
Teman yang baik adalah teman yang tidak pernah lupa untuk mendo'akan kebaikan untuk temannya yang lain.
-Nur Halimah-
Hari demi hari telah berlalu, dan selama itu juga Nacita sering melihat Serra menghabiskan waktunya bersama dengan Leona.
Nacita sangat iri melihat itu.
Nacita semakin murka ketika mengingat sahabatnya itu telah melupakan dirinya.
"Serra, aku kangen nonton bioskop bareng kamu." Nacita mengajak Serra yang kebetulan saat itu sedang menghafal di dalam kelas saat istirahat.
Tidak ada murid lain yang mengganggunya, karna para temannya lebih suka bermain di luar dari pada bermalas-malasan di kelas.
"Bagaimana kalau nanti habis ujian saja, Cit. Soalnya aku harus mengejar ketertinggalan ku selama tiga tahun." Ucap Serra jujur. Karna memang sekarang yang ia butuhkan hanya satu, nilai yang bagus dan masuk universitas.
"Tapi aku pengennya sekarang!" Nacita sudah kehabisan kesabaran.
"Tapi Cit, aku..." belum selesai Serra berucap udah di potong sama Nacita.
__ADS_1
"Nanti sepulang sekolah kita main atau tidak sama sekali!" Bentak Nacita.
"Ngga bisa gitu dong Cit, aku harus mengejar mimpi ku..."
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan mu." Ucap Nacita kemudian sambil bergegas kembali ke bangku nya.
Serra merasa tidak enak dan mencoba untuk menyusul Nacita.
"Nacita, aku minta maaf ya, selama ini aku hanya mengingat ambisi ku sampai melupakan teman yang sangat baik seperti kamu." Sesal Serra, mendudukkan bokong nya di kursi depan bangku Nacita.
Nacita tetap bungkam dan pura pura baca buku yang sudah ia ambil dalam tas.
"Ya." Desak Serra lagi saat Nacita masih bungkam.
"Janji ya." Ucap Nacita masih menunjukkan wajah ngambek nya.
"Iya. Aku janji. Aku akan muncak nanti bareng kamu. Kamu maaf kan aku kan? Aku ngga bermaksud melupakan kamu." Jelas Serra berharap temannya ini mengerti keadaan nya.
"Ya. Aku faham kok. Ya sudah. Lagian sudah ada Ara yang bisa gantiin posisi kamu sementara ini." Ucap Nacita memaksakan senyumnya.
__ADS_1
Padahal Nacita masih kecewa dengan sahabatnya ini.
"Gimana kalau kita belajar bersama untuk Ujian Nasional nanti. Kau mau kan?" Serra berharap agar gadis ini tidak bosan
"Aku sibuk. Tidak ada waktu untuk belajar. Kau tau kan kalau aku punya bisnis online sendiri." Ucap Nacita menolak halus. Padahal dalam hati ia sedang malas belajar.
"Sayang sekali. Nacita, belajar itu bukan di saat kita sedang ada waktu luang. Tapi meluangkan waktu kita untuk belajar." Tutur Serra yang masih mengharapkan agar Nacita mempunyai niat untuk belajar.
"Em.. Tapi sulit untuk aku. Pesanan ku banyak, dan aku kerepotan menanggapi mereka semua. Jadi maafkan aku, ya." Ucap Nacita masih menolak.
"Kalau kau sesibuk itu, bagaimana bisa kau bosan hanya karna aku menghabiskan waktu untuk belajar dari pada bersama mu?" pikir Serra dalam hati.
"Ya sudah kamu kembali saja ke tempat duduk mu." Ucap Nacita sedikit mengusir.
"Ya."
Serra pun berjalan kembali ke kursi miliknya. Netranya masih menatap sahabatnya yang pura pura sibuk membaca buku.
"Belajar itu di awali dengan niat dan usaha. Apa kamu hanya mencari alasan agar tidak di suruh belajar dan memilih bermain? semoga kamu termasuk orang yang sukses suatu saat nanti sahabat ku. Semoga bisnis mu semakin berjalan walau kau tidak mau mengasah kemampuan mu lagi." Pikir Serra membatin.
__ADS_1
To be continued