Mengejar Cinta Mr Arogan

Mengejar Cinta Mr Arogan
Sarfaraz Family


__ADS_3

Zila kala itu heboh memasak saat tau ketiga anaknya akan pulang. Sesekali Zila mencicipi rasa dari makanan nya sambil menangis.


Zila selalu menanti kan moment indah ini sejak bertahun-tahun.


Kemudian Zila dan Rafa bersiap menyambut kepulangan para jagoan mereka yang sudah besar. Fanny juga ada disana.


"Oh ya tuhan... Anak ku." Zila memekik bahagia Zila pun menangis memeluk Leona. Putrinya.


"Leona. Leona." Zila memeluk erat kemudian menciumi seluruh wajah anak perempuan yang sangat ia rindukan.


"Sayang, bagaimana keadaan mu?" Tanya Zila sambil memutar tubuh Leona, Zila berharap tidak ada yang lecet sedikit pun.


"Mommy, berhentilah membuat Leona pusing." Ucap Leo, kesal.


"Mommy hanya ingin memastikan kalau anak mommy ini baik-baik saja." Ucap Zila kemudian mengajak mereka semua masuk.


"Leona, ini adalah ayam goreng kesukaan mu. Kau mau yang lain, mommy akan beli dan memasakkan nya untuk mu." Zila mencoba memberi perhatian sebanyak mungkin pada anaknya, walau tidak bisa menebus waktu yang sudah terbuang lama.


"Mom, jangan bikin kesel deh, yang di atas meja ini sudah banyak makanan. Ada cumi, udang, ayam, daging, capcai, lihat. Masih banyak menu lainnya. Siapa yang akan menghabiskannya?" Sungut Leo.

__ADS_1


"Hubby," Fanny mengelus suaminya yang entah mengapa berubah menjadi sangat cerewet. Padahal dulu selalu bersikap dingin pada Fanny.


Sekarang hubungan mereka sudah membaik.


"Iya, iya, Leo. Ya sudah kalau begitu semua yang ada di atas meja harus habis!" Zila berkata seperti itu karna merajuk.


"Yang benar saja! Semua yang mommy masak ini dalam porsi besar, bagaimana cara kita menghabiskan nya." Leo protes, mommy nya ini.


"Kau sudah kembali boy." Ucap Rafa dalam hati sambil tersenyum saat melihat Leo kembali cerewet seperti dulu.


"Tenang saja, akan ada yang membantu kita untuk menghabiskan nya." Ucap Zila. Zila sengaja masak porsi banyak karna mengundang kakek nenek para jagoan nya.


"Kakek, nenek. Grandma, Grandpa." Ucap Leo girang, Leo sangat senang melihat para tetua keluarga Sarfaraz.


Susi, Arief, ayah Zila dan Ibu Zila sangat antusias melihat cucu mereka kembali.


"Leon! Leona!" Para nenek sangat antusias menyambut dan memeluk satu persatu cucunya.


Leona sebenarnya sedikit sesak saat di peluk begitu erat, tapi ia tidak mau menyakiti hati wanita tua ini.

__ADS_1


"Ya Tuhan, keluarga ku ternyata sangat hangat. Entah mengapa aku menyesali waktu yang sudah aku habiskan sendiri. Andaikan saja aku bertemu mereka lebih awal." Pikir Leona dalam hati.


Malam itu mereka habiskan dengan bercanda tawa. Leon adalah bahan perbincangan mereka karna sifat dingin dan arogan nya masih melekat.


Tak jarang pula Leo menggoda Leon agar segera menyusul untuk memberi ayah dan ibu mereka seorang menantu.


"Aku akan membawa gadis ku pulang." Ucap Leon yang mampu membuat Leo kesal dan memukul pelan punggung Leon dengan guling empuk yang di pegangnya.


"Tidak perlu terburu-buru Leon, seharusnya Leona dulu yang memberikan mantu laki-laki untuk keluarga Sarfaraz." Ucap sang ayah.


"Ya dad. Aku penasaran, seperti apa nanti jodoh Leona." Ucap Leo dengan tengil. Pasalnya, selain cerewet, Leona juga sangat galak.


Leo tergelak mendengar isi pikirannya tentang Leona.


Sedangkan Leona yang merasa di tertawakan hanya bisa menggigit cemilannya dengan keras pertanda dia tidak terima.


Begitu lah cara ketiga saudara itu menunjukkan keakrabannya.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2