Mengejar Cintamu

Mengejar Cintamu
Chapter 9 Pencarian Mama Krystal


__ADS_3

Keesokan harinya ketika hari masih gelap, Mama Dion terkejut ketika berpapasan dengan Dion di ruang tengah.


"Masya Allah, Dion bikin kaget mama saja. Biasanya jam segini kamu masih tidur."


"Mau temani Krystal mencari ibu dan kakaknya, Ma."


"Kalau begitu kamu bantu Mama siapkan sarapan ya.."


Belum lima menit, Dion sudah menyandarkan kepalanya di meja makan. Dia tertidur.


"Ya ampun, Dion. Malah tertidur di meja makan."


"Pagi, Bibi..." Krystal tiba-tiba muncul dan berseru nyaring. Mama Dion buru-buru menaruh telunjuk dibibirnya isyarat agar Krystal tidak bersuara, lalu menunjuk Dion yang tengah tertidur.


"Mungkin karena semalam Dion begadang, Bi. Maafkan aku, gara-gara aku Dion ikut begadang."


"Tidak apa-apa sayang. Bibi malah senang, karena kehadiranmu, Dion tidak malas-malasan lagi. Bibi serasa memiliki seorang anak. Oh, ya temani Dion ya, Bibi mau mengurusi paman dulu."


Dion akhirnya terbangun. Dia terkejut lalu buru-buru berlari ke kamarnya, Krystal hanya tertawa menyaksikan tingkahnya.


"Target kita hari ini siapa,Dion?" Tanya Krystal ketika mereka tiba di Perpustakaan Umum.


"Namanya Aisyah, jam segini dia biasa ada disini membaca buku."


Tidak lama kemudian, Aisyah muncul. Gadis itu menghampiri Dion. Sorot mata cemburu hadir ketika Aisyah melihat Krystal.


"Dion, ada yang ingin aku tanyakan."


Mereka berdua lalu menjauh dari Krystal.


"Dion, ayahku menjodohkan aku dengan seseorang yang tidak aku suka. Bagaimana ini, Dion? Apakah sebaiknya kamu meminta membatalkan niatnya menjodohkan aku?"


Dion tersenyum dalam hati, baguslah aku tidak perlu bersusah payah memutuskanmu..


"Aku tidak bisa menghalangi niat ayahmu, Aisyah. Aku belum kepikiran untuk menikah. Lagipula pilihan ayahmu pasti orangnya baik. Tidak mungkin ayahmu mencari menantu yang tidak sesuai denganmu. Ini kesempatanmu untuk membahagiakan orang tuamu."


"Hanya seperti ini sikapmu, Dion? Kamu langsung menyerah dan tidak menahanku?"


"Ayahmu tidak menyukaiku, Syah. Kamu sendiri tahu itu."


"Aku kecewa padamu, Dion. Tadinya kupikir kamu akan memperjuangkan aku. Ternyata aku salah. Kamu sama sekali tidak mencintai aku. Assalamu Alaikum.."


"Wa Alaikum Salam. Semoga kamu bahagia, Aisyah."


"Tidak ada adegan kekerasan. Kamu selamat kali ini, Dion.." Krystal menghampiri Dion.


Di tempat lain, ketika mereka tengah menanti target berikutnya, seorang gadis mendekati mereka, dia sangat rapi dan terlihat tegang. "Dion?


"Kamu sudah datang rani, silahkan duduk.


Tanpa menjawab pertanyaan dion, rani duduk dan matanya tak lepas memandangi satu-satunya wanita yang sedari tadi bersama dion, pandangan sinis tak disembunyikan rani, dia seolah ingin menelan mangsa,"Siapa wanita itu?


"Dia temanku dari Bandung.


"Oh begitu? Jadi benar kata orang.


"Apa maksud kamu?

__ADS_1


"Aku mendengar gossip tentang kamu.


"Gosip apa?


"Sudahlah dion jangan berpura-pura, kamu selama ini memiliki banyak pacar kan?


"Iya kamu benar, tapi siapa yang memberitahumu?


"Kamu bahkan mengakuinya, tanpa mengelak sedikitpun.


"Tentu saja, karena aku memang seperti itu.


"Aku mendengarnya dari temanku, awalnya aku tidak percaya, saat mereka memperingatiku jika kau adalah lelaki playboy. Aku berusaha mempercayaimu, aku yakin semua yang kudengar bohong, tapi disini kamu mengakuinya tanpa member alas an sedikitpun padaku.


"Kamu memang anak seorang pengacara, kamu pandai mengatakan hal yang akan memuat orang lemah, tapi maaf ran, aku tidak bias memberi jawaban yang kamu inginkan, satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak pernah mencintaimu, jadi mari kita akhiri kisah kita yang penuh dengan kebohongan.


Rani yang mulai meneteskan air matanya kini menghapus air matanya, dia mendekati dion dan menamparnya,"Kamu tidak seharusnya mempermainkan wanita dion, aku selama ini sangat mencintaimu, bahkan aku bertingkah seperti anak kecil saat di depanmu, tapi satu hal yang kusadari, kau sangatlah pengecut. Setelah menampar dan member wejangan, rani meninggalkan mereka berdua, dion kemudian menghela nafasnya dalam,"Dia mengatakan apa yang benar, tapi kali ini setidaknya aku tidak mendengar perkataan mamanya.


Dion dan krystal tak berhenti di sini saja, kini mereka berdua berjalan ke kampus mencari sosok bella, tak lama kemudian akhirnya dion menemukan bella, krystal yang tak mengenal sosok bella terlihat bingung saat dion menunjuk kearah kumpulan gadis-gadis yang berteduh di bawah pohon,"Bella ada disana krystal, ayo kita temui dia.


"Tidak, kamu saja yang pergi, aku akan menunggumu disini.


"Baiklah.


Dion menghampiri bella saat bella bersama dengan teman-temannya,


"Dion?


Bella menyapa dion, dia terlihat sangat girang,


"Dion bagaimana liburanmu di Bandung? Apa menyenangkan? Aku rindu padamu, kenapa kamu tidak pernah menelponku saat di Bandung?


"Kamu ngomong apa sih dion? Apa kamu cemburu?


"Tentu saja tidak, liburanku di Bandung sangat menyenangkan, seperti yang kamu pikirkan, tapi selama di sana aku menyadari sesuatu.


"Apa itu? Kedengarannya menyenangkan. Bella begitu antusias menunggu cerita dion.


"Aku menyadari, bahwa seharusnya kita tidak menjalani hubungan yang seperti ini bella.


"Apa maksud kamu? Apa kamu tahu jika selama ini, aku suka selingkuh di belakangmu? Siapa yang memberitahumu dion?


"Tak perlu ada yang memberitahuku rani, sudah terlihat jelas, kamu bahakn selingku terang-terangan di depanku, tapi kali ini bukan alasannya, hanya saja aku merasa apa yang kita jalani sekarang adalah salah, jadi mari kita putus.


"Lalu bagaimana denganmu? Aku yang playgirl bukankah tak ada bedanya denganmu yang juga seorang playboy?


"Jadi kamu tahu, saat kamu tahu kenapa kamu tetap saja ingin jalan denganku?


"Alasanmu sama denganku, hanya untuk membuang waktu dan bersenang-senang.


"Untuk itu mari kita akhiri semua ini, maaf sudah membuatmu menjadi salah satu dari wanita yang aku permainkan, bella kuharap kamu juga meninggalkan semua yang kamu lakukan, aku yakin suatu saat kamu akan menemukan cinta sejatimu, dan selamat tinggal, dion meninggalkan bella yang bersedih Karena diputuskan oleh dion.


Waktu terus bergulir. Dion dan Krystal mendatangi pacar-pacar Dion. Gita yang suka memanfaatkan dion, tak percaya Dion memutuskannya, kini tidak ada lagi yang membayarkan barangnya tanpa marah terlebih dahulu, dion juga tidak kena tampar oleh gita, itu sungguh melegahkan. Cica kini tidak bisa tertawa seperti ciri khasnya, kini wajah riangnya terhapus oleh kata-kata sedih yang tak pernah di bayangkan akan dilontarkan oleh dion untuknya, dion yang mengatakan kata putus padanya, membuatnya terlihat menyedihkan sedangkan Dilla yang juga telah diputuskan oleh Dion, awalnya tertawa, dia menyakini jika dion sedang mengusilinya, karena dia juga sering mengusuli dion setiap saat dia ada waktu, tapi ketika dia bertanya lagi, dion membenarkan dan itu membuatnya bersedih dan menangis.


"Dion? Kamu serius ingin putus denganku?


"Iya, aku serius.

__ADS_1


"Tapi kenapa?


"Karena aku tidak pernah menyukaimu apalagi mencintaimu, semua yang kita lalui selama ini, semua hanyalah karena aku ingin bersenang-senang dan dengan pergi bersamamu membuat hariku tidak bosan.


Mendengar perkataan dion, satu tamparan dilayangkan dilla pada wajah dion, itu adalah salam perpisahan dari dilla untuk dion. Masih ada beberapa gadis lagi dan itu bukan hal yang sulit bagi Dion.


"Krystal, sekarang kita harus kemana mencari ibu dan kakakmu?"


"Aku juga bingung, Dion. Jakarta terlalu luas. Bagaimana cara kita menemukan mereka?"


"Kita harus berpikir positif. Kita pasti menemukan mereka."


Setelah berputar-putar mencari alamat yang tertera di kertas, Krystal dan Dion kemudian turun dari mobil.


"Semoga benar ini rumahnya."


Dion lalu mengetuk pintu.


Seorang anak perempuan berusia sekitar 12 tahun membuka pintu.


"Assalamu Alaikum adek."


"Wa Alaikum Salam. Kakak mencari siapa?"


"Apa benar disini rumahnya ibu Hilda?"


"Ehm... siapa ya?"


"Siapa diluar, Nak? Siapa yang mereka cari?" Suara serak terdengar dari dalam. Tidak lama muncullah seorang lelaki tua.


"Anak berdua mencari Ibu Hilda?" Dion mengangguk.


"Ayo silahkan masuk."


Dion dan Krystal kemudian masuk dan duduk di ruang tamu.


"Pemilik rumah ini dulu adalah ibu Hilda. Kemudian bapak membelinya."


"Jadi benar, mama dan kakak pernah tinggal dirumah ini?"


"Benar, Nak. Tapi lima tahun yang lalu mereka pindah."


Krystal menangis.


"Maaf, pak. Teman saya ini anak dari ibu Hilda."


"Oh, ya? Ibu kamu sangat baik pada kami. Waktu itu uang bapak tidak cukup. Tapi ibumu tidak keberatan. Bapak berniat membayar sisanya jika sudah punya uang."


"Bapak tahu alamatnya?"


"Iya. Karena bapak mencatatnya, Nak. Karena bapak masih ada utang, beberapa kali bapak mengunjungi ibumu untuk melunasi sisanya."


Di mobil Dion dan Krystal saling diam. Keduanya termenung.


"Lagi-lagi aku tidak menemukan ibuku."


"Lebih baik kita pulang dulu, Krystal. Setidaknya sudah ada alamat yang diberikan bapak itu pada kita."

__ADS_1


Krystal mengangguk. Mobil kemudian melaju melewati sore yang mulai dihiasi langit berwarna jingga.


__ADS_2