan.


"Leon." Ucap Serra dengan suara serak.


"Pergi! Dan jangan temui aku lagi." Bentak Leon tepat didepan wajah Serra.


Serra mengusap air mata yang terlanjur mengalir di pipinya.


"Oke! Akan aku tunjukkan padamu. Aku pasti bisa berada di 50 besar tanpa bantuan mu!" Ucap Serra dengan lantang.


Serra menatap tajam Leona. Entah dapat keberanian dari mana Serra melakukan itu, tapi yang jelas Serra sangat terluka melihat kedekatan mereka.


"Ha.. ha... ha... ha..." Leon berteriak sangat kencang.


Pasalnya, selama ini Serra belajar sangat lambat dan menguras energi Leon untuk menjelaskan berulang kali.


Gadis bodoh ini ingin belajar sendiri? Mustahil sekali.


"Kau, kenapa menertawakan ku?" Serra tidak terima.


"Oh ya. Kau membuat ku merinding." ucap Leon seraya menggosok kedua bahunya seakan mengejek.


"Akan ku buktikan pada mu kalau aku bisa!" Teriak Serra putus asa. Ia sudah terlanjur melawan karna ia sedang dilanda cemburu.


"Lakukanlah." Ucap Leon menantang.


Semua siswa yang ada di perpustakaan yang berada disana melihat dengan jelas pertengkaran itu.


Serra sangat marah mendengar Leon menantang dirinya.


Dengan emosi yang memuncak, Serra menaiki meja yang ada disana dan berteriak.


"KALIAN SEMUA YANG ADA DISINI ADALAH SAKSI. INGAT. AKU SERRA, AKAN MENDAPATKAN 50 BESAR DALAM UJIAN NASIONAL TAHUN INI! DAN KAU..." Serra menunjuk dimana Leon berada.


"DAN KAU LEON. PADA SAAT ITU TIBA, KAU HARUS BERKENCAN DENGAN KU!" Teriak Serra masih dengan lantang.


Semua yang mendengar itu mencemooh apa yang Serra katakan. Karena mereka tau, otak Serra tidak lah seberapa.


Termasuk Leona juga menertawakan niat Serra.


Sedangkan Leon sangat malu. Bagaimana bisa gadis tolol, ceroboh bin bodoh ini tiba-tiba menjadi macan betina yang galak.


Lebih memalukan lagi gadis ini terang-terangan maksud tujuan dan ambisi hidupnya.


"Apa otaknya sedang geser? Dasar tidak tau malu. Malu-maluin orang saja!" gerutu Leon kesal pada sikap bar-bar Serra.

__ADS_1


"Bocah ini lucu sekali. Apa dia pacarnya Leon? Kalau iya sepertinya aku harus bekerja sama dengannya untuk melawan Leon." gumam Leona penuh dengan rencana licik dalam otak cerdasnya.


To be continued


__ADS_2